10 September 2015

KITA MENGETAHUI, TAPI SAYANG .. KITA TIDAK MENGAMALKAN..


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengisahkan: "Seorang anak perempuan meninggal karena Thoun, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya: "Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat!"

Anak perempuan itu menjawab: "Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu rakaat sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya"..

Berkata Ibnul Qayyim: "Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya.."

🌺Kita mengetahui, bahwa ucapan سبحان الله وبحمده Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali  akan  menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang.. Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun..💬

🍀Kita mengetahui, bahwa pahala  dua rakaat Dhuha setara  dengan pahala 360 shodaqah, akan tetapi sayang.. Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha...💬

🌹Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api  neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar..💬

🍄Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya.. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini..💬

🍃Kita mengetahui, bahwa siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu..💬

💐Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur.  Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang janda pun..💬

🌼Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur'an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al Qur'an dalam jadwal harian kita...💬

🌷Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang,  kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya..💬

🍁Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam..💬

⚡Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu..💬

🌌Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita, tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau  dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka..💬

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..

Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..

Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..

Dan pada  hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena  pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing

08 September 2015

Pernikahan itu...

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan.

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu dibicarakan namun ia pasti akan datang.

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad.

Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.

"Sakinah" bukan cuma "tenang". Ia berasal dari kata "sakan" yang artinya "diam/tetap/stabil". Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai.

Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif.

Al-Qur'an menjelaskan: "Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya". Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas. Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun.Learning by doing.

Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. Agar setelah "rasa penasaran" itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.

Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban.

[Khutbah pernikahan anak Ust. Tate Qomaruddin oleh Ust. Anis Matta]

*****

Masih teringat jelas, beberapa tahun yang lalu. Beberapa hari menjelang pernikahannya, seorang akhwat yang sudah aku anggap sebagai mbak di kampus mengatakan demikian:

"Jika seorang akhwat siap menikah, berarti ia harus siap akan 3 hal. Pertama, siap untuk diceraikan. Kedua, siap untuk di"dua"kan. Ketiga, siap untuk ditinggalkan baik dalam keadaan meninggal atau dalam keadaan hidup."

Dan aku terheran… kenapa harus begitu mbak?

"Karena sekalipun engkau telah menikah dengannya, engkau tak akan pernah bisa memilikinya. Jika engkau hendak bersiap untuk sebuah pertemuan, maka siapkanlah juga dirimu untuk sebuah perpisahan."  

Belum selesai keheranan saya dengan susunan kalimat tersebut, beliau lantas berlalu pergi sambil melambaikan tangannya pada sebuah angkot. Dan saya pun hanya mampu terdiam, sambil mencoba untuk menyerap dalam-dalam makna kalimatnya.

*****

Suatu ketika seorang ukhti bercerita pada saya tentang kisahnya.

Secara agama, tidak ada yang kurang dari ukhti ini, beliau cerdas, hafizhah, dan hafal beberapa hadits. Beberapa hari menjelang pernikahannya, beliau tampak sedih mendengar kabar buruk lantaran pernikahannya dibatalkan sepihak oleh pihak calon mempelai lelaki. Pertanyaannya mengapa? Tepat sebulan sebelum ukhti ini mendapat kabar tersebut, beliau diminta seorang ustadz agar menjalani proses ta'aruf dengan seorang ikhwan.

"Apa kriteria akhwat yang diminta ikhwan tersebut yaa ustadz?" Tanya sang ukhti. Ustadz pun menjawab: "Shalihah dan Hafizhah, bukankah itu semua ada dalam kriteria diri anti? bagaimana? Apakah anti bersedia menjalani proses tersebut?"

Bismillah... sang ukhti pun bersedia untuk menjalani proses tersebut...

Proses itu masih dirasa lancar-lancar saja hingga suatu ketika ada kalanya ukhti dan ikhwan tersebut dipertemukan… Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, sang ikhwan menulis sebuah pesan singkat yang bertuliskan:

"Ukhti, saya sama sekali tidak menyangsikan dalamnya ketaatan ukhti... tidak juga menyangsikan luasnya ilmu agama ukhti, namun, saya hanya merasa tidak pantas beristrikan seorang akhwat sekaliber ukhti... saya mohon maaf, saya tidak mampu meneruskan proses ini lebih jauh lagi…"

Salah apa?

