03 Januari 2013

Penjara bernama negara



Ini pendapat saya lho, silahkan ndak setuju, silahkan mau dibantah, silahkan pula kalau mau memberi informasi lain, biar pemahaman saya berubah. Silahkan. Tapi tolong, silahkan baca dulu, tanpa rasa sebel, dan rasa gerah yang menyebabkan tumpukan cucian baju anda cepat bertambah karena keringat berlebih.
source : http://www.kabobfest.com/wp-content/uploads/2011/08/nationalism.jpg

Pernyataan saya begini :
Diantara sekian banyak hal-hal baru dalam peradaban manusia sekarang, yang sekarang paling menjengkelkan adalah NEGARA, dengan NASIONALISMEnya. Telinga saya agak gatel kalau dengar orang gembar-gembor perjuangan untuk negara, kemajuan untuk negara, atau demi kesejahteraan bangsa. Saya risih...

Janin baru lahir beberapa detik, kemudian esoknya seorang bayi, dimanapun berada, selama tata administasi formal (perangkat desa lah, minimal) sudah ada ditempat kelahiran bayi, maka bayi tersebut akan segera mendapat status pertama bernama warga NEGARA. Saya sebut status ini sebagai KANDANG, tadinya akan saya sebut penjara, tapi kandang sepertinya lebih pas. Kenapa kandang? karena ada batasan, ada kekang, bagi seorang berstatus warga negara tertentu yang ingin keluar kandang, atau masuk ke kandang lain. Wilayah negara. Batas negaralah yang saya sebut sebagai pagar kandang itu.

Orang-orang dengan nasionalismenya, orang-orang sedunia yang saya bahas, telah membuat batas dan sekat menyebalkan bernama negara. Lihat saja, kalau ingin keluar negeri, perbatasan dijaga ketat, keluar harus dengan passport, visa, dan diluar negri, orang dibedakan menurut tempat lahir (kewarganegaraannya). Ingin masuk berkunjung ke negara lain, harus ada visa, atau ijin dari negara yang akan dikunjungi. Ingin melintas, bahkan sekedar melintas dilangit negara lain, harus ada ijin.

Baiklah, memang ada banyak manfaat dari pendataan warga negara itu. Tapi yang sekarang terjadi terlalu berlebihan.

Parahnya, nasionalisme ini, dan batas negara ini, juga membatasi nilai-nilai universal yang harusnya tak mengenal batas dan wilayah. Nilai-nilai universal itu misalnya, nilai kemanusiaan, nilai persaudaraan karena aqidah / kepercayaan dan moral. Rasa kemanusiaan, terhalang karena batas negara. Banyak negara kemiskinan, dan lebih banyak warga negara lain yang tidak peduli dan tidak tahu. Bahkan persaudaraan karena iman ikut pula terhalang tembok nasionalisme ini.

Para pegiat masjid berteriak-teriak "Free Palestine!!", eh ada yang cuek, "Urusan negara sendiri aja belum beres, kok mikir negara lain".

Ajakan penegakan syariah dan khilafah datang, dijawab : "NKRI harga mati".

Lain lagi kalau urusan sepakbola Indonesia VS Malaysia. Semangat sekali mendukung tim Indonesia. Oke, ini baik. Namun menjadi tidak baik jika dibarengkan dengan rasa permusuhan dengan Malaysia.

Susah untuk mengubah mereka yang overdosis menggunakan nasionalisme. dan meskipun nasionalisme membawa mereka terjun bebas ke jurang, atau ke got sekalipun. tetap saja "NKRI harga mati". Tak peduli mati konyol untuk hal konyol macam ini...

Negara dan nasionalisme . . .  menyebalkan

29 Desember 2012

Bapak, nyuwun ngapuro . . .



Sudah hampir dua minggu, sejak dia berangkat dari kampung halamannya. Beberapa hari berlalu, hari-hari biasa sesuai kesibukannya. Sepuluh hari yang lalu, ia pulang kerumah. Tidak lama, total waktu di rumah hanya sekitar 4jam saja. Padahal perjalanan pulangnya membutuhkan waktu 14 jam. Singkat sekali waktunya dirumah.
Sumber : http://sofie05.files.wordpress.com/2010/07/keluarga-sakinah.jpg

Ia berbicara agak banyak dengan orangtuanya, bapak dan ibunya. Bapaknya sudah berumur, waktu pensiunnya hanya dalam hitungan pekan. Ibunya, berbeda 3 tahun dari Bapaknya, meski tentusaja, tetap tidak bisa dibilang muda. Bukankah wanita mengalami proses penuaan yang lebih cepat? Begitu kata pembicara-pembicara di kajian pra,tengah,dan pasca-nikah. 

