21 Mei 2014

Sejelas 60 cm


Allaah Maha Besar rahmatMu, ampun atas kelalaianku yang sering.

Aku merasa tidak percaya diri, ketika berjalan di kampus, ataupun di tempat-tempat yang mungkin aku bertemu dengan kenalan. Bisa jadi bertemu teman sekampus, teman satu mata kuliah, teman yang mau bayar hutang pulsa, atau pun terhadap teman jenis lain.  Alasan ketidak-pede-an itu karena, aku khawatir mereka menganggap aku orang yang cuek. Pura-pura tidak kenal. Padahal tidak ada maksud demikian

Sebagaimana sehari lalu, hari selasa. Hari istimewa dalam sepekan, waktunya untuk kuliah yang tinggal satu mata kuliah dan waktunya untuk jadwal "bimbingan" tugas akhir.

Aku datang ke kampus, mengendarai si merah, kemudian memarkirnya, dan tak bicara kepada seorang pun kecuali melempar senyum kepada beberapa orang yang ku kenal. Bersamaku ada seorang mahasiswi yang nampak familiar sejak berjalan berdekatan dari tempat parkiran, dan ternyata benar, ia teman satu mata kuliah, satu bimbingan dengan dosen yang sama. Aku agak menyesal karena tidak menyapa sama sekali, namun untunglah, beliau ternyata memiliki masalah yang sama denganku.

Setelah kuliah selesai, saatnya bersegera mengejar ketinggalan sholat dhuhur, aku berjalan melintasi pelataran parkir. Dari gedung perkuliahan menuju mushola. Di tengan perjalanan seorang menyapa. Tepatnya seorang yang menyapa dan ia bersama dua orang teman lain. Aku hanya menyipitkan mata ke arahnya, mencoba mengenali, sambil tersenyum sedikit dan terus berjalan. Bimbang. Apakah aku kenal? lebih penting lagi, apakah itu teman dekat?

Sampai keraguan itu segera hilang, berubah menjadi sesal, ketika sang penyapa mengatakan, "Wah, kayaknya lupa dia (dengan kita)..." Segera saja aku berhenti, menyipitkan mata lagi dan mengenalinya. dan berbalik mendekat. Ternyata benar. 2 orang teman satu kelas, satu angkatan sejak tahun 2007, dan seorang adik angkatan. Keduanya termasuk teman dekat, sedangkan adik angkatan, aku lupa namanya... sorry...

Berbincang sebentar, mencairkan suasana, sekaligus menebus penyesalan karena "mencueki" mereka tadi. Rupanya seorang teman angkatan yang lain sedang wisuda. Hmm, ini momen istimewa, karena ia termasuk wisudawan terakhir dalam angkatan kami. Lulus menjelang tenggat waktu yang diberikan kampus. Momen ini jauh lebih istimewa ketimbang kelulusanku 2 tahun lalu. Sekali lagi, aku merasa kurang enak atas kejadian awal tadi. Maaf kawan.

Kejadian tersebut bukan satu atau dua kali, sudah beberapa kali terjadi. Bahkan aku pernah terus terang mengatakan kepada teman aku bahwa aku mengalami masalah semacam ini. Dan aku berharap permakluman darinya.
Dunia yang nampak secara fokus sempurna dalam pandanganku hanya dalam radius 60 cm saja. Hanya radius itu. Beberapa objek yang jauh dan besar, masih dapat dikenali dalam jarak yang jauh, 10-20 m. Seperti misalnya, teman yang memiliki "bentuk" yang khas. Bisa jadi pakaiannya yang khas, yang tidak mungkin dipakai orang lain. Bisa jadi motornya, bisa juga bentuk model rambutnya. Atau bentuk jilbabnya yang aneh. dan semacamnya. Teman-teman yang mudah dikenali perbedaanya, bisa  dengan mudah diidentifikasi. Untungnya aku mudah mengingat yang semacam ini, termasuk motor dengan tempelan stikernya.