Mungkin itulah pertanyaan pertama yang terbersit dalam benak ukhti tersebut. Jika, dalamnya ketaatan dan luasnya ilmu agama itu salah, lantas mengapa ikhwan tersebut menyebutkan salah satu kriteria akhwat yang ia inginkan adalah "Shalihah dan Hafizhah"

Salah apa?

Apakah karena ikhwan tersebut bukanlah seorang hafizh, dan ukhti ini adalah seorang hafizhah, maka sang ikhwan itu menjadi "minder"? jika memang benar demikian, bukankah pernikahan adalah sarana menyempurnakan yang kurang sempurna dan menggenapkan yang belum genap?

Salah apa?

Menangis pun rasanya percuma. Karena toh, ukhti ini tahu, bahkan sangat tahu bahwa jodoh tidak akan ke mana. Ia benar-benar paham bahwa yang baik adalah untuk yang baik juga sebaliknya. Namun, yang tidak ia tahu adalah mengapa ia ditolak justru karena kebaikan agamanya?

Salah apa?

Dan pertanyaan ini belum terjawab hingga sang ustadz yang menjadi penghubung proses ta'aruf mereka pun menjelaskan bahwa ada beberapa kriteria fisik yang tidak ditemukan sang ikhwan pada ukhti ini...

Terjawablah sudah... Engkau pasti bisa membayangkan betapa hancur hati sang ukhti, bagaimana bisa? Seorang ikhwan -yang mengaku- ingin menikahi perempuan shalihah dan hafizhah, menghentikan proses ta'arufnya "hanya" karena pertimbangan fisik dan itu pun tak mampu ia jelaskan pada akhwat tersebut… Lantas pertanyaan di benak sang ukhti itu pun berubah…

"Jika yang engkau inginkan adalah seorang akhwat yang shalihah dan hafizhah… Maka shalihah yang seperti apa yang engkau inginkan? Shalihah versi Allah? Atau shalihah versi mu? Versi nafsu duniamu?"

*****

Di sisi lain, di sudut waktu yang berbeda… Suatu ketika berceritalah dua ukhtina shalihah...

"Aku pengen deh punya suami yang sama sekali gak pernah aku kenal sebelumnya, tapi kalau bisa, dia adalah seorang bla bla bla (sambil menyebutkan salah satu profesi pekerjaan). Supaya nanti gak ada fitnah dan bisa saling belajar memahami lagi..."

Ukhti kedua tersenyum sambil menjawab halus... "target itu perlu, tapi jangan sampai itu menjadikan kita menghalalkan segalanya untuk mencapai target itu, carilah yang menenangkan dan mampu menjadi imam. Yang menenangkan dan mampu menjadi imam. Kemudian, istikharahlah dalam setiap prosesnya, karena sebenarnya, jodohmu telah ditentukan oleh-Nya. Yang tak dikenal sama sekali sebelumnya pun, belum tentu mampu menjadi yang menenangkan… bukan kah hakikat pernikahan itu adalah sakinah (tenang)? 

*****

Berhentilah kawan. Berhentilah untuk mengkorelasikan pernikahan dengan kegalauan. Berhentilah, saya mohon. Karena pernikahan (bagi saya) adalah tentang sebuah cita-cita agung yang harus kita siapkan sedari sekarang.

Berhentilah teman. Berhenti untuk menghubungkan pernikahan dengan kelabilan.

Berhentilah, saya mohon. Karena jika saja engkau tahu, betapa bangganya orang-orang di luar sana dengan sistem pacarannya, lantas mengapa kita tak bangga dengan sistem pernikahan yang telah diatur dalam Islam? Kenapa harus, justru kita lah (kaum muslimin) yang "menjatuhkan" makna pernikahan itu sendiri?

Bagi saya... Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus mengeja a.. ba.. ta.. tsa.. agar kelak keluarga yang engkau bangun adalah keluarga yang dinaungi cahaya Al-Qur'an.

