16 Februari 2011

Belajar FISIKA | Fisika itu sains, bukan sekedar mata pelajaran

Pragmatis

kata ini rasanya cukup mewakili karakteristik bangsa kita tercinta, Indonesia. Nah bagi sobat yang belum ngeh banget sama pragmatis, gampangnya gini, kalo sobat mau melakukan sesuatu asal ada impbalan yang nyata, itu pragmatis, kalo sobat baru mau bantuin kerjaan temen asal dapet manfaat, entah dapet snack, entah dapet boncengan gratis, nah itu pragmatis.

Sama juga kalo sobat pengen kuliah, gara-gara duit. Belajar UAN mati-matian biar bisa lulus, dan kemudian ngejar jurusan yang "gampang kerja dan gampang kaya" kalo sudah lulus, nah itu pragmatis.

Trus apa hubungannya sama FISIKA? hei itu kan pelajaran yang membosankan, angka dan rumus semua... trus, kalo kuliah di jurusan Fisika, mau kerja dimana? jadi guru paling...

PRAGMATIS lagi...

Kalo dalam bahasa yang lebih santun, pragmatis itu sindrom ke-tak-ikhlasan, karena ujung-ujungnya kita menginginkan kebahagiaan yang pendek, yang bersifat duniawi, instant. Tidak berpikir lebih jauh kedepan. Disebut riya bisa gak ya? gak tahu sih, soalnya dari awal orang pragmatis itu memang seringkali tidak melibatkan unsur "pengabdian pada SANG PENCIPTA" ketika melukiskan cita-citanya.

Oke, sudah ngalor cukup jauh,, saatnya kita ngidul. Lalu apa hubungannya dengan Fisika??

Orang pragmatis menganggap FISIKA itu "hanya" sekedar Mata Pelajaran yang harus ia lewati untuk menempuh jenjang selanjutnya. Semoga saja jenjang selanjutnya itu tidak berisi ke-Pragmatis-an. cukup untuk lulus UAN saja kemudian dia bisa menekuni bidang lain yang membuatnya tulus ikhlas bekerja didalamnya.

Bahayanya, kalo guru-guru, dosen-dosen fisika, dan tentor-tentor bimbel punya spirit kayak gini. Hasilnya kita akan meluncur dan terpuruk dalam perlombaan pembangunan peradaban di kancah internasional.

Tentu saja, karena orang yang mengajar fisika itu sendiri tidak merasakan arti penting FISIKA itu. apa sih FISIKA?

Mestinya FISIKA dianggap sebagai sains, sama seperti anggapan orang yang bercita-cita menjadi dokter terhadap ILMU KEDOKTERAN. Sama seperti anggapan orang yang ingin menjadi psikolog belajar ILMU PSIKOLOGI. Sama seperti orang yang ingin menjadi politikus menganggap ILMU POLITIK sedemikian penting.

Fisika sebagai Sains berarti, fisika harus diterapkan, dikembangkan untuk mempermudah kehidupan. Dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan.

Tidak sekedar dipelajari untuk lulus UAN, ikut SNMPTN, kemudian dilupakan. yah, walaupun kita tidak ingin bekerja di bidang Fisika, minimal pernah mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan FISIKA, sebagai salah satu sains. semoga berlaku juga ketika memandang sains yang lain.

Fisika itu penting lho... Makanya, ayo belajar fisika dengan semangat!!!

Mau kan seperti negara-negara lain yang maju karena pengembangan teknologinya luarbiasa, salah satu fondasinya adalah FISIKA.

Begitu juga peradaban Islam, ia bisa maju kalo orang-orangnya memiliki semangat sebesar Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Haitsami, de el el ketika mereka mempelajari ilmu sains. Masak mau kita terbelakang terus???

08 Februari 2011

Ilmu ke-1 : Selalu mempunyai NILAI TAMBAH | 24 Ilmu MILYADER

Dari hasil iseng2 buka2 buku di laptop kakak, admin nemu buku yang bagus, sebagai sharing ke seluruh pembaca admin akan mempostingnya per bab. Buku ini karangan Tung Desem Waringin, semoga beliau tidak berkeberatan saya menuliskannya di blog ini.

Ilmu ke-1: Selalu Mempunyai Nilai Tambah
Seperti seekor lebah pd waktu dia mencari madu, tanpa disadari ketika ia sampai di bunga, dan kemudian bunga tadi diambil madunya, lebah tadi menyebarkan serbuk sari dari bunga-bunga tadi, yang membuat bunga-bunga tadi menjadi buah.
Demikian juga orang yang kaya yang mencerahkan, tujuan utamanya persis seperti lebah yaitu mencari sari madunya. Efek sampingnya ternyata ia membuat kebun buah yang begitu indahnya.

Orang yang kaya juga mau mencari kekayaan, tujuannya adalah mencari uang. Dalam waktu mencari uang, ternyata ia mencerahkan dan membuat dunia ini menjadi lebihbaik, membuat orang lain menjadi bersemangat, membuat orang lain jadi lebih kaya, membuat orang lain hidupnya jadi lebih indah, lebih sehat, lebih bahagia.
Ilmu 1: Orang kaya yang mencerahkan selalu mempunyai Nilai Tambah
Apa maksudnya Nilai Tambah? Maksudnya begini: ketika anda hidup, hidup adalah nilai tambah. ketika semua orang hidup, hidup adalah nilai standard. Demikian juga ketika kita jujur, jujur adalah nilai tambah. Tetapi ketika semua orang jujur, jujuradalah nilai standard.