Masalah pada pandangan mataku disebut miopi, atau rabun jauh, atau bahasa populernya adalah mata minus. Idealnya mata mampu melihat dengan fokus sempurna untuk semua benda dengan jarak berapapun, termasuk bintang yang jauh sekalipun. Bagi seorang yang minus, penglihatannya terbatas pada benda yang dekat saja, dengan batas jarak tertentu yang disebut titik dekat. Benda yang jauh, melebihi titik dekat, tidak dapat dilihat secara sempurna. Benda-benda terlihat tidak fokus. Tulisan terlihat buram, seperti memandang melalui kaca yang terkena uap air. Ketika memandang rumah-rumah yang jauh tidak terlihat bentuk genting-nya kecuali hanya warna atapnya. Pada jarak 10-20 cm dibelakang titik dekat, ketombe di bajumu pun tidak terlihat oleh mataku. Begitu pula jerawat di wajahmu. Bagiku hanya terlihat wajah yang mulus tanpa bintik apapun. Tulisan yang aku ketik ini pun langsung memburam ketika aku memundurkan kepala 10cm ke belakang.

Benda-benda yang gelap sulit untuk diidentifikasi. Khususnya perjalanan malam hari. Motor yang tidak menyalakan lampunya seringkali mangagetkan aku, karena khawatir kutubruk. Begitupula dengan sepeda. Sementara itu benda yang terang lebih mudah diidentifikasi, karena banyaknya cahaya yang masuk ke mata. Maka siang hari jauh lebih memudahkan bagi aku dan orang-orang minus seperti aku. Seorang teman yang minus, sangat menyukai kamarnya terang benderang sampai-sampai ia membeli lampu dengan daya yang lebih besar daripada seharusnya.

Jadi, dunia yang jelas kulihat, hanya sejauh 60 cm. Apakah aku tidak punya kacamata? aku punya dua. Yang pertama memiliki daya lensa 2 dioptri yang artinya dapat membantu mata yang hanya mampu melihat sejelas 0,5 m. Kacamata kedua berdaya 1,75 dioptri, yang artinya dapat membantu mata yang memiliki titik dekat 0,57 m. aku memakai kacamata yang kedua, yang lebih mendekati titik dekat aku yang alhamdulillah masih 60 cm.

Si Kacamata

Marilah sejenak kita mengenali kacamata aku ini. Semoga tidak menjadi pelajaran fisika yang membosankan. Blog ini tidak dirancang untuk tulisan-tulisan fisika semata. Tenang saja :)

Mata kita, bola matanya memiliki lensa yang bening, juga lentur, sehingga mampu berubah bentuk. bentuk lensanya sama seperti ukuran lensa kontak di toko-toko optik, hanya saja jauh lebih canggih dari itu, dan jauh lebih tebal. kamu dapat "merasakan" bentuknya. Cobalah tutup matamu kemudian tempelkan jarimu ke kelopak mata (ingat, dalam keadaan tertutup). Lalu gerakan mata kamu ke kiri dan ke kanan. Jarimu akan merasakan bentuk cembung dari lensa ini. Semoga gambar ini membantu.
 
Idealnya lensa ini akan mencembung jika mata ingin berfokus pada benda yang dekat. Ia berakomodasi, dengan bantuan otot yang mengaturnya, dan lensa mata pun menjadi lebih cembung. Jika mata ingin berfokus pada benda yang jauh, otot ini meregang, berelaksasi dan lensa mata kembali memipih. Kedua proses ini bertujuan agar bayangan jatuh tepat pada retina, sensor mata kita. Jika proses ini terjadi dengan baik maka sempurnalah penglihatan kita. Ingat kamera digital? Nah, kamera meniru proses yang luar biasa ini. Bedanya mata kita jauuuuh lebih canggih dan memiliki jumlah tangkapan pixel yang jauuuh lebih hebat. Allaahu akbar.

Masalah pun datang ketika proses ideal tadi tidak berjalan sempurna. Lensa mataku tidak kembali memipih menjadi ukuran normal. Ia tetap mencembung. Sehingga cahaya dari benda yang kulihat tidak jatuh di retinaku, namun didepannya. 

