18 Maret 2012

Malam pertama seorang munafik




Ini malam pertamaku, di tempat selebar 1 lengan dan sepanjang badan. Sesak sekali, bahkan untuk sekedar bergelung memeluk lutut karena dinginnya alas tidur yang murni terbuat dari tanah...

Sore tadi, seluruh sanak keluarga, rekan-rekanku dan orang-orang kampung ramai mengantarku ke tempat ini. Jumlah mereka banyak, namun sepi. Mereka sedang berkabung kawan...

ya ... berkabung ...
aku lah yang mereka antar ke kuburan...

Rasanya baru beberapa detik lalu, rasa sakit itu terasa di sekujur tubuhku. Dimulai dari ujung kuku kakiku yang serasa dipukul palu dengan keras, lalu merambat ke atas betis, dipukuli oleh ribuan tongkat besi tumpul, disusul cabikan pedang berkarat yang mencabik setiap mili daging dikakiku, hingga habis bersisa hingga tulang.

Merambat terus naik ke bagian paha, keatas paha, perut, lalu dada
siksaan itu tidak berkurang sedikitpun sakitya. sabetan pedang berkarat itu bertambah cepat, tak memberiku kesempatan untuk pingsan sekalipun. Semestinya syaraf tubuhku menghentikan penjalaran rasa sakit itu, dan hanya menyisakan informasi sakit yang sedikit, diawal saja. Seharusnya, yang kurasakan sama seperti orang yang pingsan karena merasakan sakit yang luar biasa.

Tapi aku bukan sedang kecelakaan, atau sedang dipukuli oleh berandalan kampung.

ribuan pedang berkarat itu tidak tampak oleh orang-orang disekitarku, namun aku merasakan sakitnya. AKU BENAR-BENAR MERASAKANNYA... sakit, perih, berlipat-lipat. Pernah merasakan kuku ibu jarimu harus dicabut? hingga nampak kulit lembut dibawah kuku? lalu tusuk-tusuklah dengan jarum jahit. setelah selesai, siramlah dengan air garam. kalau itu disebut sakit, maka yang kurasakan SERIBU kali lebih sakit dari itu...

Nyawaku sedang dicabut keluar... tanpa permisi, tanpa pemberitahuan sedikitpun, dan tanpa perlu berhati-hati mencabutnya dari jasadku. Malaikat tahu, yang sedang ia cabut nyawanya, bukanlah orang yang istimewa, sehingga ia tidak perlu repot-repot memelankan prosesnya...

Keluargaku yang menyaksikannya mengira prosesnya hanya 5 menit saja. Bagiku seperti seratus tahun, untuk sekedar menunggu gerakkan malaikat mencabut nyawaku dari dada keluar dari mulutku. RASA SAKITNYA, TAK BERUBAH SEDIKITPUN.

Sudah 10 jam kejadian itu berlangsung, waktu yang cukup bagi keluargaku untuk menyelenggarakan pengurusan jenazahku, mengurus hutang-hutangku. Menyolatkanku, dan menguburkanku di tempat sempit ini. Mestinya pekuburan ini ramai. Karena banyak kuburan-kuburan lain di sekitarku. Namun bagiku sangat sepi...

Pelan-pelan terdengar suara gemuruh. Suara itu mendekat, seiring dengan goncangan pada alas tidurku dan papan kayu diatasku. Goncangan itu membuat punggungku tergencet papan, kakiku tertekuk dengan posisi aneh. Lututku seharusnya maju ke depan, aku malah merasakannya melengkung kebelakang. Krek, suara tulang patah.

Aku berteriak, keras sekerasnya,... Burung gagak hitam di atas kuburanku terbang melesat bersama dengan burung-burung lain yang bersarang di sekitarnya.

Adzabku dimulai malam ini kawan...

sebagaimana dijanjikan oleh dua sosok raksasa berwarna hitam, yang menemuiku selepas acara pekuburan selesai...