Mereka membicarakan, tentang rencananya. Rencana masa depannya. Kuliahnya, pekerjaannya, berkeluarganya. Dan lain-lain. Orangtuanya baaik sekali, meskipun demikian tetaplah pendidik yang baik. Ia tidak perlu memikirkan biaya kuliah lanjutnya, meskipun ia sudah berkeluarga. Orangtuanya bahkan siap mendanai persiapan berkeluarganya. Namun, orangtuanya tetap mampu membuatnya menjadi pribadi yang mandiri, meskipun sebenarnya, orangtuanya cukup kaya untuk memberikan apa-apa yang diminta olehnya. 

Ia terharu, bahagia tentunya. Orangtuanya mungkin bukan orangtua favorit sedunia. Tapi, mereka berdua adalah orangtua terbaik baginya.

Namun, sayangnya, beberapa hari ini ia membuat kecewa orangtuanya. Salah satu, diantara sekian banyak hal yang mengecewakan. Ia melakukan hal yang sepele saja, kelihatannya. Setidaknya menurut apa yang kita lihat. Namun, tetap saja ini perkara yang besar. Karena yang dikecewakan adalah orangtua, bukan orang lain. Orangtua yang tidak akan pernah bisa dibalas budinya, dengan cara apapun. Sungguh, dengan cara apapun. Meskipun ia memberikan kekayaan yang setara dengan gaji presiden satu periode plus tunjangan dan sampingannya. Kenapa? karena orangtua tidak butuh uang anaknya.

Ia sadar itu. Dan ia pun tahu, cara terbaik untuk berbakti kepada keduanya adalah dengan membawa mereka berdua ke surga kelak.

Namun 3 hari lalu, ayahnya jengkel. Kata adiknya, Bapak marah, soalnya kakak tidak segera melaksanakan permintaan bapak, disuruh mengirim pasfoto dan fotokopi ka-te-pe, dan urusan administrasi saja lama. Klelad-kleled. Jangan diremehkan donk kak. Toh itu kepentingan kakak juga.

Dheg... Astaghfirullaaah...

Ia tiba-tiba cemas. Kuliah pagi harinya tidak konsentrasi. Justru ditengah kuliah ia sibuk dengan hp, dengan notebooknya. mencari cara tercepat untuk mengirimkan barang-barang itu. KTP, ia punya scannya, pasfoto, sebenarnya sudah lama diurusnya. Namun terkendala di sana dan disitu sehingga lama. Siang itu juga, ia kirim ke tukang cetak, lalu dicetak. Dan sorenya, ia segera ke jasa paket tercepat. Meskipun harganya mahal.

Sepele kelihatannya, tapi ia sungguh merasa, perbuatannya sangat buruk. Permintaan sederhana, namun tidak segera dilakukan. Baginya, ini hal yang besar. Membuat bapaknya kecewa, setelah tak-terhitung kebaikan orangtuanya yang telah dilakukan untuknya.

Bapak, nyuwun ngapuro..
mohon maaf, anakmu ini tak berbakti...

10 tahun kedepan anakmu akan selesai menghafal Al-Qur'an dan mulai mengjaganya. Semoga dengan itu, aku akan mampu mengantarkan kalian berdua masuk ke Surga. Bersama....



Orangtua anda mungkin hanya orang-orang biasa. Hidup sebagaimana orang lain hidup. Bekerja sebagaimana orang lain bekerja. Mereka pun mungkin saja memperlakukan anda sebagaimana orangtua lain memperlakukan anaknya. Atau bisa jadi, orang tua anda terlihat pelit sekali memenuhi kebutuhan anaknya. Tidak mau memfasilitasi anaknya dengan barang-barang mewah. Henpon android terbaru, pc kapsul terbaru dengan fitur canggih. Meskipun sebenarnya kaya. tidak. mungkin saja tidak. atau memang benar-benar tidak.