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus berpayah-payah masuk ke dapur, lantas bersahabat dengan segala pernak-pernik didalamnya agar kelak engkau bisa memberikan nutrisi terbaik untuk mereka para penerus peradaban.

Pernikahan adalah tentang ilmu, tentang bagaimana engkau harus membolak-balik buku tentang psikologi lelaki dan perempuan, tentang perkembangan pada anak, tentang rumah tangga para shahabiyah...

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang kurang sehat sekalipun engkau sangat ingin mengkonsumsinya. Karena engkau tahu, engkau harus menyiapkan rahim yang kuat agar terlahir tujuh atau bahkan sepuluh para mujahid dan mujahidah.

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus menabung seperak demi seperak agar kelak engkau mampu memberikan nutrisi dan pendidikan terbaik untuk para pewaris kejayaan Islam...

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau harus belajar melunturkan ego, agar perahu yang akan dibawa bersama kelak tak karam di tengah jalan.

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau menyembunyikan keluhan dan menutupi kelemahan, pada mereka yang yang perlu penguatanmu...

Itulah mengapa, seorang Habibie membutuhkan Ainun untuk menciptakan sebongkah pesawat terbang pertama di Indonesia, itulah mengapa Rasulullah membutuhkan Khadijah untuk mengemban amanah dakwah yang tidaklah mudah... Itulah mengapa di balik lelaki yang hebat selalu ada perempuan yang kuat...

Pernikahan adalah tentang bagaimana engkau belajar untuk menjadi ibu, untuk menjadi istri, untuk menjadi menantu, untuk menjadi kakak ipar, untuk menjadi adik ipar, untuk menjadi sahabat, untuk menjadi...

Karena pernikahan adalah tak sekadar penyatuan dua insan, melainkan penyatuan dua keluarga besar.

Akhirnya,
Dalam hening penuh kesyahduan, mari bermunajat…

"Tenggelamkan hamba ke dalam lautan cinta-Mu yaa Robb, agar tak ada cinta lain yang mengisi hatiku, kecuali menambah kecintaanku pada-Mu..."

*****

Ah, dunia... Jika saja bukan dengan menjalanimu aku bisa masuk surga dan bertemu dengan-Nya... Maka dari itu, sekali lagi semuanya haruslah satu tema -termasuk perkara ini juga- yaitu, untuk-Nya...

(re-post)

20 Juli 2015

Ajarkan Jihad Sejak Dini

Ajarkan Jihad Sejak Dini
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Toleransi tanpa ketegasan adalah ketidakberdayaan. Sedangkan tanpa ilmu adalah keberingasan. Tanpa berpijak pada prinsip yang kukuh dan jelas semenjak dini, anak-anak akan kehilangan orientasi hidup yang menjadikan dirinya bermakna. Betapa banyak bangsa yang meraih kemajuan fisik luar biasa, tetapi jiwa mereka kering dan hidup mereka hampa. Bukankah Jepang mencapai kemajuan dan kemakmuran luar biasa, tetapi pada saat yang sama, banyak orang menagalami kekosongan makna dalam hidup mereka.

Inikah yang akan kita siapkan untuk anak-anak kita? Ataukah kita siapkan mereka untuk menjadi pewaris bumi yang mampu memakmurkan dengan ilmu-Nya dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi dengan iman dan kesungguhan untuk berdakwah? Ataukah tidak dua-duanya. Kalimat Allah tidak tegak, kemakmuran tidak dapat. Padahal ketika kita bicara tentang memakmurkan bumi, maknanya tidaklah sesempit dan sedangkal kemakmuran finansial. Tetapi bukan di sini tempatnya untuk berbincang. Kita bertemu sejenak di ruang ini untuk berbincang tentang apa yang harus kita berikan untuk anak-anak kita, agar tidak meninggalkan di belakang kita generasi lemah yang kita khawatiri keadaannya.

