30 Maret 2013

Basa-basi...



apa kabar kawan? siapapun anda yang suka mampir membaca konten blog ini. atau pun sekedar lewat tak sengaja :)

Tulisan ini hanya basa-basi saja kok, sekedar selingan di waktu luang.
Saat menulis ini saya sedang di warnet kecil, di kampung saya, di tegal. Saya baru saja mengirim email untuk istri (oiya, saya sudah menikah lhooo), dan sambil menunggu adzan ashar, iseng2 saja saya mengisi blog ini. Saya sedang belajar menulis dengan predikat + objek. Seperti yang pernah diajarkan bapak-ibu guru bahasa indonesia waktu sekolah dulu :)
Saya rasakan ternyata sulit juga ya :)

Saya sedang di kampung, di tegal. Saya baru saja sampai tadi malam, sekitar pukul 9 malam, dan beberapa hal menarik sepertinya pantas untuk saya ceritakan. kalaupun anda menganggap ini ndak penting, ya maaf, toh ini sekedar basa-basi. Bukankah basa-basi itu kadang tidak berarti apa-apa selain sekedar mencairkan suasana...

Saya datang ke acara akad nikah teman satu angkatan di UGM pada hari jum'at kemarin, bersama 6 kawan lain yang berangkat bersama dalam satu mobil avanza. Tempat yang kami tuju tidak terlalu jauh, di kebumen, sekitar 2 jam dari jogja. Kami berangkat jam 6 pagi, dan sampai di lokasi jam 8 pagi. 

Sayangnya, kami mendapati prosesi akad nikah sudah selesai. Sayup-sayup, kami mendengar mempelai pria membacakan sighot taklik (maaf kalau salah tulis) pernikahannya, persis seperti yang saya baca 3 februari lalu, bedanya saya membacanya jauh disebrang pulau sana. Ya, teman kami telah shah menjadi suami, lengkap beserta kewajiban dan hak yang menyertainya.

Singkat cerita, kami bersama-sama dengan rekan-rekan lain dari UGM, ada pula dari UNY (mempelai wanita dari UNY), menghadiri acara. Kami duduk, mengikuti prosesi acara selanjutnya, dari mulai sambutan, ceramah pernikahan, bahkan infomasi dari pemerintah desa tentang tata administrasi ternyata ada dalam susunan acara. Saya pun berfikir, ini memang acara bersama milik warga :)

saya ingin bercerita mengenai pernikahan. Pernikahan bagi kami, yang berusia serba tanggung. Kami rata-rata berusia 23-25 tahun. Usia ini sering kali menunjukkan tuntutan bahwa sang penyandang angka tersebut haruslah lulus kuliah, dan memang benar, sebagian dari kami sudah lulus kuliah. Sebagian dari kami sudah bekerja, sebagian melanjutkan kuliah, sebagian kecil masih berkutat dengan status mahasiswa tingkat akhir dan seluk beluk tugas akhir yang menyertainya.

Namun tentang pernikahan. Dalam usia ini, pernikahan berarti tanggung.
Kami harus menentukan prioritas untuk didahulukan. Dan hanya yang benar butuh saja yang harus memprioritaskan pernikahan. 

Ya kami masih tanggung sekali. Kami adalah pemuda dengan pekerjaan belum mapan, kuliah belum lulus, apalagi harta benda.

Bagi saya sendiri. Saya harus merepotkan orangtua saya. Saya benar2 merepotkan beliau berdua. Bayangkan saja, Saya menikah dengan orang seberang pulau, tanpa ikut andil dana melainkan sedikit sekali...

bagi saya, prioritas menikah harus disegerakan. Dan saya berbekal janji yang pasti di tepati oleh Pemberi Janji, jika saya juga menepati janji saya pada NYA. 
An-Nuur : 30...

maaf kawan, adzan sudah terdengar... tampaknya basa-basi ini harus berakhir... 

sayang sekali :)

10 Maret 2013

Mau Sukses? Bayar harganya...