Apa penyebabnya? Kenapa lensa mata tidak kembali memipih sebagaimana seharusnya? Ada yang bilang karena keturunan. Jika ayah-ibumu atau kakek-nenekmu ataupun orangtua kakek-nenekmu ada yang memiliki kelainan semacam ini, maka bisa jadi kamu akan terkena. Faktor lain yang (katanya) lebih besar penyebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebiasaan maksudnya adalah kebiasaan buruk dalam menggunakan mata. Seperti misalnya menonton tivi terlalu dekat dalam waktu lama. Membaca terlalu dekat atau dengan sikap yang salah. Ataupun terlalu lama menatap layar komputer. Hal-hal ini menyebabkan ketegangan visual. Lensa mata terlalu sering menggembung, sehingga sulit kembali pipih seperti semula. Nah, maka tidak heran orang-orang di kampung jarang terkena mata minus. Mereka lebih sering main diluar, melihat sawah, menjelajah pegunungan, merambah sungai. Pandangan matanya selalu dimanjakan untuk melihat yang jauh. Tidak terjadi ketegangan visual yang tidak perlu.

 
Lalu datanglah kacamata, sebagai salah satu solusi. Kacamata membantu meletakkan jatuhnya bayangan tepat diretina (lihat gambar). Bagaimana prosesnya? dan apa arti kekuatan lensa ( minus 2, minus 1)?

Here comes the math... maaf, ini tak terhindarkan. Kita coba menguranginya sebisa mungkin. :)

Sebagaimana sudah dijelaskan, orang minus memiliki titik dekat tertentu. Semua benda yang berada kurang dari titik dekat tersebut masih dapat dilihat dengan fokus sempurna, tidak memerlukan kacamata. Namun benda-benda di luar titik dekat yang bermasalah untuk dilihat. Benda-benda yang jauh (sebutan untuk benda diluar titik dekat) menjadi buram, tidak fokus. Maka kacamata minus bertugas untuk membawa benda-benda yang jauh itu agar terasa berada di dalam titik dekat. Ya, kacamata membuat seolah-olah mata melihat sesuatu yang dekat, meskipun kenyataannya jauh. Kacamata merekayasa penglihatan kita.

Prinsipnya sederhana. Masih ingat rumus lensa?


(f=jarak fokus, s=jarak benda, s'=jarak bayangan)(semua dalam meter)
 
SEMUA lensa bekerja dengan aturan ini. Termasuk kacamata. Nah, agar kacamata benar-benar membantu kita "melihat" benda-benda jauh, maka benda-benda jauh ini harus nampak dekat, yaitu berada di titik dekat. Dengan kata lain, bayangan yang dihasilkan lensa kaca mata berada di depan lensa. Sehingga s' (jarak bayangan yang terbentuk oleh kacamata) harus paling tidak sama dengan titik dekat mata. Benda yang (menuju) jauh tak hingga sekalipun (s=tak-hingga) bayangannya harus nampak dekat, sedekat titik dekat mata. Maka kita mendapatkan s'=minus titik dekat mata (minusnya karena bayangan terbentuk di depan lensa kacamata) dan s=(hampir)tak-hingga, yang menyebabkan persamaan tadi menjadi




 
(TD=jarak titik dekat mata)

Nah, 1\f =P (huruf P mungkin dari kata power)  inilah yang biasa dikenal sebagai daya lensa kacamata. dengan satuan dioptri. Maka untuk mataku yang titik dekatnya 60 cm, mestinya daya lensa kacamataku adalah -1.67 dioptri. Tapi karena di tempat jualan kacamata pinggir jalan kolombo itu daya terdekat hanya ada yang -1,5 atau -1,75 atau -2,0, maka kubeli yang -1,75 saja. 

Aku yang memakai kacamata -1,75 ini hanya memiliki jarak pandang jelas sejauh radius 60 cm. Bagaimana dengan orang yang memakai kacamata minus 5? bisa dengan mudah dihitung TD=1/P, maka TD=1/5 m atau 25cm saja. hmm ... sepertinya parah sekali ya. Untuk bisa membaca tanpa kacamata si minus 5 harus mendekatkan bukunya pada jarak 25 cm. Aku jadi ingat temanku yang minus 8. tak terpisahkan dari kacamata. Subhanallaah...