Dalam hidup kita harus mempunyai nilai tambah dibanding orang lain. Kita harus membuat nilai tambah dari sesuatu hal yang tidak ada menjadi ada. Jaman dahulu pada saat nabi Abaraham/Ibrahim, pada waktu ia membuat nilai tambah sedemikian sehingga satu gandum menjadi 2 gandum, 2 domba menjadi puluhan bahkan ratusan domba, demikianlah ia membuat dari tidak ada menjadi ada.

Nah, orang-orang yang kaya tahu bahwa ia mempunyai nilai tambah dalam hidup ini: ia membuat service yang bagus dalam bengkelnya, membuat harga lebih murah sedemikian sehingga orang mendapatkan keuntungan saat datang ketempat dia, atau rumah makan dengan rasa yang enak, bergizi, dan sehat. Apapun di dalam hidup ini, kita harus membuat nilai tambah. Dan ketika ada nilai tambah, kita akan jadi kaya.

Seperti definisi uang itu sendiri, uang adalah alat tukar nilai tambah. Ketika kita mau dapatkan uang yang banyak, kita harus selalu tanya: "Apa Nilai Tambah Kita?" Ketika kita berhasil membuat nilai tambah yang lebih banyak dari orang lain, maka uang akan mengejar kita.

Contoh, seperti saya (Tung Desem Waringin) ketika meluncurkan buku Financial Revolution, saya buat nilai tambah. Ketika saya percaya dalam hidup ini adalah membuat nilai tambah dan uang adalah alat tukar nilai tambah, saya membuat buku Financial Revolution yang mempunyai nilai tambah: selain materinya bagus, juga
ada 2 cd audio tambahan yang tidak ada di buku yang lain di seluruh dunia. 2 cd audio, satu adalah CD Financial Revolution, dan yang kedua adalah CD Sales Magic, Bagaimana Menjual Sepotong Roti Tawar dengan Harga 300 Juta, dan Orang Masih Berebut.

CD audionya bisa saya jual tersendiri, tapi itu tidak saya lakukan. Saya menambahkan secara gratis dalam bukunya, dan itu membuat bukunya Best Seller rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena saya fokus pada satu hal. Ketika saya membuat nilai tambah tanpa merugikan diri saya, dengan setulus hati saya berikan 2 cd audio tadi, mendadak bukunya laku 10.511 buku hanya di hari pertama secara Eceran.
Kembali lagi, apabila kita ingin kaya, selalu tanya 'Apa Nilai Tambah Saya?'.

16 Januari 2011

Untuk Adik Kelasku, Gayus

Oleh: HERI PRABOWO*

ADA anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Pumomo, ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkirkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M Tjiptardjo. Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

2222222222222

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembab mafia pajak dan berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kila mulai untuk menapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam.

Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp I (X) miliar disita. Tapi, Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).

Muda, berduit, dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. Bahkan, saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seeksklusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan-kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan di sana. Saya berbangga. Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggaan yang semu di tengah hujan cercaan.

Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh sama, lapi mereka cerdik, berpengalaman, dan punya network luas. Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.

Dengan latar belakang keluarga kurang beruntung secara ekonomi dan broken home. Gayustelah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.

Kampus dipenuhi mahasiswa duri golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (laman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu, kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa kami bisa jadi pencinta kemewahan?
Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saal bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kayabaru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memperoleh kesempatan.

Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus lidak menyia-nyiakan kesempatan. Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia “beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.

Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja.

Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan. Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri ini.
Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olokan sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air mata.
Kejengkelan muncul saat para bos mafia-mafia besar, justru nyaris udak tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk mengiringinya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya.
Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin juga jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin lidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri, dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan kita Meskipun, kini engkau merasa jadi kambing hitam.
Jika saya boleh memberikan nasihat. ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembab dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalanya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit.(sumber:Indo Pos/RIMA)
________________________________________
*) Alumnus STAN 1996. penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak
sumber : Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

11 Januari 2011

Tes analogika | Hikmah dibalik peristiwa

Pagi ini aku mendapatkan sms :

"TES ANALOGIKA, Baca baik2..
"Pagi-pagi aku ada 2"
"Siang aku cuma ada 1"
"Kalo malam aku nggak ada"
"aku ada diujung api"
dan
"aku ada ditengah-tengah air"
"aku punya kepala, sayangnya aku tak punya leher"
dan kalau aku sudah besar dan tinggi biasanya kepalaku hilang"

tanpa aku dunia dan cinta tidak akan ada"

SIAPAKAH AKU?

(kalau bisa jawab berarti kamu orangnya teliti)


Menarik bukan?? yah cukup untuk menggelitik otak logika kita mungkin. Ingin tahu jawabannya ??

apa matahari ya?? tapi cuma 1 dipagi hari
atau

bayanganku?? tapi apa hubungannya dengan "cinta dan dunia"

aduh... pusing banget... 
(mikirnya jauh amat...)

mau tahu jawabannya???
lanjutin bacanya...

Followers!!