22 Juli 2013

Amalmu hanya bergantung padamu (pendekatan aksiomatik)

 
Setelah menjalani proses belajar, membaca, merenung, berguru dan lain sebagainya, saya telah sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwasanya :

Kesimpulan :
"Setiap orang bertanggungjawab atas urusannya sendiri-sendiri, baik itu berupa kebaikan maupuan keburukannya. Orang lain tidak dapat merugikannya, ataupun menguntungkannya, sama sekali."
sumber gambar : http://www.cahayanabawiy.com/ukurannya-adalah-niat/

Pada artikel ini, saya akan menjelaskan sampainya saya pada kesimpulan tersebut. Namun sebelumnya saya memohon maaf sebesar-besarnya jika bahasa penyampaiannya kurang nyaman untuk dibaca. Saya sudah lama tidak menulis, dan memang tidak berlatih menulis lagi sejak lama. Mohon dimaklumi.

Mari kita mulai.

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengetahui mengenai definisi BAIK / BURUK itu.

Definisi 1
"BAIK atau BURUK itu menurut timbangan Allah. Manusia dapat mengetahui sebagiannya melalui petunjuk yang Allah berikan melalui rasulNya atau kitabNya, yang terangkum dalam agamaNya yang sempurna : Islam."

Pendefinisian ini penting, karena kita harus menghindari sifat subjektifitas mengenai BAIK dan BURUK ini. Contohnya misalnya mengenai perintah ber"jihad" (berperang di jalan Allah), manusia menganggap berperang itu buruk, sehingga membencinya, namun tidak dalam pandangan Allah, sebagaimana firman Allah :

2:216. diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Alasan lain adalah karena Allah mengetahui, sedang kita tidak mengetahui.

Langkah selanjutnya akan diajukan proposisi:

Proposisi 
"Ada dua jenis kejadian yang menimpa manusia. Yang pertama berjenis nikmat/kesenangan (kelapangan rizki, kesehatan, dan sejenisnya), yang kedua berjenis musibah (kesempitan rizki, kesehatan dan sejenisnya). Dan keduanya bisa bernilai BAIK/BURUK, hanya bergantung pada sikap orang yang mengalaminya."

Proposisi ini di dasarkan pada hadist Rasulullaah Shollallaahu 'alayhi wassallam :

Dari Syu'aib,Rasulullah bersabda :"Sungguh perkara seorang mukmin itu menakjubkan. Semua perkaranya merupakan kebaikan dan hal itu tidak didapati kecuali pada diri orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan lalu kemudian bersyukur, maka itu baik baginya. Bila terkena kesempitan/musibah lalu bersabar, maka itu kebaikan pula baginya." HR Muslim.

Langkah selanjutnya kita akan menuju kesimpulan, sebagaimana yang tertulis di awal pembukaan artikel ini.

Setiap orang bertanggung jawab atas urusannya sendiri. Orang lain tidak dapat memberikan keburukan kepadanya, ataupun memberikan kebaikan kepadanya. Hal ini sesuai dengan proposisi diatas yang didasari oleh hadist sebelumnya. 

Mari kita membuat permisalan.

Seorang ahli maksiat melakukan perampokan terhadap seorang mukmin, dan ia berhasil. Jika kita sekilas melihat hal ini, terbayang di benak kita bahwa yang dirugikan adalah si mukmin tersebut. Namun tidak demikian hakikatnya. Hakikatnya yang sedang merugikan dirinya sendiri adalah si ahli maksiat. Ia sedang menambah catatan keburukannya dihadapan Allah. Sedangkan bagi seorang mukmin, jika ia telah berikhtiar dan kemudian bersabar dan ikhlash, maka baginya kebaikan di sisi Allah. Meskipun ia kehilangan harta yang telah dirampok, atau ia mengalami luka-luka akibat penganiayaan si perampok. Namun sekali lagi si mukmin bisa tetap mendapatkan kebaikan.

Hal ini dikuatkan oleh  : 

“Barangsiapa melakukan amal salih maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)


Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya; barangsiapa yang melakukan suatu amal salih maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah maha kaya sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah)

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6) 

Sehingga, sampailah kita pada kesimpulan diatas.