Kacamata Darurat

Sebagaimana sudah kuceritakan. Aku punya kacamata, namun jarang dipakai. Aku memakainya pada saat-saat darurat saja. Kuliah, dauroh, pelatihan, seminar dan semacamnya. Pada keadaan yang membutuhkan penglihatan yang baik. Selain itu kulepas. Maka terjadilah hal-hal yang telah kuceritakan sebelumnya.
Mengapa? alasan pertama karena aku tidak suka memakai kacamata. Terasa merepotkan. Alasan (pembenaran sih sebenarnya) yaitu karena kacamata hanya alat bantu, buka alat penyembuh. Pemakaian kacamata dalam jangka waktu lama tidak menyembuhkan miopi ini, justru malah memperburuk. Karenanya jarang kupakai..

Apakah aku punya pilihan lain untuk menyembuhkan? Beberapa, seperti operasi, sayangnya mahal, ada juga ramuan-ramuan herbal seperti OTEM, THM, (dua-duanya obat herbal tetes mata) namun tidak rutin memakainya. OTEM malah sangat perih dimata, karena komposisinya dari madu. jadinya pun tidak membantu penyembuhan, karena ketidak rutinannya. Pilihan lainnya : vision therapy / terapi penglihatan, semaca bentuk-bentuk senam mata. Lagi-lagi, tidak rutin menjalankannya. Maka sampai sekarang, mataku tidak kunjung membaik, dan tidak pula memburuk. Stagnan pada minus -1.75. 

(Bagi anda yang ingin mengetahui tentang vision therapy yang mujarab, sekaligus mengenai ilmu-ilmu kesehatan alami lain silahkan membaca Jery D. Gray, Rasulullah is my doctor)



Maka jadilah ia, si kacamataku, sebagai kacamata darurat. Untuk membantuku melihat dunia secara jelas, pada keadaan darurat. Pada keadaan tak darurat duniaku .... hanya sejelas 60 cm saja.

22 Desember 2013

Free Ebook Dr. Majid Irsan Al-Kilani Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib. Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina.

as


Shalahudin dan kemenangan perang salib merupakan bagian sejarah yang penting untuk dikaji. Namun kajian-kajian terhadap sejarah kemenangan perang salib ini, menurut Majid Irsan Al Kailani, seringkali sekedar menonjolkan aspek figuritas atau heroisme militer untuk memahaminya. Pendekatan seperti ini memiliki kelemahan. Setidaknya model pendekatan seperti ini akan menjauhkan perhatian dari penyakit utama yang ada dalam tubuh umat yang menciptakan mentalitas layak terbelakang dan kalah (al qabiliyah li at takhalluf wal hazimah). Pemahaman yang menonjolkan aksi individu juga bisa menjauhkan umat dari peran yang harus mereka ambil, mengandalkan atau menunggu-nunggu munculnya figur pemimpin untuk menyelesaikan masalah.

Studi yang dilakukan oleh Majid Irsan Al Kailani dalam Hakadza Zhahara Jilu Shaluddin Wa Hakadza ‘Adat Al Quds memberikan kita perspektif bagaimana perubahan sosial (atau rekonstruksi sosial) selama lima puluh tahun (jarak antara jatuhnya Al Quds ke tangan tentara Salib Eropa hingga kembali ke tangan Umat Islam) memberikan andil besar dalam melahirkan generasi Shalahudin. Shalahudin adalah wakil utama generasi hasil pendidikan atau gerakan reformasi (ishlah) sebelumnya.


Filsafat Sejarah

Majid Irsan Al Kailani menyandarkan penelitiannya pada filsafat sejarah berikut. Filsafat sejarah ini, hemat saya, merupakan filsafat sejarah Bennabi-an (filsafat sejarah berdasarkan pandangan-pandangan yang awal sekali dikemukakan oleh Bennabi).

