
Jangan Hanya Menjual Air Gula
Pada suatu malam di tahun 1983, Steve Jobs berdiri di balkon apartemen menghadap Central Park. Ia berbicara dengan John Sculley, presiden PepsiCo. Hidup Sculley mapan, penuh kemewahan. Tapi Jobs ingin ia meninggalkan itu semua, lalu bergabung dengan Apple—sebuah perusahaan kecil yang bahkan saat itu nyaris bangkrut.
Sculley ragu. Hingga Jobs menembakkan kalimat yang kini melegenda:
“Apakah kamu mau menghabiskan sisa hidupmu menjual air gula, atau mau ikut bersamaku mengubah dunia?” 💥
Kalimat ini menghantam jantung Sculley. Apa arti semua prestasi dan gaji tinggi kalau hanya sekadar “menjual air gula”? Ia akhirnya bergabung dengan Apple.
❓ Apa Esensi Pekerjaan Kita?
Kalimat Jobs itu membuat kita bertanya: apa sebenarnya esensi pekerjaan?
Driver ojol, tukang becak, ✈️ pilot.
Bedanya jelas, termasuk gajinya. Tapi hakikatnya sama: mengantarkan orang dari satu titik ke titik lain.
🎤 Pengamen jalanan, 🎬 artis Hollywood, 📹 YouTuber terkenal.
Kelas sosialnya berbeda. Tapi esensinya sama: menghibur orang, lalu mendapat bayaran dari hiburan itu.
⚕️ Dokter spesialis bedah, 🩺 perawat di puskesmas, 👩👧 ibu yang ngerokin anaknya yang demam di rumah.
Statusnya berbeda, alatnya berbeda. Tapi esensinya sama: berusaha menyembuhkan yang sakit.
Sering kali kita hanya terpesona pada kemasan pekerjaan. Padahal di baliknya, banyak pekerjaan punya inti yang sama.
🌍 Jadi, Pekerjaan Terbaik Itu Apa?
Kalau begitu, pekerjaan terbaik bukanlah yang paling bergengsi atau bergaji besar.
Pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang dijalani manusia-manusia terbaik sepanjang zaman: para Nabi dan Rasul.
Allah berfirman:
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).”
(QS. Fushshilat [41]:33)
🌱 Misi Hidup Para Nabi dan Rasul
Apa misi mereka?
Bukan sekadar mengisi perut, bukan sekadar menghibur, bukan sekadar mengantarkan.
Misi para Nabi dan Rasul adalah:
✨ Mengubah manusia—dari kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kegelapan menuju hidayah, dari keterbelakangan menuju peradaban yang gemilang.
Bangsa Arab dulu dikenal terbelakang, tercerai-berai, penuh jahiliyah.
Tapi setelah Islam datang, setelah risalah Nabi Muhammad ﷺ disampaikan, mereka bangkit menjadi umat yang memimpin dunia berabad-abad lamanya.
Itulah kekuatan pekerjaan para Nabi: membentuk manusia, membangun peradaban.
🔑 Penutup: Jangan Cuma Jualan Air Gula
Steve Jobs berhasil meyakinkan seorang CEO Pepsi dengan kalimat sederhana: jangan habiskan hidupmu menjual air gula.
Tapi tawaran Allah dalam Al-Qur’an jauh lebih dahsyat: apakah kita akan puas hanya dengan profesi duniawi, atau mau ikut pekerjaan agung para Nabi—menyeru kepada Allah, membangun manusia, membentuk peradaban?
Pekerjaan apapun bisa jadi ladang pahala, selama kita sisipkan ruh pekerjaan para Nabi di dalamnya. Bahkan seorang guru 👨🏫 yang mengajarkan akhlak kepada muridnya, sejatinya sedang melanjutkan pekerjaan para Rasul: membentuk manusia agar lebih baik.
Karena pada akhirnya, pekerjaan dunia hanyalah kemasan.
Tapi pekerjaan para Nabi—itulah hakikat yang abadi. 🌌