Maka, benar kata seorang ulama bijak :

Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain. 
Karena itu, hatikupun jadi tenteram. 

Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. 
Karena itu, aku pun sibuk beramal. 

Aku tahu Allah selalu mengawasiku. 
Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. 

Aku pun tahu kematian menungguku. 
Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.
(Hasan Al-Bashri) 

30 April 2013

Preman en Koruptor


Beberapa saat lalu kita dikejutkan oleh permasalahan premanisme yang sangat mengganggu. Contohnya nih, para ibu-bapak pedagang kaki lima yang ingin berjualan dipasar, terpaksa harus menyisihkan keuntungannya untuk para preman. Kalau saya dan temans juga pernah merasakan sendiri dampak negatif premanisme. Saya dan teman-teman saya dipalak preman terminal di terminal paling angker (versi saya) di jakarta, yaitu Pulogadung. Perjalanan pulang ke kampung, yang seharusnya hanya 100-200 ribu, kami harus membayar sampai dua kali lipat. Dan ternyata masalah premanisme disana sudah mengakar kuat sedemikian rupa. Sampai-sampai para petugas tidak mampu berkutik mengurus para preman.
source : http://www.tokopedia.com/bendarohani/koruptor-tampan-berhati-preman-balada-jiwa-anak-negeri

Mirip dengan itu masalah yang mirip adalah korupsi, dengan berbagai aspeknya. Kalau yang ini, saya kira semua orang tahu, dan tidak perlu lah dibahas panjang lebar mengenai keberadaan korupsi dan koruptornya. Bahkan tanpa sadar pun bisa jadi kita termasuk bagian dari nya....

nah, saudara-saudara sekalian, saya ingin bercerita. Cerita saya mengenai hasil pekerjaan pengangguran saya. Yaitu mengenai cara efektif untuk membrantas dua hal menyebalkan diatas. Cara ini saya hasilkan dari berfikir mengenai kenapa dan mengapa (sama saja sih), permasalahan premanisme dan korupsi ini muncul. Saya juga tidak mengatakan cara ini adalah cara yang menyenangkan. coba saja ya...

Saya pikir, kedua masalah itu muncul karena ada pelaku. Meskipun terkadang sistem dapat pula memaksa orang melakukan kejahatan, namun tetap saja saya pikir pelakulah yang mewujudkannya. Jadi, mari berfokus pada si pelaku. Premanisme muncul karena ada segerombolan preman, begitu pula dengan korupsi. Sangat jarang aktivitas premanisme dan korupsi yang murni dilakukan oleh satu orang. Sangat jarang.

Jadi mari kita fokuskan pada gerombolan ini, sebagai pelakunya. Nah, untuk menyelesaikan permasalahan dalam gerombolan ini, tentunya perlu diketahui bahwa anggota dari gerombolan itu adalah manusia. satu orang manusia. yang mempunyai pemikiran dan konsepsi yang sama tentang premanisme dan korupsi dan kemudian saling bekerjasama.

Maka, saya menyimpulkan masalahnya pada manusia dan pola pikirnya. Dengan kata lain, pemahaman-pemahaman yang dijadikan oleh manusia tersebut sebagai kepercayaan dan titik tolak segala perilaku. Boleh lah kita sebut sebagai sesuatu yang mirip "akidah", begitu.

Contohnya nih, seorang anak berangkat sekolah. Alasannya, bisa dari model yang paling idealis, sampai yang paling malas, ingin menuntut ilmu agar pintar, atau takut dihukum orang tua kalau tidak sekolah, ataupun karena malu dengan teman-temannya kalau tidak sekolah. Lalu kemudian, keyakinannya tentang sekolah akan menentukan bagaimana ia bersekolah, dengan beragam faktor penentu lainnya tentu saja. Jika dia berfikir ilmu disekolah ini tidak berguna dan tidak bermanfaat, tentu saja kita yakin dia akan malas belajar. Sebaliknya, jika ia yakin seyakin-yakinnya, yaitu keyakinan yang benar-benar diikuti pengetahuan, diikuti kesadaran akan dampak positif dan negatifnya, sehingga menghasilkan motivasi, maka sang anak ini akan bersungguh-sungguh belajar. semoga contoh ini bisa difahami.