  1. Sebuah masyarakat terdiri dari tiga elemen utama; pemikiran (afkar), individu manusia (asykhas) dan benda atau materi (asy-ya’). Masyarakat mengalami kesehatan jika individu dan materi berporos pada pemikiran yang benar.
  2. Matarantai kepelakuan manusia bermula dari niat, pemikiran dan kemauan yang kemudian menjelma menjadi perilaku praktis. Sehingga munculnya fenomena sosial berawal dari muatan-muatan pemikiran yang kemudian melahirkan tujuan, disusul kemauan yang kemudian melahirkan perilaku praktis.
  3. Perubahan sosial memiliki pola. Pola perubahan itu bermula dari perubahan yang ada pada diri manusia disusul perubahan pada bidang sosial, ekonomi, politik, militer dst, Muatan yang ada pada diri manusia meliputi pemikiran, nilai, budaya, kebiasaan dan tradisi. Perubahan pada diri (baik menuju keadaan lebih baik dan buruk) untuk efektif berlaku secara kolektif. Sejarah perubahan diri ini dapat dilacak pada keterkaitan perubahan pendidikan (pemikiran) dan fenomena-fenomena sosial yang mengikutinya. Dalam praktek strategi perubahan yang dilakukan bergantung dengan unsur keikhlasan dan ketepatan (strategi).


Pola Pemikiran Umat Menjelang Serangan Kaum Salib

Berdasarkan filsafat sejarah di atas, Majid Irsan, merekonstruksi kondisi atau pola pemikiran yang berkembang pada masyarakat muslim menjelang serangan kaum Salib. Hal pertama yang menjadi catatannya adalah terjadinya perpecahan pemikiran islam dalam tubuh umat. Fenomena ini bisa dideskripsikan pada munculnya mazhabisme (komunalisme pemikiran atau pemikiran partisan) yang berselisih secara hebat kala itu, dalam aspek aqidah maupun cabang fiqh. Perselisihan mazhab anarkis ini berdampak pada pola pemikiran yang dibentuk atas umat, rusaknya tujuan pendidikan, serta perpecahan dan anarkisme sosial-politik. Selanjutnya pola pemikiran tasawuf dan filsafat yang menyimpang juga memberikan andil besar dalam memformat pola pemikiran umat ketika itu. Iklim pemikiran seperti ini kemudian menjadikan institusi-institusi pemikiran Islam mengalami kejumudan dan menyimpang dari misinya untuk mengarahkan umat.

Dampak Sosial Politik Pola Pemikiran Umat Menjelang Serangan Kaum Salib

Pola pemikiran di atas kemudian memberi dampak pada fenomena sosial umat. Rusaknya aspek ekonomi, karena tidak terformat secara tepat oleh pemikiran, dalam bentuk kemewahan sebagian kalangan konglomerat dan penguasa yang amat kontras dengan kemiskinan banyak rakyat, inflasi yang tinggi. Fenomena kelaparan menjadi gejala yang banyak terjadi kala itu. Anarkisme sosial karena perselisihan antar mazhab muncul dalam bentuk kekerasan-kekerasan yang muncul. Demikian pula aspek politik umat. Tidak banyak tokoh yang memiliki kelaikan untuk menjadi pemimpin umat kala itu. Perpecahan, perseteruan dan kudeta politik merupakan fenomena.
Dalam kondisi seperti ini serangan kaum Salib datang. Secara internal (pemikiran, sosial, politik, ekonomi dan militer) umat tidak memiliki kesiapan. Tidak ada pertolongan yang bisa diberikan untuk umat di sekitar Al Quds ketika itu.

Gerakan Ishlah (Reformasi)

Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh umat pasca serangan tentara Salib berusaha dilakukan oleh beberapa tokoh melalui jalur politik, seperti yang dilakukan oleh Nizham Al Muluk. Tetapi efektifitasnya tidak berjalan.
Fase Pertama

Gerakan ishlah (reformasi) selanjutnya, yang dipelopori oleh Imam Ghazali, menggunakan metode al insihab wal ‘audah untuk melakukan rekonstruksi umat. Metodologi ini dilakukan melalui mundur dari lingkungan sosial politik yang penuh syubuhat, memfokuskan pada upaya membenahi diri untuk mengevaluasi dan memperbarui pemikiran, dan kemudian kembali (al a’udah) ke tengah masyarakat dan memulai proses ishlah.