Sungguh, kita perlu ajarkan pada anak-anak kita sikap toleran terhadap mereka yang tidak seiman. Tetapi toleransi tanpa ilmu adalah kelemahan dan rasa rendah diri. Kita merasa menjunjung tinggi toleransi, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah meletakkan keyakinan kita kepada Allah di belakang kita. Kita merasa menegakkan toleransi, padahal yang terjadi sesungguhnya menanggalkan pegangan kita pada akidah yang lurus dan iman yang bersih.

Tidak akan pernah lahir toleransi yang bermartabat kecuali apabila kita yakin bahwa hanya agama inilah yang benar. Tidak ada yang lain. Sangat sulit saya membayangkan seseorang mengimani Tuhan, sementara ia tidak merasa benar-benar percaya bahwa yang ia imani benar-benar Tuhan. Padahal tanpa meyakini bahwa agama yang ia peluk adalah yang paling benar, apa pun agama yang ia peluk adalah yang ia yakini, maka sesungguhnya ia bukan sedang bertoleransi terhadap pemeluk agama lain. Bukan. Ia tidak risau dengan apa yang terjadi di sekelilingnya karena ia memang imannya rapuh dan jiwanya gersang.

Jika toleransi kita tegakkan tanpa masing-masing merasa yakin agamanya benar, maka sesungguhnya yang demikian ini adalah jalan menuju tidak adanya keimanan kepada Tuhan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan; iman kita yang sakit atau kita yang sakit jiwa. Sebab, tidak mungkin jiwa yang sehat meyakini sesuatu sebagai kebenaran dan pada saat yang sama meyakini apa yang ditentangnya sebagai kebenaran juga. Jika sikap beragama yang demikian dianut oleh kebanyakan orang, maka akan kita jumpai masyarakat yang sakit. Ada agama, tetapi tidak memberi pengaruh apa pun bagi kehidupan, cara pandang, kejujuran, kesungguhan kerja, dan seterusnya. Agama berubah menjadi sekadar gaya hidup, atau bahkan sekadar menjadi upacara yang hanya dibutuhkan ketika manusia lahir, kawin, dan mati. Pada tingkat yang lebih parah, agama hanya menjadi upacara pengantar penguburan jenazah.

Jiwa yang sehat serta memiliki kedewasaan beragama akan dapat menghormati keyakinan orang lain. Tidak ada halangan baginya untuk santun terhadap tetangganya yang kafir. Syaratnya, ia sendiri orang beriman yang benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Tanpa itu, sesungguhnya yang terjadi bukan toleransi, melainkan sikap tidak peduli pada agama. Dan inilah mimpi buruk bagi peradaban sebuah bangsa. Sebab karakter bangsa hanya akan terbangun dengan kuat apabila memiliki pijakan nilai yang kukuh, hidup, dan jelas.

Maka…

Tak ada pilihan bagi kita dalam mengajarkan toleransi kecuali dengan menanamkan iman yang kuat di dada anak-anak kita semenjak dini. Tidak akan lahir generasi yang kuat bermartabat, dan mampu menghormati orang lain yang tidak seiman kecuali kita besarkan mereka dengan membiasakan berkata yang benar (qaulan sadîda). Bukankah Allah telah mengingatkan kepadamu dalam Surah An-Nisâ' ayat 9?
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatiri keadaannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah (fal yattaqullâh) dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (wal-yaqûlû qaulan sadîda)." (Q.s. An-Nisâ` [4]: 9).

Saya tidak memperbincangkan lagi tentang qaulan sadîda pada kesempatan kali ini. Saya kutip ayat ini untuk menegaskan bahwa generasi yang kuat hanya akan lahir apabila kita besarkan di atas pijakan takwa dan berkata dengan perkataan benar (qaulan sadîda). Salah satu makna qaulan sadîda berkata tegas, tidak menutup-nutupi kebenaran. Berpijak pada dua hal inilah akan lahir anak-anak yang kukuh imannya, lembut peranganinya, dan tegas sifatnya. Ia toleran kepada pemeluk agama lain karena seperti itulah contoh yang diberikan oleh NabiShallalâhu 'alaihi wa Sallam Bukan karena kerdilnya jiwa, ciutnya nyali, dan rusaknya iman.
Ia mampu bersikap tegas karena percaya diri yang tinggi, iman yang bersih, dan ilmu yang benar. Bukan karena keberingasan dan kerasnya hati.