Mereka tak berkata banyak, sedikit bertanya, bahkan tanpa sempat kujawab... dan mereka berkata, "siksaanmu akan dimulai malam ini, rasakanlah wahai orang munafik..."

munafik? apa salah ku?

seekor ular berbadan sebesar batang pohon kelapa datang membelitku. Sesak, dadaku serasa mau pecah...

"Kamu memang telah shalat lima waktu, bahkan berjama'ah dan diawal waktu..." kepala ular mendekat ditelingaku, berbisik
"Namun kamu tidak ikhlash, kamu melakukannya dengan malas. Kamu melakukannya agar dipuji oleh orang-orang disekitarmu. Oleh anak-anak santri yang kau ajari... Rasakanlah ini..."

"Kamu selalu mengajarkan kebaikan kepada orang-orang disekitarmu, tapi kamu sendiri melupakanya."

"kamu baca qur'an, banyak ayat yang kau baca tiap harinya, namun hanya lewat tenggorokanmu saja, tidak pernah kamu amalkan dan kamu renungkan..."

"Kamu berdakwah, tapi malas untuk belajar berdakwah. Hingga omonganmu terasa manis oleh murid-muridmu, tapi kering dari ilmu. tanpa makna..."

"Kamu pandu mereka, teman-temanmu tiap pekan, tapi kamu sendiri tidak serius membina dirimu sendiri..."

"Ucapanmu tidak konsisten."

"Waktumu banyak tersia-sia"

"Malammu kau habiskan dengan tidur"

"Siangmu kau lalui dengan malas"

"DAN KAMU SELALU MERASA KAMU AKAN MASUK SURGA DENGAN MUDAH??!!!!"


"Yang paling parah... kau tampakkan ibadahmu, namun kamu tidak bertambah takut kepada Allah. Begitu kamu sendirian, mulailah kamu bermaksiat kepadaNya, tanpa peduli bahwa Ia melihatmu, bahwa malaikatNya mencatat seluruh maksiatmu..."

"Lalu kamu bertobat, ya, kamu memang bertobat..."

"Lalu kamu lakukan lagi maksiat yang sama, bahkan lebih buruk lagi..."

"Bahkan tanpa rasa malu kepadaNYA kamu lakukan ritual MAKSIAT dan TOBAT SAMBALmu berulang kali, tanpa pernah berubah..."

"TOBATMU yang kau jadikan mainan itu tidak akan diterima olehNYA, karenanya rasakanlah adzab kuburmu ini"

"Sungguh, kiamat itu sudah dekat, tapi akan terasa lama olehmu karena adzab-kubur yang akan kau terima..."

"Pintu neraka akan ditampakkan padamu, sebagaimana pintu surga akan ditampakkan pula oleh orang-orang yang beriman"

"Namun, kau hanyalah orang MUNAFIK"...

"Tahukah kamu, dimana orang MUNAFIK tinggal?"

"Tentu kau tahu bukan?" "Kau telah membacanya di Al-Qur'an, kalam Allah ta'ala"


"Innal munafiqiina fi darqil asfali minannaar..."

"Sesungguhnya orang munafik itu, berada di dasar neraka"



jariku tak mampu melanjutkan tulisan ini....

01 Maret 2012

Mitos Gua




berhentilah menatap bayangan-bayangan kabur
tentang kehidupan maya
berbaliklah dan tataplah kehidupan nyata, 
yang amat terang, indah lagi menentramkan


SADARLAH!!!


berhentilah meringkuk 
dalam selimut kenyamanan dunia


Qum, fa andzir...




Keluar dari Gua yang Gelap

Ini adalah sebuah ilustrasi, yang dibuat oleh seorang pemikir besar beberapa abad

yang lalu...

Bayangkan ...

Terdapat beberapa orang yang tinggal di dalam gua bawah tanah. Tangan, dan kaki

mereka terikat, bahkan begitu rupa ikatannya, sehingga untuk menggerakkan leher

dan mengalihkan pandangan pun tak bisa. Semenjak lahir mereka tersiksa dengan

kondisi itu. Hingga hanya kepasrahan yang dapat dilakukan...