Gerakan Imam Ghazali ini tidak menyentuh secara langsung jihad untuk membebaskan Al Quds, tetapi lebih ditekankan pada kritik diri untuk mengatasi kondisi kelayakan untuk kalah dari tubuh umat dengan melakukan rekonstruksi pemikiran sebagai langkah awalnya. Selanjutnya Imam Ghazali melakukan kritik sosial atas umat; mulai dari ulama-ulamanya, pemimpin-pemimpin sosial politiknya hingga masyarakat pada umumnya. Imam Ghazali juga mendirikan madrasah untuk mendidik kader-kader umat masa depan, dengan pola pemikiran yang baru.


Fase Kedua

Pada fase kedua ini pengaruh Imam Ghazali diteruskan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani dengan madrasah dan gerakan reformasinya. Aspek yang ditekankan sama seperti yang ditekankan oleh Imam Ghazali, dengan modifikasi strategi tertentu. Fase kedua reformasi ini persebaran madrasah islah menjadi kian masif dan distributif. Madrasah pusat (seperti madrasah Abdul Qadir Al Jilani) menjadi pusat pendidikan utama (kaderisasi), madrasah model ini tersebar di banyak kota-kota besar dunia Islam timur ketika itu. Sedangkan madrasah-madrasah yang terletak di daerah pedesaan berfungsi untuk membimbing umat.


Dampak Reformasi

Ketika Nurudin Zanki dan Shalahudin Al Ayyubi melakukan reformasi sosial politik ketika itu banyak alumni-alumni madrasah di atas yang mengisi banyak posisi penting. Para ulama (cendekiawan) bergabung dalam institusi politik dan militer. Masyarakat juga sudah memiliki kesiapan untuk menerima reformasi itu. Rekonstruksi sosial-ekonomi-politik kemudian menjadi mudah untuk dilakukan. Puncaknya adalah pada jihad militer untuk mengembalikan Al Quds ke pangkuan umat dengan keberhasilan yang spektakuler.


Catatan Rujukan
Menurut saya pemikiran filsafat sejarah yang mempengaruhi metodologi penulisan buku Dr. Majid Irsan Al Kailani ini bisa dilacak sampai ke Malik Bennabi [dan atau Jaudat Said] . Walaupun dalam daftar referensi di buku ini buku-buku Bennabi tidak disebutkan. Nama Bennabi muncul sekali ketika membahas gerakan reformasi Imam Ghazali ketika Dr. Kailani mengutip konsep Bennabi mengenai qabiliyah lil isti’mar (kelayakan untuk dijajah).
Edisi bahasa arab buku ini juga diterbitkan oleh IIIT, Virginia, USA. 1995.

link unduhannya
https://drive.google.com/file/d/1GQlRHET3mEvNuIFMeAWBf6g84rCSloyL/view?usp=sharing

Free Download Ebook DUNIA SOPHIE - SOPHIE VERDEN - Bahasa Indonesia - LENGKAP - no HIDDEN PAGE


Filsafat, sebagian orang tahu, namun tidak kenal.

Buku yang diunggah ini merupakan buku pengantar mengenal filsafat yang ringan, namun cukup berkualitas. Buku yang ditulis seperti novel ini telah berhasil menyajikan filsafat secara mudah, dan gamblang, sekaligus menarik untuk dibaca. Namun tentu saja pembaca yang pintar perlu berhati-hati. Sudut pandang filsafat yang digunakan, yang membumbui pemikiran-pemikiran di sana berasal dari barat, peradaban non-islam. Maka sebelum membaca, siapkanlah diri anda agar menjadi pembaca yang tidak mudah terpengaruh dan percaya dengan isi yang tidak benar.

sya ambilkan resensi buku dari kompasiana
http://media.kompasiana.com/buku/2013/08/19/dunia-sophie-ini-buku-yang-indah-584743.html

Judul Asli: Sophie’s World
Judul terjemahan : Dunia Sophie
Pengarang: Jostein Gaarder
Tebal : 561 halama
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit :1996
- ini buku yang indah.. -
Setelah membaca sampai bab terakhir, inilah kalimat yang terpikirkan olehku untuk menggambarkan makna buku ini.