Agar anak-anak kita mampu bertoleransi tanpa kehilangan sikap tegas, mereka perlu memiliki keberanian, keyakinan, dan ilmu yang mencukupi. Kita perlu ajarkan kepada mereka bagaimana sikap tegas harus ditegakkan agar kelak mereka dapat melindungi dirinya (hifzh al-nafs),melindungi hartanya (hifzh al-mâl), membela agamanya (hifzh al-dîn),melindungi keturunan (hifzh an-nasb) dan melindungi akal (hifzh al-'aql). Inilah lima tujuan syariah, dan memahami jihad adalah pintu awal untuk menegakkannya.

Kita perlu menanamkan kepada mereka pemahaman tentang jihad secara utuh. Bukan mengajarkan jihad yang benar dan jihad yang salah, sebab tidak ada jihad yang salah. Kalau kemudian ada yang salah memahami jihad sehingga melakukan tindakan yang keliru, maka ini sebenarnya berpangkal pada tidak utuhnya kita memahami jihad. Terlebih ketika hari ini, kita menjumpai banyak sekali istilah yang menggunakan jihad sebelum memahami istilah jihad yang sesungguhnya benar, semakin jauhlah kita dari pemahaman tentang jihad secara utuh.

Hari ini, kita menjumpai ada jihad ekonomi, jihad intelektual, jihad pena dan seribu atau semiliar istilah lain yang menggunakan awalan kata jihad. Jika siapa pun apat menambahkan kata apa saja sesudah kata jihad, maka apakah yang dapat kita ambil dari makna jihad? Tak ada. Karena kita berjalan dengan pikiran kita sendiri-sendiri, bukan dengan petunjuk yang Allah jamin tidak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya, ini menyebabkan sebagian dari kita menganggap agama tak lagi mencukupi untuk menjawab tantangan zaman dan menyelesaikan persoalan manusia. Padahal pada kitalah kelemahan itu ada. Salah satunya bersumber dari tidak utuhnya pemahaman.

Mengajarkan jihad semenjak dini kepada anak berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan kepercayaan diri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung jawab. Pangkalnya sikap al-walâ' wa al-barâ' yang kuat, ujung-ujungnya sikap bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap amal shalih. Tidaklah kelak mereka menggerakkan pena–jika ia seorang penulis–kecuali untuk mengabarkan kebenaran dan menebar kebaikan. Pada setiap tetes tinta yang dituangkan dengan hati yang hidup dan misi yang kuat, insya Allah akan lahir kata-kata yang menggerakkan jiwa untuk melakukan kebaikan. Yang demikian ini bukan karena ia melakukan jihad pena, tetapi karena kuatnya al-walâ' wa al-barâ' yang disertai besarnyarasa tanggung jawab kepada Allah, menjadikan ia tidak membiarkan tintanya tumpah sia-sia.

Tidaklah ia hadir di dunia kecuali untuk menjadi anugerah bagi alam semesta. Ia memberi rasa tenteram bagi tetangganya, sekalipun kafir, bukan karena jihad kemanusiaan. Bukan. Tetapi, ia hadir memberi manfaat bagi masyarakat sekelilingnya karena agama kita menuntut ia untuk meneladani perilaku Nabi Shallalâhu 'alaihi wa Sallam.

Sewaktu-waktu, ia juga mampu bersikap tegas terhadap orang kafir. Bukan karena benci. Bukan pula karena api permusuhan yang berkobar-kobar tanpa sebab, melainkan karena harus menegakkan kebenaran. Ia datang untuk mengingatkan sambil berharap dapat mengantarkan hidayah. Bukan untuk meluapkan amarah yang membabi buta.

Wallâhu a'lam bish-shawâb.

16 Juli 2015

Ganti Bajumu!!