Atau bisa jadi, orangtua anda, terlihat kejam sekali. Anaknya disuruh bekerja membantu diladang, atau membersihkan rumah, tiap hari. Malamnya disuruh belajar, tiap malam. Bahkan mungkin sampai tidak boleh menonton televisi, bermain game, dan semacamnya. 

Tapi ketahuilah, dibalik setiap perlakuan, dibalik pelajaran kesederhanaan yang mereka berikan, mereka sangat mencintai anda. Tidak menginginkan apapun dari anda, kecuali kebaikan. Mereka ingin, anda mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan hakiki. Bukan yang kasat mata, namun yang kekal. Kebahagiaan dalam hati....

Maka, balasan terbaik untuk mereka, adalah kebahagiaan yang kekal selamanya. Bawalah mereka ke Surga Allaah, karena andalah yang paling mungkin melakukannya. Jadilah anda anak yang sholeh, yang mendoakan orangtuanya. Sehingga pahala kebaikan mengalir deras, tiada henti. 

Lakukan kebaikan, dan katakan, ya Allaah, pahala kebaikan ini, berikanlah kepada Ibu Bapak-ku, karena kasih sayang merekalah, aku mampu melakukannya...


08 Desember 2012

Malam ahad di bulan desember 2012

Bismillaah

Tulisan ini hanyalah tulisan dadakan, yang tak terencana. Sekedar ingin berlatih menulis, sekaligus mengisi blog yang sering diacuhkan. 

Malam ahad, atau malam minggu, beberapa orang menyingkatnya dengan malming. Malam ini biasanya terasa lebih panjang dari malam-malam lain, setidaknya menurut beberapa orang. Banyak tempat fotokopian tutup lebih cepat. Saya tidak tahu persis apa alasannya. Bisa jadi karena ini hak karyawan. Akhir pekan, saatnya berlibur bukan? 

Malam ahad, ini berarti hari pertama dalam satu pekan, bukan penutup. Ahad berarti satu. Bagi nashrani, ini hari beribadah, khusus. Lalu apa manka hari ahad bagi seorang muslim? Saya juga tidak tahu, sepertinya sang panutan tidak pernah mengistimewakan hari ahad, tidak melebihi hari Jum'at yang berkah. Bukankah setiap saat adalah waktu yang sama-sama SANGAT berharga untuk beribadah?

Saya, malam ahad, biasanya saya habiskan bersama anak-anak santri, di masjid. Tadarus, bercanda, ngobrol, atau sekedar mendengar cerita dan candaan mereka.
Inline image 1

Malam ini berbeda. Acara rutin itu libur, karena, alasan yang tidak keren sama sekali. Apa tadi? konser cherrybelee, atau apa lah... Jadinya anak2 tidak berangkat. Tidak semua yang tidak berangkat beralasan semacam ini. Ada juga yang beralasan ingin refreshing pasca UAS sekolahnya.

Alhamdulillaah, berarti ada yang lain yang bisa dilakukan. Seperti misalnya, saya dan ryo baru saja beres2 kamar. dan bersama yunan, kami baru saja membuat daftar "do and don't" yang akan kami lakukan dan tidak kami lakukan. Daftar ini isinya pantangan yang harus dihindari dan target yang harus dicapai. Beberapa isi pantangannya diantaranya tidak terlalu banyak tidur, khususnya setelah sholat shubuh dan ashar, tidak jorok, dan tidak rapi, dan semacamnya. Lalu, isi daftar targetnya misalnya, banyak membaca,  tidur hanya 4-6 jam sehari, tadarus 5 lembar tiap harinya, bersih2 dan lain2. Semoga dilancarkan oleh Allaah. Sayang sekali kalau kesempatan kami untuk tinggal dan memakmurkan masjid tidak bermanfaat bagi kami sendiri.

Setelah itu, masing masing berkutat dengan urusannya. Yunan di arah jam 9 saya sedang menonton spiderman 4, tanpa subtitle, semoga bahasa inggrisnya meningkat. Ryo (sepertinya) sedang menulis di buku hariannya. Irfan, sudah terkapar dikasur sejak 2 jam lalu. 