Dunia sophie adalah sebuah novel filsafat. berkisah tentang seorang gadis berusia 14 tahun yang sebelumnya hidup dengan wajar seperti anak-anak seusianya, hingga suatu ketika ia dikirimi surat misterius berisi pertanyaan-pertanyaan filsafat. Selanjutnya buku ini akan membawa kita ke dalam dunia filsafat, menembus sejarah mulai dari masa jahiliyah dimana orang-orang hanya percaya pada dewa hingga masa dimana kita berdiri saat ini.

Selama perjalanan kita akan disuguhi hidangan berupa pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti; “siapa aku?”, “dari mana datangnya dunia ini?” dan tak jarang kita harus berhadapan dengan banyak pemikiran manusia untuk berusaha mencari tuhan.

Novel ini sangat padat makna dalam setiap kalimatnya, karena dalam novel ini juga ada banyak sekali kalimat berharga hasil pemikiran para filsuf seperti, socrates, plato, aristoteles, descartes, spinoza, hume, kant, hegel, marx, darwin, dll. yang bisa digaris bawahi.

Meskipun sebagian besar novel ini berisi bab-bab filsafat tapi untuk ukuran sebuah buku filsafat, penggunaan bahasa dan sudut pandang yang digunakan penulis membuat filsafat itu lebih mudah dipahami ketimbang kita harus membaca buku teks yang bahasanya sangat rumit.

Siapa pun yang tidak ingin keluar dari zona nyaman pemikirannya, tidak ingin Tuhannya diusik, tidak ingin ideologi yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur, tidak ingin mengetahui makna hidup ini dan tidak ingin mengerutkan kening untuk menemui pertanyaan-pertanyaan filsafat lebih baik jangan membaca satu kalimat pun dari buku ini.

tapi jika seseorang suka berpetualang di alam buku dan bersikeras membacanya dari awal hingga akhir, selamat menjadi individu baru yang lebih memahami hidup ini.

Untuk yang terakhir, ada 1 hal dengan tegas ingin kukatakan jika kau membaca novel dunia sophie;
“jangan lupa untuk kembali ke kehidupan nyata..”

mungkin lebih baik kau membawa roti yang banyak, tapi bukan untuk menjadi cemilan ketika kau duduk manis membaca novel ini, melainkan untuk menabur remahnya di sepanjang perjalanan karena bisa jadi pikiranmu tersesat dalam jalan filsafat dan tidak tahu kemana harus pulang.. ^^

Beberapa potongan kalimat dalam novel ini:
“kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.”

“pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan. Lalu bagaimana dengan tuhan sendiri? Apakah Dia menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan”

“orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, berarti dia hidup tanpa memanfaatkan akalnya”
-goethe- 

“kejahatan adalah ‘ketiadaan tuhan.’ Kejahatan itu tidak memiliki keberadaan yang mandiri. ia adalah sesuatu yang tidak ada, sebab ciptaan tuhan sesungguhnya hanya kebaikan.”

“Sebuah benda akan tetap berada dalam keadaannya, diam atau bergerak, selama tidak ada kekuatan luar yang memaksanya untuk berubah.”
-galileo lallilei- 

“ketika kita bermimpi, kita merasa sedang mengalami kenyataan. Apa yang memisahkan perasaan kita ketika kita terjaga dan perasaan kita dalam mimpi?”

“Langit berbintang diatasku dan hukum moral di dalam diriku.”

“Seniman menciptakan realitasnya sendiri sebagaimana Tuhan menciptakan dunia.”

“Kamu tidak dapat mengatakan bahwa pemikiran tertentu benar selama-lamanya. Tapi pemikiran itu bisa jadi benar dari tempat kamu berdiri.”