Ganti Bajumu

Malam itu, baru saja saya menuruni tangga masjid At-Tin Taman Mini usai berbagi cara Menghafal Al-Quran Semudah Tersenyum kepada para jamaah I'tikaf malam ke 23 yang saat itu memenuhi masjid, tiba-tiba salah seorang lelaki paruh baya berparas tegas dengan janggut memenuhi rahang kerasnya mendatangi saya. Sorot matanya tajam memancarkan semangat dan keteguhan, senyumannya mengiringi tangannya yang bergerak cepat menyalami tangan saya.
"Ustadz, kenalkan saya Bambang(bukan nama sebernarnya), saya baru saja mengikuti acara antum di atas,  kalau ada waktu saya ingin berdiskusi tentang anak saya", ujarnya sopan. Genggaman tangannya amat kuat. Tahulah saya beberapa menit kemudian, rupanya sosok di hadapan saya adalah pemegang 16 medali Taekwondo dari beberapa kejuaraan. Meski berperawakan pendek, prestasinya mengundang decak kagum.
Sejurus kemudian, makin takjublah saya, ditengah-tengah kami asyik berdiskusi, tiba-tiba seorang anak kecil datang. Umurnya baru 12 tahun, wajah terhias senyum berkulit coklat sawo matang itu mencium tangan tamu penuh takzim, sejurus kemudian,matanya menatap tangan saya, dan meraih tangan saya untuk bersalaman.
"Ini anak yang pertama ustadz, yang saya ceritakan tadi, namanya MRP, dia tadi sangat senang mengikuti cara menghafal yang ustadz ajarkan, dan langsung minta kepada saya untuk ikut belajar di pesantren ustadz jika masih kesempatan"
MRP, remaja yang duduk di kelas dua SMP ini membuat saya tak henti-hentinya memuji kebesaran Allah, betapa tidak. Di usianya yang masih belia, MRP sudah mengantongi 99 Medali Taekwondo, baik kejuaran lokal, nasional bahkan kejuaraan dunia.  Saya melihat koleksi medali di album foto yang ditunjukkan oleh ayahnya via Tablet yang ia bawa. Saya mengamati bagaimana sang anak berlaga di lapangan. Tak hanya mengukir prestasi di bidang Taekwondo, MRP telah hafal Al-Quran 12 juz, mahir berbahasa arab dan inggris. Saya berdecak kagum dan menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat penampilannya sehingga ia menjadi juara pidato se DKI-Jakarta. Iapun telah hafal 30 dari 40  hadits Arbain.
Dan, MasyaAllah, prestasi yang diukir MRP rupanya diikuti oleh adiknya MAKP, si adik yang berumur 11 tahun itu telah mengantongi 80 medali taekwondo , hafal 5 juz, tiga kali berturut-turut menjadi Atlet Taekwondo terbaik Indonesia.  Dan lebih luarbiasanya lagi, kedua anak ini langsung dilatih oleh ayahnya.
Lama kami mengobrol dengan sang Ayah, tak hanya malam itu, bahkan dua malam berikutnya kami menghabiskan malam-malam kami di Masjid At-Tin dengan  penuh antusias.
"Kami sekeluarga selalu beri'tikaf 10 malam terakhir di Masjid At-Tin ustadz, dan setiap I'tikaf, saya selalu mewajibkan anak-anak saya untuk menghafal 1 Juz, saya langsung yang membimbing dan mengoreksi hafalan mereka. Cukup 1 tahun 1 juz ustadz, kalaupun MRP sekarang sudah 12 juz, itu karena dia amat bersemangat menghafal. Harapan saya, di umur mereka yang ke 40 nanti, mereka sudah menjelma menjadi manusia yang hafal 30 juz dan  berkarakter Al-Quran, dengan prestasi yang bisa dibanggakan. Muslim yang kuat hatinya karena berisikan Al-Quran, kuat fisiknya, berprestasi dan pandai berbicara dengan berbagai bahasa hingga bisa bermanfaat buat ummat". 
Beberapa malam kemudian saya serta beberapa kawan menjadi saksi, betapa kami sering melihat sang ayah dan ibu bersama anak-anaknya saling berhadapan. Sang ayah menyimak hafalan anaknya, dan  tak ada ekspresi tertekan di wajah sang anak. Sang anak amat sangat ceria, sopan dan riang layaknya anak-anak biasa.