Cuma manusia kayaknya,
yang sifat malasnya itu sudah teramat sangat,
belum lagi suka mengeluh
di sembarang tempat
di berbagai kesempatan
di segala macam keadaan

Memang benar, sungguh manusia itu suka mengeluh lagi berkeluh kesah,
bahkan manusia suka sekali bertemu dan berbincang-bincang
tentang keluhan-keluhan, tentang kepayahan-kepayahan

Allah berfirman :
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh
Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah
(Al-Ma'arij 19-20)

Keluhannya macam-macam
sebagian besar karena keadaan yang dirasakan tidak memuaskannya

ini menunjukkan kurang bersyukur
tidak lain tidak bukan

karena orang kaya-raya pun masih saja mengeluhkan hartanya yang kurang banyak,
banyak lagi yang mirip

dan tentu saja ada pula si miskin yang tidak pernah mengeluarkan keluhannya, namun malah memperbesar syukurnya,
banyak pula teladan lainnya

ada pula yang mengeluh,
sulit dan beratnya untuk bekerja, untuk menjadi sukses
sulit dan beratnya belajar, untuk menjadi pintar
sulit dan beratnya berolah-raga untuk menjadi kuat

dan betapa beratnya aktivitas untuk mencapai derajat kemuliaan

tentu saja, semuanya berat,

anda ingin menjadi mulia?
anda ingin menjadi sukses?
anda ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia?
anda ingin mendapatkan kenikmatan yang kekal di akhirat?

mudah saja,

BAYAR HARGANYA!!!

Perbanyak syukur, hilangkan keluhan, lakukan perbuatan.
Dunia ini penuh dengan kesusahan, dan kesengsaraan,
Surga lah tempat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan.

tiada kejayaan bagi si pemalas

(##catatan kecil untuk menyemangati diri...##)

23 Januari 2013

Serba susah



Pokoknya, surga itu harga mati deh, ndak bisa ditawar-tawar...

Bandingkan dengan hidup di dunia. Ndak ada yang enak.

Jadi anak-anak ndak selalu enak, selalu diatur-atur orang tua, dilarang begini, disuruh begitu, jail sedikit kena  marah. Ndak mandi sore, kena marah, ndak enak deh pokoknya...

Jadi anak sekolah juga sama. Sama-sama ndak enak. Berangkat pagi, pulang sore, PRnya banyak, pelajarannya bikin pening, gurunya ada yang suka marah, harus pake seragam, banyak aturan . . . ndak enak  deh pokoknya

source : http://warisanindonesia.com/wimedia/2011/06/sengsara-membawa-nikmat.jpg

Jadi mahasiswa, sama juga. Siapa bilang lebih enak, gara-gara ndak usah pake seragam, berangkat kuliah lebih bebas. Jauh dari orang tua. Tapi mahasiswa kudu siap jadi orang dewasa, diminta tanggungjawab, harus punya idealisme, harus berjuang untuk eksistensi dirinya. Mahasiswa itu super banget lho tanggungjawabnya, sampai-sampai mahasiswa itu bisa bikin presiden lengser dari kursi anget dan kinclongnya itu.

Kadang ada yang bilang enak jadi mahasiswa, maen game seharian ndak ada yang protes, lha iya, wong jauh dari orang tua. Tapi nanti kan kalau nilainya jeblok, baru tuh berasa, bapak-ibunya bak bison ngamuk di tengah-tengah pasar. Ditambah lagi kalau sudah di semester tua, kuping harus siap2 pedes dengan pertanyaan sakti "kapan lulus?", apalagi kalau yang tanya adek angkatan.  hmmm...

Jadi mahasiswa aktivis rohis atau bem juga sama, meskipun aktivitasnya segunung, jalan-jalan tiap bulan. Rihlah berkedok tarbiyah jasadiyah, atau touring berkedok studi banding. Tetap saja, ndak enak, soalnya masih mikir tanggung jawab, masadepan, skripsi, nilai, dan "kapan nikah"...

Mahasiswa ibarat manusia setengah matang, sedang enak-enaknya, eh ternyata ditunggu untuk disantap

Sudah menikah juga sama, ndak enak, mikir nafkah, mikir tanggungan anak istri, bayar kontrakan rumah, sosialisasi sama tetangga, jadwah jaga ronda, nyumbang kalau tetangga hajatan. hmm saya belum pengalaman, tentang ini, tapi jelas kelihatan ndak enaknya...

Jadi orang kaya juga sama, kaya bannget, bisa stress, kapan bahagianya. Kaya-nya nanggung juga stress, aduh, belum mapan nih bisnisnya . . .

Sudah tua juga sama ndak enak, mulai pikun, mulai diangggap remeh sama anak, lingkungan dan keluarga. Badan mulai rontoh, mulai pikun, jalan susah, tidur ndak nyenyak . . .