Kalau saya, sedang menulis di blog ini. Meskipun beberapa saat lalu, hidung ini tiba-tiba mimisan, dan darah mengalir cukup deras. Merah gelap. Berarti saya tidak mengalami anemia. Darahku juga cepat kering, ini berarti darah putihku normal. Dan benar, saya tunggu dua menit, alirannya berhenti sendiri. Tanpa harus menyumpalnya dengan kertas atau kapas. Mimisan ini tidak menghalangi saya untuk tetap menulis diblog ini. Saya baru saja akan mencoba fitur blogger yang mampu memposting artikel blog lewat email. Kalau berhasil maka, tulisan ini akan langsung muncul di artikel begitu saya mengirim email ini.

Setelah ini mungkin saya tutup hari ini dengan membaca buku "Negeri Para Bedebah" karya bang darwis tere-liye, baru beberapa hari lalu pinjam ke dipta, si jenggot tak-simetris. 

Itu malam ahad saya. Cerita anda mungkin berbeda.

Hanya saja, pastikan waktu anda tidak sia-sia. 

Waktu itu sangat berharga, karena ia tidak akan kembali lagi, dan anda tidak tahu, apalagi saya, tentang berapa banyak sisa waktu yang anda miliki. Maka, gunakanlah untuk memikirkan sesuatu yang penting, dan SANGAT penting. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, macam mengkhawatirkan rejeki, jodoh, nilai ujian, atau semacamnya. Itu sudah ada yang mengurus dan menjaminnya. Pikirkan saja, tugas anda dan tugas saya. Yaitu pengabdian untuk Allaah.

Karena berharganya waktu, gunakanlah bersama orang lain, jangan anda habiskan sendiri. Gunakanlah, untuk membahagiakan orang lain, untuk membawa mereka menuju kebaikan.

Atau, jangan-jangan kita menemui orang lain, hanya ketika kita membutuhkan mereka?

Itu orang lain, tak begitu prioritas. 

Eh, anda tidak melakukan hal yang sama untuk Allaah kan?
Jangan! Jangan sampai, anda menemui Allaah, hanya ketika anda membutuhkanNya. Sebaliknya, kita SANGAT membutuhkanNya, sampai-sampai anda mengerjakan segala hal, segala aktivitas, hanya untukNya. Untuk menaatiNya, untuk mendapatkan ridhoNya.

meskipun itu sekedar makan, tidur, menulis blog, membaca artikel ini, atau sekedar menulis komen di blog ini untuk mengharapkan backlink... pastikan semua hanya karena Allaah yaa....


01 Desember 2012

Outbond | Dengan siapa, bukan kemana


18-nov-2012
Ahad, a special day, espescially today.

"Dan Tuhanmu menciptakan apa-apa yang dikehendakiNya, dan memilihnya..."


Allah menciptakan malaikat, tak berbilang jumlahnya, dan memilih penghulunya, satu yang paling utama, yaitu Jibril. Allah pun menciptakan alam semesta, dan Allah memilih bumi, satu diatara butiran debu alam semesta, untuk tempat tinggal kita. Salah satu tempat tersibuk di galaksi kita, bahkan mungkin di alam semesta ini. Allah pun menciptakan 12 bulan dalam satu tahun, dan memilih satu yang paling mulia, satu yang paling dinantikan. Bahkan pada bulan ini, setan pun tak mampu berkutik, menyisakan manusia dengan tabiatnya masing-masing. Bulan Ramadhan.

Diantara 7 hari dalam 1 pekan pun, Allah pilihkan hari yang mulia, waktu dimana pahala berlipat. Jum'at Mubarok.

Tapi hari ini bukan hari Jum'at, hari ini hari ahad. Ahad istimewa. Special Day.

Istimewa bukan karena "kemana"nya, atau "ngapain"nya. Tapi "dengan siapa"nya. Maka hari ini menjadi istimewa. Percayalah . . .

Kalau anda ingin tahu, kemana sih saya sebetulnya. Jawabanya tidak terlalu luar biasa. Hanya ke depan gedung rektorat uny. 2 km dari Masjid Kampus UGM, tempat saya kerja magang, 2,5 km dari MU UGM, tempat saya kuliah, bahkan hanya 15 menit naik motor, dari tempat kami biasanya beraktivitas bersama. Ya, hanya didepan rektorat UNY. Itupun hanya di daerah dekat jalan. Dibagian yang luas aspalnya. Suasanaya, ahad pagi, harusnya banyak yang lari-lari, olahraga disana. Tapi hari ini, daerah itu kami kuasai. :)

saya tidak akan cerita tentang UNY, dengan segunung prestasinya, ataupun membandingkannya dengan dua gunung prestasinya. Karena, kalaupun dibahas, saya hanya malu, karena, sumbangan prestasi saya ndak ada.