jadi begini, langsung kepada inti permasalahannya. Misalkan nih, misalkan saja nih ada mas-mas preman dan bapak-bapak koruptor (ada juga preman dan koruptor wanita, btw, ndak penting lah itu).  Dan kalau mereka tiba-tiba mendapat hidayah dari Allah, dan masuk islam dengan sungguh-sungguh. Dan mereka belajar dua saja keyakinan dalam islam (ini baru ilustrasi, dua itu masih kurang banyak), kemudian mereka mempercayai dengan penuh, menggigit kepercayaan tersebut dengan gerahamnya, sampai kuat menancam dan berbekas, sampai mati. Maka, semua permasalahan premanisme dan korupsi, akan menjadi masa lalu buat mereka. Buat kita juga tentunya, kan preman dan koruptornya jadi tobat.  kepercayaan aapa itu?

Dua kepercayaan tersebut (misalnya )adalah kepercayaan bahwa Allah, tuhannya, menjamin penuh rejekinya, tidak akan tertukar, meskipun hanya satu rupiah. Tidak akan tertukar rejekinya, meskipun saat ini rejeki itu berada didasar laut, atau berada dipuncak gunung. Ia yakin benar dengan hal ini. Ia yakin, apapun pekerjaannya, apapun status pekerjaannya, halal atau haramkah, rejekinya tidak akan tertukar. Satu rupiahpun. Tidak akan tertukar.

Jika ia juga percaya bahwa ada balasan di akhirat, berupa surga dan neraka, bagi mereka yang pantas. Bahwa sipendosa, jika terus-menerus melakukan dosanya, akan masuk ke neraka, dan mendapatkan siksa paling pedih yang tak pernah terbayangkan. Siksa yang membuatnya, dalam sekejapan mata, menjadi lupa dengan semua kebahagiaannya didunia, dengan semua kenikmatan haramnya di dunia.

Dan begitu pula, setiap perbuatan baik, akan mendapatkan balasan setimpal, dan lebih baik di surgaNya. tidak pernah tercurangi sedikitpun, karena hari pembalasan di adili oleh Allah yang Maha Teliti, Maha Adil, dan tak pernah mendzholimi hambaNya. Meskipun di dunianya, ia menjadi terhina dihadapan manusia, karena ia tetap berbuat baik, disaat semua orang membangkang...

Dan, jika saja, para preman dan koruptor, percaya dengan 2 hal ini saja. maka hanguslah perkaran premanisme dan korupsi. Hangus lenyap tak berbekas...

percayakah?

apatah lagi jika semua orang didunia mempelajari islam, secara sempurna... :)

aslim, taslam...

berislamlah... maka engkau akan selamat

30 Maret 2013

Basa-basi...



apa kabar kawan? siapapun anda yang suka mampir membaca konten blog ini. atau pun sekedar lewat tak sengaja :)

Tulisan ini hanya basa-basi saja kok, sekedar selingan di waktu luang.
Saat menulis ini saya sedang di warnet kecil, di kampung saya, di tegal. Saya baru saja mengirim email untuk istri (oiya, saya sudah menikah lhooo), dan sambil menunggu adzan ashar, iseng2 saja saya mengisi blog ini. Saya sedang belajar menulis dengan predikat + objek. Seperti yang pernah diajarkan bapak-ibu guru bahasa indonesia waktu sekolah dulu :)
Saya rasakan ternyata sulit juga ya :)

Saya sedang di kampung, di tegal. Saya baru saja sampai tadi malam, sekitar pukul 9 malam, dan beberapa hal menarik sepertinya pantas untuk saya ceritakan. kalaupun anda menganggap ini ndak penting, ya maaf, toh ini sekedar basa-basi. Bukankah basa-basi itu kadang tidak berarti apa-apa selain sekedar mencairkan suasana...

Saya datang ke acara akad nikah teman satu angkatan di UGM pada hari jum'at kemarin, bersama 6 kawan lain yang berangkat bersama dalam satu mobil avanza. Tempat yang kami tuju tidak terlalu jauh, di kebumen, sekitar 2 jam dari jogja. Kami berangkat jam 6 pagi, dan sampai di lokasi jam 8 pagi. 