Pokoknya, banyak deh keluhannya kalau di dunia, silahkan tambah sendiri kalau mau,
makanya
SURGA yang kekal, ndak boleh sampai lolos, HARUS DAPAT

Sabar dengan semua ketidak-nyamanan di dunia, bersyukur dengan apa yang ada, lalu gunakan untuk mendapatkan akirat, untuk mendapatkan ridho Allaah, lalu bersenang-senang di surga, selama-lamanya

sepahit apapun hidupmu, tak masalah, karena selalu ada hari akhirat yang lebih baik, bagi orang-orang yang pantas


المؤمن في الدنيا كالأسير يسعى في فكاك رقبته 

Mukmin di dunia bagai tawanan yang berjalan, dengan belenggu di lehernya. 
-Hasan Al Bashri-

04 Januari 2013

5 menit lebih



Berapa menit jam tangan atau hapemu dipercepat?

5 menit, mungkin ada yang lebih, rata-rata 5 menit lebih. Lebihnya macam-macam, HP saya sendiri 5 menit (saya tidak punya jam tangan). Temen saya yang keren malah 1jam 45 menit lebihnya. Kakak disamping kanan saya 10 menit. hmmm... masih dalam kategori 5 menit lebih.

sumber : http://www.indonesiarayanews.com/sites/default/files/styles/caption/public/072012/jam_new.jpg

Saya iseng-iseng survey orang-orang tentang penunjuk waktu mereka. Lebih tepatnya liat di kaskus, kebetulan ada survey yang membahas itu. Mohon maaf surveynya baru sedikit sampelnya. Dari 58 orang berikut datanya :

Yang diperlambat dari jam sebenarnya = 3 orang atau 5,17 %
Pas, tidak lebih dan tidak dikurangi = 14 orang atau 24,13 %
Dipercepat kurang dari 5 menit = 1 orang 1,72 %
Dipercepat 5 menit = 12 orang atau 20,69 %
Dipercepat 10 menit = 11 orang atau 18,96 %
Dipercepat 15 menit = 10 orang atau 17,24 %
Dipercepat 20 menit = 2 orang atau 3,45 %
Dipercepat 25 - 30 menit = 9 orang atau 15,51 %
dipercepat lebih dari 30 menit = 1 orang atau 1,72 %, diitambah temen saya yang keren jadi 2 orang

sumber : http://archive.kaskus.co.id/thread/14947640/

Well, saya tidak tahu alasanpasti penyebab orang-orang melakukan penambahan pada penunjuk waktu mereka. Kalau saya sendiri karena agar saya tidak terlambat, karena menggunakan penunjuk waktu yang dipercepat lima menit itu. Sepertinya orang lain juga sama. Beberapa responden di kaskus mengatakan agar lebih disiplin, agar lebih santai. Namun banyak juga yang mengatakan, percuma saja dipercepat, kalau ternyata sudah tahu bahwa penunjuk waktu tersebut sudah dipercepat. Nggak ngefek

Kenyataannya saya pernah terlambat. biasanya 5 menit lebih terlambatnya. Baik ketika kuliah, halaqah, atau janjian lain. Alasannya, karena baru berangkat mendekati waktu janjian. Dan juga kurang memperkirakan waktu untuk perjalanan dan persiapan. Para responden kaskus juga beberapa tetap saja terlambat, meskipun tidak semua.

Ini semacam paradoks, banyak orang yang mempercepat jam tangan atau penunjuk waktu, namun tetap saja banyak orang yang terlambat. Sama paradoksnya seperti, banyak orang yang mengebut di jalan raya, namun banyak orang yang terlambat.

Sampai disini tidak ada masalah. Kalau hanya terkait dengan urusan pribadi masing-masing. Terkait dengan jam-tangan masing-masing.

Namun tidak berhenti sampai disitu. Hanya satu dari lima orang yang memilih menyetel jamnya dengan tepat. Empat dari lima orang yang lain, dan itu berarti 750ribu orang dari 1000 orang penduduk, atau 150juta orang di Indonesia dari 200juta penduduknya yang mempercepat jamnya. Dan lazimnya masyarakat, pemikiran yang mayoritas akan mempengaruhi kehidupan secara umum.

Tak usah jauh-jauh, 75% itu termasuk juga para pengurus masjid, atau takmirnya, atau sekedar orang yang suka adzan dimasjid. Jadi, silahkan anda periksa, kebanyakan masjid adzan 5 menit lebih cepat dari jadwal seharusnya. Tentu saja jika jam tangan anda tidak dipercepat. :)

Ini menjengkelkan sekali, saat saya (jadi takmir masjid) berusaha tepat waktu untuk adzan, mesjid lain mendahului, dan jama'ah masjid akan dengan segera menyuruh adzan, padahal belum waktunya. Dibilang pemalas, itu biasa...

Kalau anda berbaik hati, cobalah cek jam dinding masjid. Jika anda dapati jam tersebut dipercepat 5 menit lebih, tolong betulkan ya . . . 

Followers!!