Sang ayah, yang mendirikan dan mengelola empat sekolah perguruan Taekwondo ini punya cara unik dan istimewa dalam memilih murid, ia hanya mau menerima siswa yang memiliki hafalan Al-Quran minimal 1 juz, jika tidak, ia tak akan mau melatihnya.
Di sela-sela pembicaraan, saya menyempatkan diri mencari profil keluarga ini di internet, subhanallah. Saya menemukan sederet kekaguman lainnya. Prestasi keluarga ini ada di sebuah halaman web perguruan silat Indonesia. Lengkap dengan foto-foto, catatan prestasi, juga informasi . Saya kutipkan salah satu paragraf halaman web itu di sini
"Lahir tahun 2002, MRP  lebih mencintai kegiatan menghafal Al-Quran serta berbagai pelatihan bahasa antara lain Inggris dan bahasa arab tapi tak mengendurkan semangatnya untuk berlatih ilmu beladiri
Taekwondo hobinya khususnya seni pertarungan. Memulai berlatih sejak berumur 4 tahun sejak kepulangan ayahnya dari Korea, MRP lebih suka menyertai bapaknya dalam berlatih dan melatih di berbagai unit yg di latih bapaknya., tanpa di sadari sang ayah memperhatikan bahwa putranya lebih suka melihat dan senang bila menonton pertarungan taekwondo baik dari video dan turnamen  yang dilihatnya.
.Umur 5 tahun mencoba mengikuti pertandingan Taekwondo , pagelaran kejuaraan taekwondo yg di adakan di Jabodetabek telah banyak di ikutinya hingga meraih dan selalu mendapatkan juara pertama.
Sering juga mengikuti kontes pidato di Jakarta dan menghasilkan juara pertama English Speech Contest tingkat SD se DKI ,.. dan kejuaraan menghafal Alquran di Bekasi dan Bogor, menjadi pemain film  di beberapa film seni pertarungan  di MNCTV"
-------
Banyak orang menyebut keluarga ini keluarga ajaib, tapi sang ayah hanya berujar "kami ini bukan keluarga ajaib Ustadz, kami hanya rajin berlatih. Terus berlatih dan berlatih, DISPLIN, KEMAUAN dan IKHTIAR terus. Siapun bisa melakukannya", ujar sang ayah yang merupakan lulusan Gontor dan telah melanglang ke 24 negara ini.
Salah satu kawan kami bertanya pada lelaki berusia 49  tahun ini "Mas, apa sih rahasianya sehingga bisa menciptakan budaya disiplin pada anak-anak?"
Lelaki yang juga memiliki program  16 kali pertemuan mahir berbahasa Inggris inipun  dengan penuh percaya diri mengatakan "Mas, menjadikan anak-anak disiplin itu mudah, kami hanya mengamalkan surat Al-Mudatsir"

يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5)
وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)
1). Hai orang yang berkemul (berselimut),
2). Bangunlah, lalu berilah peringatan!
3). Dan Tuhanmu agungkanlah!
4. Dan pakaianmu bersihkanlah,
5). Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6). Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7). Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .(QS.Al-Mudatsir-1-7)

"Mas, kami selalu membiasakan diri bangun jam 3 pagi, membesarkan Allah, Mandi dan selalu berganti baju, pantang bagi kami tidur sholat setelah subuh* karena Rasulullah mengatakan keberkahan bagi mereka yang tak tidur setelah shubuh. Mandi dan gantilah bajumu. Baik baju batin maupun baju lahir. Baju batin harus diperbarui agar selalu optimis dan bersemangat. Tidak loyo. Hidup harus punya target. Berganti baju yang bersih. Agar badan kitapun nyaman ketika beraktifitas. Tak ada hari kami lalui tanpa berlatih. Berbuat baiklah tanpa pengen dibales manusia mas. Hal jazaaul ihsan illal ihsan, balasan kebaikan pasti kebaikan." Ujarnya berapi-api sembari mengutip surat Al Mudatsir dan Ar-Rahman
Bangunlah untuk bertahajjud, agungkan Tuhanmu...

Followers!!