Sayangnya, kami mendapati prosesi akad nikah sudah selesai. Sayup-sayup, kami mendengar mempelai pria membacakan sighot taklik (maaf kalau salah tulis) pernikahannya, persis seperti yang saya baca 3 februari lalu, bedanya saya membacanya jauh disebrang pulau sana. Ya, teman kami telah shah menjadi suami, lengkap beserta kewajiban dan hak yang menyertainya.

Singkat cerita, kami bersama-sama dengan rekan-rekan lain dari UGM, ada pula dari UNY (mempelai wanita dari UNY), menghadiri acara. Kami duduk, mengikuti prosesi acara selanjutnya, dari mulai sambutan, ceramah pernikahan, bahkan infomasi dari pemerintah desa tentang tata administrasi ternyata ada dalam susunan acara. Saya pun berfikir, ini memang acara bersama milik warga :)

saya ingin bercerita mengenai pernikahan. Pernikahan bagi kami, yang berusia serba tanggung. Kami rata-rata berusia 23-25 tahun. Usia ini sering kali menunjukkan tuntutan bahwa sang penyandang angka tersebut haruslah lulus kuliah, dan memang benar, sebagian dari kami sudah lulus kuliah. Sebagian dari kami sudah bekerja, sebagian melanjutkan kuliah, sebagian kecil masih berkutat dengan status mahasiswa tingkat akhir dan seluk beluk tugas akhir yang menyertainya.

Namun tentang pernikahan. Dalam usia ini, pernikahan berarti tanggung.
Kami harus menentukan prioritas untuk didahulukan. Dan hanya yang benar butuh saja yang harus memprioritaskan pernikahan. 

Ya kami masih tanggung sekali. Kami adalah pemuda dengan pekerjaan belum mapan, kuliah belum lulus, apalagi harta benda.

Bagi saya sendiri. Saya harus merepotkan orangtua saya. Saya benar2 merepotkan beliau berdua. Bayangkan saja, Saya menikah dengan orang seberang pulau, tanpa ikut andil dana melainkan sedikit sekali...

bagi saya, prioritas menikah harus disegerakan. Dan saya berbekal janji yang pasti di tepati oleh Pemberi Janji, jika saya juga menepati janji saya pada NYA. 
An-Nuur : 30...

maaf kawan, adzan sudah terdengar... tampaknya basa-basi ini harus berakhir... 

sayang sekali :)

10 Maret 2013

Mau Sukses? Bayar harganya...



Cuma manusia kayaknya,
yang sifat malasnya itu sudah teramat sangat,
belum lagi suka mengeluh
di sembarang tempat
di berbagai kesempatan
di segala macam keadaan

Memang benar, sungguh manusia itu suka mengeluh lagi berkeluh kesah,
bahkan manusia suka sekali bertemu dan berbincang-bincang
tentang keluhan-keluhan, tentang kepayahan-kepayahan

Allah berfirman :
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh
Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah
(Al-Ma'arij 19-20)

Keluhannya macam-macam
sebagian besar karena keadaan yang dirasakan tidak memuaskannya

ini menunjukkan kurang bersyukur
tidak lain tidak bukan

karena orang kaya-raya pun masih saja mengeluhkan hartanya yang kurang banyak,
banyak lagi yang mirip

dan tentu saja ada pula si miskin yang tidak pernah mengeluarkan keluhannya, namun malah memperbesar syukurnya,
banyak pula teladan lainnya

ada pula yang mengeluh,
sulit dan beratnya untuk bekerja, untuk menjadi sukses
sulit dan beratnya belajar, untuk menjadi pintar
sulit dan beratnya berolah-raga untuk menjadi kuat

dan betapa beratnya aktivitas untuk mencapai derajat kemuliaan

tentu saja, semuanya berat,

anda ingin menjadi mulia?
anda ingin menjadi sukses?
anda ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia?
anda ingin mendapatkan kenikmatan yang kekal di akhirat?

mudah saja,

BAYAR HARGANYA!!!

Perbanyak syukur, hilangkan keluhan, lakukan perbuatan.
Dunia ini penuh dengan kesusahan, dan kesengsaraan,
Surga lah tempat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan.

tiada kejayaan bagi si pemalas

(##catatan kecil untuk menyemangati diri...##)

Followers!!