Ngapain sih?

Biasa saja, datang pagi-pagi. Dengan rombongan, mengendarai mobil. Kalau saya menyusul menggunakan motor, karena perlu mencari peralatan dulu. Jam 7.30 pagi, semua sudah dilokasi, tinggal menunggu saya. saya agak santai, karena pasti mereka sudah sibuk menjelajah tempat itu. Meskipun bukan tempat yang asing bagi mereka. pokoknya maen....

Jam 8.00, saya resmi sampai dilokasi, mereka masih (baru saja) asik dengan bundaran bergaris-garis, ditendang kesana kemari. Tentu saja, bola. Benda ini populer sekali. Lalu kemudian, aksi dimulai. . .

Kali ini, saya memimpin, untuk kesekian kalinya. Kalau anda bertanya, seneng gak sih jadi pemimpin? Nafsu akan jawab, senang sekali. Namun, pertimbangan yang jauh lebih masuk akal dan lebih mendalam mengatakan, perlu ada orang lain yang menggantikan. Tanggungjawabnya besar, dan itu berat, tidak sekedar besar. dan juga, agar orang lain juga merasakan apa yang saya rasakan, dan belajar dari apa yang saya rasakan. Memimpin. being a leader. Tak penting umur berapa yang dipimpin.

Jumlah kami banyak, 30 kira-kira. Kami sudah dibagi menjadi 5 kelompok oleh direktur, dan tugas saya kemudian, membuat semua merasa pembagian ini adil. Tidak bisa adil, dalam artian merata secara keseluruhan. Namun, cuku membuat mereka merasa adil. Itu cukup.

Setiap tim saya tanyai tentang kepuasan mereka dengan pembagian tim. Tim yang merasa tidak puas, silahkan maju. 2 Tim maju, dan saya minta mereka untuk saling bertukar anggota agar merasa adil. Dan selesai, semua merasa adil. Sekali lagi merasa adil. Karena mereka sendiri yang memutuskan, kita hanya perlu menegaskan bahwa setelah ini tidak ada protes atau keluhan mengenai ketidak adilan pembagian tim.

Sayangnya, masih saja ada yang keberatan. Untungnya, alasan untuk membantah sudah matang, dan siap disajikan. Bukankah tadi sudah diberitahu mengenai hal ini? Protes tentang kurang adilnya pembagian tim, harusnya dibagian depan. lanjutnya saja, toh it's just games...

Kuberi tahu sesuatu. Ini cukup penting. Terkadang, keberatan yang mereka ajukan, tidak berarti benar dan harus ditanggapi. Terkadang, mereka sekedar ingin bercerita, atau sekedar ingin mencari perhatian, atau bahkan membuat suasana ramai. Ini penting. So, just enjoy it...


game pertama :

"Tadz, cepetan tadz..tadz... kesuwen." hrr, anak-anak sudah tidak sabar, dan sayangnya ungkapan ketidak sabarannya agak kasar. Kalau dirumah dan lingkungan mereka yang seperti ini masih lembut, masih ada yang lebih kasar dari itu. Secara umum, mereka belum belajar menghormati orang lain dengan baik, begitu pula dengan pengajar TPAnya. Dulu, memaki dan berkata kasar dengan pengajarnya, itu biasa, sekarang ya masih . . . :) Itu keadaannya, kami yang sedang berusaha mengubah ini, sementara hanya bisa menikmatinya.
Now, lets begin the game!!!

Karena 5 kelompok sudah terbentuk, dan semua sudah merasa adil. Maka game dimulai. Permainan yang kami laksanakan sederhana, bahannya pun mudah. Kami panitia bahkan mulai mempersiapkan dari H-1 saja. Anda yang ingin mencobanya di rumah, disekolah atau ditempat lain bersama orang-orang tercinta silahkan menirunya. . .


1. Permainan pertama : Loop balap
Saya terinspirasi dari permainan semasa TPA di tempat KKN, banyumeneng. Dulu di desa itu, kami menggunakan sarung. Karena dulu masih banyak santri yang memakainya. Kalau di kota, ditempat TPA sekarang, sudah jaaaaarang sekali yang menggunakan kain yang mirip dengan torus itu. Sebagai penggantinya, kami menggunakan tali yang dibentuk loop. dibuat kira-kira bisa dimasuki oleh anak2 tanpa kesulitan. Kalau ingin semakin menantang, loop yang kecil lebih baik.