Mereka diatur agar hanya dapat memandang ke arah dinding gua. Diseberang dinding

yang mereka tatap, terdapat api unggun. di dekat api unggun ini, di belakang

punggung orang-orang tersebut lewat bermacam-macam makhluk yang menyerupai

manusia, memegang berbagai benda bersama mereka. Karena gerakan api yang bergoyang

tak teratur, maka timbullah bayangan berkejap-kejap di dinding gua, yang mereka

tatap...

Mereka mengira, haya bayang-bayang itulah yang ada. Itulah kehidupan yang menurut

mereka nyata. Mereka mulai merasa nyaman dengan "kehidupan" itu.

Suatu ketika, seorang penghuni gua, merasa ia berada dalam keadaan yang salah. Ia

merasakan ikatan-ikatan pada tubuhnya. Maka ia berusaha keras untuk melepaskan

diri dari ikatan-ikatannya. Ia sangat ingin tahu, apa yang sebenarnya asal-mula

dari semua bayang-bayang yang ia lihat dari lahir...

ikatannya pun lepas, karena kegigihannya berusaha...

Ia berbalik,

21 Januari 2012

Cerita Motivasi : Peta harta karun


Ingin bercerita kembali, ini tentang cerita yang sempat saya baca di blog orang ketika sedang mencari artikel motivasi, sayang sekali link asalnya sudah lenyap. Semoga tidak termasuk pembajakan HKI ya, atau melanggar SOPA atau PIPA (gak ngeh dengan istilah dan maksud yang bener), pokoknya penginspirasi insya Allah mendapatkan ganjaran atas kebaikannya. Amin

Cerita ini mungkin tidak pernah terjadi, namun akan saya pakai sebagai analogi, semoga mampu membangkitkan kembali motivasi kita.

Seorang pemuda sedang berjalan-jalan di pantai, kebetulan ia sedang sendiri. Ketika sedang menyusuri pantai dan merasakan sentuhan air laut di kakinya, ia merasakan sebuah benda menyentuh kakinya karena terdorong ombak. Ia melihatnya, ternyata botol bening, yang mengapung karena udara yang terperangkap didalamnya. Di dalam botol tersebut terselip kertas. Ia pun membuka sumbatnya. Ternyata peta harta karun. Isinya coret-coretan sederhana yang menggambarkan di dekat pantai tersebut, sekitar 100 meter dari bibir pantai, terdapat peti berisi emas dan berlian.

Namun ia hanya melihatnya sepintas lalu, kemudian memasukkan kembali kedalam botol, menyumbatnya dan melempar jauh ke laut. Botol itu, kembali menari bersama ombak.

"Biar orang lain saja yang tertipu dengan cerita konyol harta karun itu, aku tidak percaya."


Beberapa hari kemudian, orang lain menemukan botol tersebut. Kali ini, si penemu membacanya dengan sungguh-sungguh. Ia pun penasaran, kemudian ia mencoba menuruti arah peta itu. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan menuju laut, terjun ke air yang semakin lama semakin dalam, 50 meter dari bibir pantai, air masih dangkal, masih sebatas pinggangnya, namun lima meter kemudian, kedalaman pantai naik drastis, sampai-sampai sulit untuk melihat dasar air, meskipun air cukup jernih. Kecewa dengan kondisi yang ia dapatkan, ia memutuskan untuk membatalkan rencananya.

Peta ia masukkan kembali ke dalam botol, menyumbatnya dengan jengkel dan melemparnya jauh-jauh ketengah laut.

Terhempas keras keair, botol tersebut kembali mengembara di ombang-ambing ombak...

berkali-kali botol ini mampir ke pantai, sering kali hanya dilihat sepintas, lebih sering dilemparkan kembali kepantai, dan tidak jarang ada orang yang mencoba menyusuri hingga air menjadi sedemikian dalam, membuat orang enggan untuk melanjutkan pencarian tak pasti itu.

