16 Januari 2011

Untuk Adik Kelasku, Gayus

Oleh: HERI PRABOWO*

ADA anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Pumomo, ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkirkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M Tjiptardjo. Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

2222222222222

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembab mafia pajak dan berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kila mulai untuk menapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam.

Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp I (X) miliar disita. Tapi, Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).

Muda, berduit, dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. Bahkan, saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seeksklusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan-kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan di sana. Saya berbangga. Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggaan yang semu di tengah hujan cercaan.

Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh sama, lapi mereka cerdik, berpengalaman, dan punya network luas. Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.

Dengan latar belakang keluarga kurang beruntung secara ekonomi dan broken home. Gayustelah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.

Kampus dipenuhi mahasiswa duri golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (laman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu, kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa kami bisa jadi pencinta kemewahan?
Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saal bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kayabaru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memperoleh kesempatan.

Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus lidak menyia-nyiakan kesempatan. Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia “beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.

Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja.

Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan. Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri ini.
Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olokan sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air mata.
Kejengkelan muncul saat para bos mafia-mafia besar, justru nyaris udak tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk mengiringinya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya.
Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin juga jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin lidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri, dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan kita Meskipun, kini engkau merasa jadi kambing hitam.
Jika saya boleh memberikan nasihat. ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembab dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalanya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit.(sumber:Indo Pos/RIMA)
________________________________________
*) Alumnus STAN 1996. penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak
sumber : Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

11 Januari 2011

Tes analogika | Hikmah dibalik peristiwa

Pagi ini aku mendapatkan sms :

"TES ANALOGIKA, Baca baik2..
"Pagi-pagi aku ada 2"
"Siang aku cuma ada 1"
"Kalo malam aku nggak ada"
"aku ada diujung api"
dan
"aku ada ditengah-tengah air"
"aku punya kepala, sayangnya aku tak punya leher"
dan kalau aku sudah besar dan tinggi biasanya kepalaku hilang"

tanpa aku dunia dan cinta tidak akan ada"

SIAPAKAH AKU?

(kalau bisa jawab berarti kamu orangnya teliti)


Menarik bukan?? yah cukup untuk menggelitik otak logika kita mungkin. Ingin tahu jawabannya ??

apa matahari ya?? tapi cuma 1 dipagi hari
atau

bayanganku?? tapi apa hubungannya dengan "cinta dan dunia"

aduh... pusing banget... 
(mikirnya jauh amat...)

mau tahu jawabannya???
lanjutin bacanya...

23 Desember 2010

Apatis


Pagi ini aku bertemu dengan kata apatis ini. Kebetulan kali ini objek atau sasaran kata sifat atau label ini dilekatkan padaku. Apatis, atau apatisme, atau yang mirip2 dengan itu...
Bukan kali pertama aku mendengar kata-kata ini, bahkan sesekali mungkin aku sendri yang mengucapkannya. Namun, ketika itu objek pembicaraannya adalah orang lain, bukan orang secara spesifik, tapi orang secara jamak. Atau sebut saja "segolongan orang" yang memiliki persamaan tertentu. Bisa jadi orang-orang yang sama-sama cuek dengan pekerjaanku dan rekan-rekan ku ketika masih berada di Lembaga Dakwah, atau orang-orang yang menentang pekerjaan kami selaku dai. Kami sebut mereka sebagai bagian dari golongan orang-orang "apatis".

Dari : http://www.artikata.com/arti-319380-apatis.php : Mengatakan arti apatis berarti kata sifat :
1. acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh: kita tidak boleh bersikap -- thd usaha pembangunan Pemerintah

dan kali ini....
Kali ini, label itu terucapkan padaku...

Sebabnya adalah, karena keputusanku untuk "memilih" abstain pada pesta demokrasi di Kampusku. Kampus Biru-ku, saat ini sedang menduplikat habis-habisan sistem pemerintahan Indonesia. Segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan di kampus, merasa "harus" diwajibkan untuk sesuai dengan sistem pemerintahan Negara. Kau tahu?? Demokrasi. 
Kalau bangsa indonesia punya istilah PEMILU, kampusku memakai nama PEMIRA (pemilihan Raya), bahkan kami juga punya presiden lengkap dengan kabinet-kabinetnya. Untuk maju menjadi calon pemimpin organisasi pun, kami sudah lihai untuk meniru para pemimpin negara kita untuk berkampanye. Bahkan lebih keren lagi, maklumlah . . . anak-anak muda jaman sekarang lebih kreatif. Tidak hanya sekedar memasang foto raksasa berukuran baliho dan berpose ala "manten" (pake jas, pake kopiah, dasi dan ditambah sedikit mesem). Baliho para calon pemimpin kami lebih keren!! ada yang mirip poster pemilihan model, mirip iklan film, mirip poster jualan di internet, ada yang bikin buletin, yang isinya pujian-pujian untuk calon yang dijunjung. de el el lah... 

yang jelas, kalo dalam hal seperti ini, kami para mahasiswa sudah jauh lebih ahli daripada calon-calon pemimpin negara sewaktu berkampanye. Kalo masalah kepemimpinan... hmmm... siapa yang tahu?

Dan diantara sekian banyak pilihan calon aku memilih : ABSTAIN.
Orang menganggap tidak memilih itu berarti tidak punya pilihan, tidak peduli, cuek, masa bodoh dengan persoalan lingkungannya. atau Apatis itu...

Tapi, siapa bilang abstain bukan pilihan?

Mungkin suaraku untuk abstain larut bersama suara-suara orang abstain yang benar-benar apatis, atau memang tidak tahu ada yang namanya pemira, atau ikut melebur dengan mbah-mbah mahasiswa yang sibuk dengan Tugas Akhirnya, sampai-sampai jarang melihat kanan-dan-kiri. Padahal bilik-bilik suara segede penjual angkringan sudah berjajar dengan pedenya di spot-spot strategis kampus.