How do we play?

Semua kelompok dibariskan, membentuk masing-masing satu baris, kemudian, saling bergandengan tangan dengan teman sebelahnya, sehingga membentuk rantai tangan. Orang paling belakang dan orang paling depan menjadi tepi rantai, sehingga hanya bergandengan sebelah tangan.


Aturannya, geser loop dari orang pertama ke ujung, dengan cara badan menerobos masuk kedalamnya. Dalam proses ini, gandengan tangan tidak boleh lepas, jika lepas. maka loop diulang dari orang pertama.

LAKUKAN SECEPATNYA, kita sedang balapan kan?

berikan skor, terserah juri, untuk pemenang pertama, kedua, dan ketiga. Nah, saran saya, jangan lakukan ini sekali saja. Lakukan paling tidak 2 kali. Yang pertama agar mereka belajar, yang kedua, agar mereka berstrategi, karena belajar dari kesalahan sebelumnya.


2. Permainan kedua : Lomba meniup Balon

sederhana saja. 5 kelompok, 25 balon, bagi rata. Misinya : kembungkan balon, tapi sampai berapa besar? tergantung jurinya. Jurinya harus yang tegas. nah, yang menarik, ada saja balon yang "sakit", jadi tidak semua balon berhasil menggembung. Ada yang bocor, ada yang meleduk di tengah jalan. hmm, itulah permainan. jadi menyenangkan kan?

Berikan skor untuk tim yang selesai lebih dulu. Atau bisa juga point per balon.



3. Permainan ketiga : Balon estafet

Balon yang tadi, buat apa? kita manfaatkan lagi. Main lagi...

Permainan ini, sama persis seperti bermain lari estafet. Bedanya, yang ini memakai balon dan ... lebih menggemaskan. Tentu saja, gemas karena anak-anak gak paham-paham dengan aturannya, dan penting untuk di ingat : Anak-anak tidak terlalu suka mendengarkan penjelasan. Jadi, sabar ya waktu menjelaskan permainannya...

nah, pada keadaan seperti ini, pengeras suara sangat berguna. Bisa menghemat tenaga untuk tidak berteriak-teriak menjelaskan. :) Kapan-kapan perlu beli megaphone kali yak...



4. puzzle berlari

Jelas, bukan puzzlenya yang berlari-lari, lalu anak-anak mengejarnya. Bukan seperti itu. Dana kami belum cukup untuk membuat puzzle semacam itu :).

Begini, sebenarnya, ini hanya tentang cara menyusun puzzle. Sederhana. Sekedar mengambil potongan puzzle, lalu di susun. Bedanya, potongan puzzle ditarus ditempat lain, dan harus diambil terlebih dahulu. Agar cepat selesai, tentunya anak-anak harus berlari mengambilnya. oiya. Setiap kesempatan mengambil, hanya boleh 1 anak-saja, setelah selesai, baru yang lain menggantikan. Lari... Lari.. biar cepet selesai! Jangan mau ketinggalan dengan yang lain.



5. puzzle berlari untuk si pintar

Yang ini, sama seperti permainan sebelumnya. Ada tambahan sedikit. Tambahannya : anak-anak yang akan mengambil potongan puzzle, harus berhasil menjawab 1 pertanyaan yang disediakan. jika tidak bisa, maka akan diberikan pertanyaan lain, sampai bisa menjawab, atau anak tersebut menyerah dan kembali ke kelompoknya. Jadi, hanya si pintar saja yang bisa membawa pulang puzzle.

O iya, tidak selalu anak yang besar (umur dan ukurannya) itu lebih pintar dari si kecil. Nasywa yang imut sudah membuktikannya. Ia berhasil membawa sekitar 3 potong puzzle lho...


Bukan kejadian istimewa kan? bukan juga acara besar, tempatnya juga cuma dekat saja. Namun kami senang, kami gembira. Ndak masalah meski hanya sekedar jalan-jalan. Yang lebih penting, kami bersama-sama.

dan kami, adalah :

Keluarga besar TKA-TPA-RTQA Masjid Nurul 'Adn











Followers!!