Hingga suatu ketika, seseorang dengan penuh tekad menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh peta tersebut. Mendapati air yang sedemikian dalam, ia tersenyum

"Rupanya memang tidak mudah, tapi tidak semudah itu aku menyerah. Meskipun harus menyewa kapal selam pun, akan kucoba."
Bagaimana kalau nihil hasilnya, dan peta tersebut ternyata palsu?
"Berarti aku telah sukses membuktikan kepalsuannya. Dan aku akan bangga dengan usaha keras yang telah kulakukan."

Ia semakin yakin

Kembali ia menyusuri air kembali ke pantai, ia meminjam perahu milik nelayan dan mendayung ke air yang dalam. Ia lepas pakaian dan segera menyelam,...

5 meter...

10 meter...

20 meter...

25 Desember 2011

Berbagi cerita

Malam-malam, dingin-dingin, sambil ngantuk-ngantuk... diiringi ceramah .wav-nya ustadz Salim A. Fillah (ceramah beliau selalu menarik, chek di http://majelisjejaknabi.blogspot.com). Ingin menyempatkan waktu sejenak untuk menengok blog pribadi ini, sekali-kali ingin nulis yang ringan saja...

saat ini, bibir ini sedang "lumpangen" (basa jawa, versi wonosari), bahasa indonesianya Sariawan, yang biasanya merupakan indikasi kekurangan vit-C, atau bisa juga karena hal lain, banyak pikiran misalnya. penyebab kedua lebih mungkin, karena kali ini perut mulai kambuh kembali "disiplin"nya, gak boleh telat makan, kalau telat sebentar saja, langsung terasa seperti diremes-remes. Gejala maag. bukan bermaksud ingin mengeluh (astaghfirullaah), semoga sakit ini menggugurkan dosa. Amin

Yang bersliweran di pikiran diantaranya skripsi, ujian bahasa arab di Ma'had Umar, tumpukan perkerjaan multimedia Flash yang menggunung dan tidak kunjung selesai, tentang ikan lele, tentang hafalan yang sering hilang dan tidak bertambah-tambah, tentang keluarga, tentang rencana berkeluarga dan lain-lain...

hari ini, seharusnya jadwal ujian dan jadwal setoran hafalan namun keduanya terpaksa batal, yang pertama batal karena kurang disiplin untuk mengatur waktu. ceritanya begini (boleh ya cerita), Ahad, 25 desember 2011, rencananya begini :
05.30 - menuju Donoharjo, ngaglik Sleman, lokasi peternakan Lele, di rumah pak Hari, untuk mengambil lele pesanan dari Bu Suyati, kelompok pengelola lele di Umbulharjo (lereng merapi)
06.30 - menuju rumah ibu Suyati - 07.15
07.15 - 07.45 - turun menuju jogja siap-ujian bahasa arab

namun ternyata yang tertulis di lauhul Mahfudz berbeda, dalam hal ini penyebab yang mestinya dievaluasi adalah tentang kesungguhan dalam kedisiplian.

yang terjadi :
 05.30 - bangun tidur setelah shubuh - eh ternyata gerimis (sepertinya hujan lebat di lereng merapi), so lanjut tidur... sampai pukul 07.00
lalu langsung meluncur ke lokasi peternakan lele, ternyata disana lele belum ditangkapi dan harus ditangkapi terlebih dahulu, sampai pukul 08.00 yah... sudah terlambat sangat untuk ujian. akhirnya diputuskan untuk tetap mengantarkan pesanan. dan waktu antar pesanan pun telat pula, harusnya sebelum pukul 8 ternyata telat 1 jam. tentu saja rencana lain pun ikut berantakan...

Evaluasi untuk pribadi : DISIPLIN dan SUNGGUH-SUNGGUH untuk DISIPLIN!!!
Rabbighfirlii... ya Rabb...
Alhamdulillah Engkau masih memberi waktu untukku...

Followers!!