08 Februari 2011

Ilmu ke-1 : Selalu mempunyai NILAI TAMBAH | 24 Ilmu MILYADER

Dari hasil iseng2 buka2 buku di laptop kakak, admin nemu buku yang bagus, sebagai sharing ke seluruh pembaca admin akan mempostingnya per bab. Buku ini karangan Tung Desem Waringin, semoga beliau tidak berkeberatan saya menuliskannya di blog ini.

Ilmu ke-1: Selalu Mempunyai Nilai Tambah
Seperti seekor lebah pd waktu dia mencari madu, tanpa disadari ketika ia sampai di bunga, dan kemudian bunga tadi diambil madunya, lebah tadi menyebarkan serbuk sari dari bunga-bunga tadi, yang membuat bunga-bunga tadi menjadi buah.
Demikian juga orang yang kaya yang mencerahkan, tujuan utamanya persis seperti lebah yaitu mencari sari madunya. Efek sampingnya ternyata ia membuat kebun buah yang begitu indahnya.

Orang yang kaya juga mau mencari kekayaan, tujuannya adalah mencari uang. Dalam waktu mencari uang, ternyata ia mencerahkan dan membuat dunia ini menjadi lebihbaik, membuat orang lain menjadi bersemangat, membuat orang lain jadi lebih kaya, membuat orang lain hidupnya jadi lebih indah, lebih sehat, lebih bahagia.
Ilmu 1: Orang kaya yang mencerahkan selalu mempunyai Nilai Tambah
Apa maksudnya Nilai Tambah? Maksudnya begini: ketika anda hidup, hidup adalah nilai tambah. ketika semua orang hidup, hidup adalah nilai standard. Demikian juga ketika kita jujur, jujur adalah nilai tambah. Tetapi ketika semua orang jujur, jujuradalah nilai standard.

Dalam hidup kita harus mempunyai nilai tambah dibanding orang lain. Kita harus membuat nilai tambah dari sesuatu hal yang tidak ada menjadi ada. Jaman dahulu pada saat nabi Abaraham/Ibrahim, pada waktu ia membuat nilai tambah sedemikian sehingga satu gandum menjadi 2 gandum, 2 domba menjadi puluhan bahkan ratusan domba, demikianlah ia membuat dari tidak ada menjadi ada.

Nah, orang-orang yang kaya tahu bahwa ia mempunyai nilai tambah dalam hidup ini: ia membuat service yang bagus dalam bengkelnya, membuat harga lebih murah sedemikian sehingga orang mendapatkan keuntungan saat datang ketempat dia, atau rumah makan dengan rasa yang enak, bergizi, dan sehat. Apapun di dalam hidup ini, kita harus membuat nilai tambah. Dan ketika ada nilai tambah, kita akan jadi kaya.

Seperti definisi uang itu sendiri, uang adalah alat tukar nilai tambah. Ketika kita mau dapatkan uang yang banyak, kita harus selalu tanya: "Apa Nilai Tambah Kita?" Ketika kita berhasil membuat nilai tambah yang lebih banyak dari orang lain, maka uang akan mengejar kita.

Contoh, seperti saya (Tung Desem Waringin) ketika meluncurkan buku Financial Revolution, saya buat nilai tambah. Ketika saya percaya dalam hidup ini adalah membuat nilai tambah dan uang adalah alat tukar nilai tambah, saya membuat buku Financial Revolution yang mempunyai nilai tambah: selain materinya bagus, juga
ada 2 cd audio tambahan yang tidak ada di buku yang lain di seluruh dunia. 2 cd audio, satu adalah CD Financial Revolution, dan yang kedua adalah CD Sales Magic, Bagaimana Menjual Sepotong Roti Tawar dengan Harga 300 Juta, dan Orang Masih Berebut.

CD audionya bisa saya jual tersendiri, tapi itu tidak saya lakukan. Saya menambahkan secara gratis dalam bukunya, dan itu membuat bukunya Best Seller rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena saya fokus pada satu hal. Ketika saya membuat nilai tambah tanpa merugikan diri saya, dengan setulus hati saya berikan 2 cd audio tadi, mendadak bukunya laku 10.511 buku hanya di hari pertama secara Eceran.
Kembali lagi, apabila kita ingin kaya, selalu tanya 'Apa Nilai Tambah Saya?'.

16 Januari 2011

Untuk Adik Kelasku, Gayus

Oleh: HERI PRABOWO*

ADA anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Pumomo, ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkirkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M Tjiptardjo. Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

2222222222222

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembab mafia pajak dan berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kila mulai untuk menapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam.

Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp I (X) miliar disita. Tapi, Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).

Muda, berduit, dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. Bahkan, saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seeksklusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan-kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan di sana. Saya berbangga. Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggaan yang semu di tengah hujan cercaan.

Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh sama, lapi mereka cerdik, berpengalaman, dan punya network luas. Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.

Dengan latar belakang keluarga kurang beruntung secara ekonomi dan broken home. Gayustelah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.

Kampus dipenuhi mahasiswa duri golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (laman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu, kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa kami bisa jadi pencinta kemewahan?
Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saal bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kayabaru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memperoleh kesempatan.

Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus lidak menyia-nyiakan kesempatan. Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia “beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.

Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja.

Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan. Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri ini.
Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olokan sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air mata.
Kejengkelan muncul saat para bos mafia-mafia besar, justru nyaris udak tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk mengiringinya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya.
Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin juga jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin lidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri, dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan kita Meskipun, kini engkau merasa jadi kambing hitam.
Jika saya boleh memberikan nasihat. ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembab dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalanya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit.(sumber:Indo Pos/RIMA)
________________________________________
*) Alumnus STAN 1996. penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak
sumber : Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

11 Januari 2011

Tes analogika | Hikmah dibalik peristiwa

Pagi ini aku mendapatkan sms :

"TES ANALOGIKA, Baca baik2..
"Pagi-pagi aku ada 2"
"Siang aku cuma ada 1"
"Kalo malam aku nggak ada"
"aku ada diujung api"
dan
"aku ada ditengah-tengah air"
"aku punya kepala, sayangnya aku tak punya leher"
dan kalau aku sudah besar dan tinggi biasanya kepalaku hilang"

tanpa aku dunia dan cinta tidak akan ada"

SIAPAKAH AKU?

(kalau bisa jawab berarti kamu orangnya teliti)


Menarik bukan?? yah cukup untuk menggelitik otak logika kita mungkin. Ingin tahu jawabannya ??

apa matahari ya?? tapi cuma 1 dipagi hari
atau

bayanganku?? tapi apa hubungannya dengan "cinta dan dunia"

aduh... pusing banget... 
(mikirnya jauh amat...)

mau tahu jawabannya???
lanjutin bacanya...

23 Desember 2010

Apatis


Pagi ini aku bertemu dengan kata apatis ini. Kebetulan kali ini objek atau sasaran kata sifat atau label ini dilekatkan padaku. Apatis, atau apatisme, atau yang mirip2 dengan itu...
Bukan kali pertama aku mendengar kata-kata ini, bahkan sesekali mungkin aku sendri yang mengucapkannya. Namun, ketika itu objek pembicaraannya adalah orang lain, bukan orang secara spesifik, tapi orang secara jamak. Atau sebut saja "segolongan orang" yang memiliki persamaan tertentu. Bisa jadi orang-orang yang sama-sama cuek dengan pekerjaanku dan rekan-rekan ku ketika masih berada di Lembaga Dakwah, atau orang-orang yang menentang pekerjaan kami selaku dai. Kami sebut mereka sebagai bagian dari golongan orang-orang "apatis".

Dari : http://www.artikata.com/arti-319380-apatis.php : Mengatakan arti apatis berarti kata sifat :
1. acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh: kita tidak boleh bersikap -- thd usaha pembangunan Pemerintah

dan kali ini....
Kali ini, label itu terucapkan padaku...

Sebabnya adalah, karena keputusanku untuk "memilih" abstain pada pesta demokrasi di Kampusku. Kampus Biru-ku, saat ini sedang menduplikat habis-habisan sistem pemerintahan Indonesia. Segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan di kampus, merasa "harus" diwajibkan untuk sesuai dengan sistem pemerintahan Negara. Kau tahu?? Demokrasi. 
Kalau bangsa indonesia punya istilah PEMILU, kampusku memakai nama PEMIRA (pemilihan Raya), bahkan kami juga punya presiden lengkap dengan kabinet-kabinetnya. Untuk maju menjadi calon pemimpin organisasi pun, kami sudah lihai untuk meniru para pemimpin negara kita untuk berkampanye. Bahkan lebih keren lagi, maklumlah . . . anak-anak muda jaman sekarang lebih kreatif. Tidak hanya sekedar memasang foto raksasa berukuran baliho dan berpose ala "manten" (pake jas, pake kopiah, dasi dan ditambah sedikit mesem). Baliho para calon pemimpin kami lebih keren!! ada yang mirip poster pemilihan model, mirip iklan film, mirip poster jualan di internet, ada yang bikin buletin, yang isinya pujian-pujian untuk calon yang dijunjung. de el el lah... 

yang jelas, kalo dalam hal seperti ini, kami para mahasiswa sudah jauh lebih ahli daripada calon-calon pemimpin negara sewaktu berkampanye. Kalo masalah kepemimpinan... hmmm... siapa yang tahu?

Dan diantara sekian banyak pilihan calon aku memilih : ABSTAIN.
Orang menganggap tidak memilih itu berarti tidak punya pilihan, tidak peduli, cuek, masa bodoh dengan persoalan lingkungannya. atau Apatis itu...

Tapi, siapa bilang abstain bukan pilihan?

Mungkin suaraku untuk abstain larut bersama suara-suara orang abstain yang benar-benar apatis, atau memang tidak tahu ada yang namanya pemira, atau ikut melebur dengan mbah-mbah mahasiswa yang sibuk dengan Tugas Akhirnya, sampai-sampai jarang melihat kanan-dan-kiri. Padahal bilik-bilik suara segede penjual angkringan sudah berjajar dengan pedenya di spot-spot strategis kampus.

Tapi biarlah, ini suaraku. 

Tadinya sempat terpikir untuk jail. bikin kontroversi sekali-sekali. Biar suara abstain ini terdengar lantang. 
Aku pernah berpikir untuk tetap mempergunakan surat suaraku (gak tahu berapa harga satu set surat suara itu, bikin boros aja).
Dan akan kutulis besar-besar di kertas itu : 

AKU ABSTAIN. KARENA AKU BENCI DEMOKRASI, KARENA ALLAH SUBHANAHUWATA'ALA.

Aku ingin mengikuti jejak utusanNya, yang tidak pernah berdamai sedikitpun dengan pemerintahan kufur dan sistem-sistemnya.

Terserah orang mau bilang apa...

apatis? siapa takut!!!

Followers!!