Tapi biarlah, ini suaraku. 

Tadinya sempat terpikir untuk jail. bikin kontroversi sekali-sekali. Biar suara abstain ini terdengar lantang. 
Aku pernah berpikir untuk tetap mempergunakan surat suaraku (gak tahu berapa harga satu set surat suara itu, bikin boros aja).
Dan akan kutulis besar-besar di kertas itu : 

AKU ABSTAIN. KARENA AKU BENCI DEMOKRASI, KARENA ALLAH SUBHANAHUWATA'ALA.

Aku ingin mengikuti jejak utusanNya, yang tidak pernah berdamai sedikitpun dengan pemerintahan kufur dan sistem-sistemnya.

Terserah orang mau bilang apa...

apatis? siapa takut!!!

21 Desember 2010

Belajar Menulis

******************
Bicara itu memang gampang, terlalu gampang bahkan. Tidak perlu berlatih untuk bicara, toh bahan obrolan akan datang dengan sendirinya. 2 jam, 3 jam terasa sebentar kalau sudah ngobrol. Apalagi jika bergosip, uhhh, atau pun membicarakan update berita terbaru di tivi, di koran, atau pun sekedar membahas aktivitas dunia maya masing-masing. Yang fesbukan lah, yang twittiian lah, atau chatting lah...



Sepertinya enteng saja untuk bicara.





Bagaimana kalau kita coba untuk menulis?? setengah halaman A4 ukuran font ini pun rasanya jauh lebih berat, walaupun ini relatif, tapi mari kita bicara sesuatu yang umum. Umumnya, menulis lebih susah daripada berbicara, ataupun berpidato, ataupun berdiskusi. Coba saja.



Silahkan kamu rangkum diskusimu dengan teman-teman di kampus dalam bentuk tulisan. Biasanya, ditengah-tengah penulisan kamu akan berpikir : "Lho.. kok cuma dikit ya tulisannya?? Rasanya kok biasa-biasa saja hasilnya, padahal pembicaraan tadi begitu seru". Atau disebuah perdebatan yang seru antara kamu dan rekanmu, silahkan tuliskan, hasilnya kemungkinan besar mirip dengan kasus sebelumnya.

Apa rahasianya?

Sebelum melanjutkan bahasan, saya bahas dulu, kenapa kasus diatas bisa terjadi.

Ketika berdiskusi atau berdebat cenderung banyak kata-kata mubazir yang dikeluarkan, padahal inti pembicaraan hanya sedikit. Apalagi kalo sudah dalam hal berdiskusi, kita cenderung mendapati banyak pendapat, yang mungkin saja hanya pengulangan dari pendapat sebelumnya, ataupun hanya penegasan, atau pun pendapat yang sangat bertentangan dengan pendapatmu, sehingga kamu cenderung mengabaikannya, dan membuatmu "mengeluarkan" kata-kata mubazir lagi. tidak ada bahan baru.

Intinya cuma sekitar itu saja.

Jika ingin tulisanmu meningkat kualitasnya, ingat-ingat saja hal-hal yang bisa membuat obrolanmu semakin hangat, semakin lama. Bisa jadi point yang dibahas pada tulisanmu hanya sedikit, namun kamu bisa mengembangkannya dengan menambahkan penguatan-penguatan disana-sini, pengulangan-pengulangan dan membahas panjang-lebar contoh-contoh kasus yang terkait dengan tema tulisanmu.

Nulis itu semudah ngomong.

Seperti misalnya pada suatu kesempatan, saya menyampaikan materi pada suatu forum pengajian. Saya hanya mempunyai tema tunggal : Memahami Islam dengan dalil-dalilnya. Jika saya jabarkan isinya, secara sederhana adalah :

Islam itu agama yang belandaskan dalil yang berasal dari Allah yaitu Al-Qur'an dan dari Rasulullah Shollallahu 'alayhi wassalam berupa hadist.
Kenapa banyak terjadi perbedaan dalam beribadah dan memahami dalil?
Karena kurangnya ilmu, karena Nafsu dalam memahami dalil, malas mempelajarinya, terlalu mudah berhuznudzon.

itu inti pembicaraanyya, namun saya berhasil membuat forum saya terjaga dari rasa ngantuk, dan tumbuh antusiasmenya, bahkan sangat antusias malah. Mereka dengan sungguh-sungguh mendengarkan materi yang saya sampaikan. Rahasianya adalah dengan memberikan contoh atau realita yang ada terkait dengan materi yang sedang dibahas. Lebih bagus kalau sebagian besar peserta forum mengerti ataupun pernah mengalami contoh yang dibahas.

Begitu pula dengan tulisan kamu. Kamu harus jeli membidik bahan tulisan yang menarik dan membuat pembaca tidak bosan dengan tulisanmu. Berikan pengulangan, penekanan, contoh, bahkan berikan ilustrasi juga bagus. Jika perlu gunakan media seperti gambar atau yang lainnya.

Sederhana saja. Kamu bisa mencobanya. Mulailah belajar menulis, tanpa perlu takut dan tanpa perlu rendah diri. Kamu bisa mulai dengan sebuah blog, atau bisa dengan menulis buku harian. Dengan terus menulis niscaya kualitas tulisanmu akan meningkat. Contohlah penulis-penulis besar sekarang, ada dari mereka yang mampu menulis karya yang bagus, karena kebiasaannya untuk selalu menulis di buku hariannya tiap hari. Bahkan ia merasa dirinya "butuh" menulis, nyaris mendekati kecanduan.

Jangan takut mencoba.

Followers!!