LINK UNDUHANNYA
 https://docs.google.com/file/d/0B8e2CzaWKTmqWUthUnpMX2tJWDQ/edit

22 Juli 2013

Amalmu hanya bergantung padamu (pendekatan aksiomatik)

 
Setelah menjalani proses belajar, membaca, merenung, berguru dan lain sebagainya, saya telah sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwasanya :

Kesimpulan :
"Setiap orang bertanggungjawab atas urusannya sendiri-sendiri, baik itu berupa kebaikan maupuan keburukannya. Orang lain tidak dapat merugikannya, ataupun menguntungkannya, sama sekali."
sumber gambar : http://www.cahayanabawiy.com/ukurannya-adalah-niat/

Pada artikel ini, saya akan menjelaskan sampainya saya pada kesimpulan tersebut. Namun sebelumnya saya memohon maaf sebesar-besarnya jika bahasa penyampaiannya kurang nyaman untuk dibaca. Saya sudah lama tidak menulis, dan memang tidak berlatih menulis lagi sejak lama. Mohon dimaklumi.

Mari kita mulai.

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengetahui mengenai definisi BAIK / BURUK itu.

Definisi 1
"BAIK atau BURUK itu menurut timbangan Allah. Manusia dapat mengetahui sebagiannya melalui petunjuk yang Allah berikan melalui rasulNya atau kitabNya, yang terangkum dalam agamaNya yang sempurna : Islam."

Pendefinisian ini penting, karena kita harus menghindari sifat subjektifitas mengenai BAIK dan BURUK ini. Contohnya misalnya mengenai perintah ber"jihad" (berperang di jalan Allah), manusia menganggap berperang itu buruk, sehingga membencinya, namun tidak dalam pandangan Allah, sebagaimana firman Allah :

2:216. diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Alasan lain adalah karena Allah mengetahui, sedang kita tidak mengetahui.

Langkah selanjutnya akan diajukan proposisi:

Proposisi 
"Ada dua jenis kejadian yang menimpa manusia. Yang pertama berjenis nikmat/kesenangan (kelapangan rizki, kesehatan, dan sejenisnya), yang kedua berjenis musibah (kesempitan rizki, kesehatan dan sejenisnya). Dan keduanya bisa bernilai BAIK/BURUK, hanya bergantung pada sikap orang yang mengalaminya."

Proposisi ini di dasarkan pada hadist Rasulullaah Shollallaahu 'alayhi wassallam :

Dari Syu'aib,Rasulullah bersabda :"Sungguh perkara seorang mukmin itu menakjubkan. Semua perkaranya merupakan kebaikan dan hal itu tidak didapati kecuali pada diri orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan lalu kemudian bersyukur, maka itu baik baginya. Bila terkena kesempitan/musibah lalu bersabar, maka itu kebaikan pula baginya." HR Muslim.

Langkah selanjutnya kita akan menuju kesimpulan, sebagaimana yang tertulis di awal pembukaan artikel ini.

Setiap orang bertanggung jawab atas urusannya sendiri. Orang lain tidak dapat memberikan keburukan kepadanya, ataupun memberikan kebaikan kepadanya. Hal ini sesuai dengan proposisi diatas yang didasari oleh hadist sebelumnya. 

Mari kita membuat permisalan.

Seorang ahli maksiat melakukan perampokan terhadap seorang mukmin, dan ia berhasil. Jika kita sekilas melihat hal ini, terbayang di benak kita bahwa yang dirugikan adalah si mukmin tersebut. Namun tidak demikian hakikatnya. Hakikatnya yang sedang merugikan dirinya sendiri adalah si ahli maksiat. Ia sedang menambah catatan keburukannya dihadapan Allah. Sedangkan bagi seorang mukmin, jika ia telah berikhtiar dan kemudian bersabar dan ikhlash, maka baginya kebaikan di sisi Allah. Meskipun ia kehilangan harta yang telah dirampok, atau ia mengalami luka-luka akibat penganiayaan si perampok. Namun sekali lagi si mukmin bisa tetap mendapatkan kebaikan.

Hal ini dikuatkan oleh  : 

“Barangsiapa melakukan amal salih maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)


Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya; barangsiapa yang melakukan suatu amal salih maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah maha kaya sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah)

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6) 

Sehingga, sampailah kita pada kesimpulan diatas.

Maka, benar kata seorang ulama bijak :

Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain. 
Karena itu, hatikupun jadi tenteram. 

Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. 
Karena itu, aku pun sibuk beramal. 

Aku tahu Allah selalu mengawasiku. 
Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. 

Aku pun tahu kematian menungguku. 
Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.
(Hasan Al-Bashri) 

Followers!!