06 Mei 2012

Bagaikan Mengambil cinta dari lagit, dan menyebarkannya ke bumi



Bagaikan mengambil cinta dari langit
lalu 
menyebarkannya ke bumi


Pernah baca kalimat itu?

Yap, kalau kamu pernah baca, atau sekedar ikut bedah bukunya Ustadz Salim A. Fillah, pasti pernah mendengarnya. Terus, mas, mas, ngapain sih kita bahas cinta di blog ini? dan kebelet nikah ya?
(ssstt... ^_^)

Harap tenang sodara-sodara, kita mau bahas yang jauh lebih besar dan jauh letaknya dari bahasan itu.

Setelah agak lama merenung, yang meskipun kurang efektif (disambi aktivitas lain sih), dan hasil baca sedikit buku, maka saya berani menyimpulkan, meskipun belum final, bahwa inilah salah satu tugas terpenting manusia yang paling mendasar.

bentar, bentar, pelan-pelan dulu...

Kalau kamu sudah sukses menata konsep diri dan konsep kehidupan kamu, maka persoalan ini akan segera beres. Tapi, tenang saja, saya ulangi pelan-pelan...

Bagi seorang manusia, ia harus mempunyai pijakan mendasar yang kuat, mengenai pandangannya tentang hidup dan kehidupan. Kemudian ia akan dapat melangkah dengan tegap dan mantap menjalaninya (galau? ke laut aje). Tentang hidup berarti ia paham darimana asal kehidupan, kedudukan dia dalam kehidupan, dan kemana perginya kehidupan yang ia miliki.

Jawabannya mudah bukan, kita diciptakan oleh Allah, sehingga dapat hidup dan menjalani kehidupan. Dan dari petunjukNya kita tahu, ternyata hidup kita itu sebentar, dan sekedar mampir, untuk menyelesaikan tugas dari Nya. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju keabadian.
(ref : QS 51:56, QS 2:30, QS 64:9, de el el)

Tentang kehidupan, berarti ia paham bagaimana menjalaniNya, setelah mengerti tugasNya untuk beribadah dan untuk menjadi khalifahNya, maka bergeraklah ia, berdakwah, seruan-seruan keimanan, dan seruan-seruan cinta...

eitss, jangan berpikir aneh-aneh dulu

saya menyebut seruan-seruan dakwah itu adalah seruan cinta, dan kamu harus ikut sepakat dengannya. Dalam kehidupan itu sendiri sudah tercium aroma cinta, dari Allah Ar-Rahmaan dan sekaligus Ar-Rahiim...

karena cintaNya, jadilah manusia ini hidup dengan segala kelebihan yang dimiliki dibandingkan makhlukNya yang lain. Bandingkan saja manusia dengan tumbuhan, atau hewan, beda kan? bahkan kita ngotot untuk membedakan diri kita dengan hewan atau tumbuhan (meskipun kadang perilakunya tak jauh beda)

Nah, tugas ke-khalifah-an kita juga sama. Kita mengambil cinta dari langit, dan menyebarkannya ke bumi.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS An-Nahl : 125)

Tuuuh, betulkan, seruan-seruan kita harus berisi hikmah, pengajaran yang baik, bahkan dalam berdebat pun harus dengan cara yang baik.

Apalagi, hidayah itu hanya milik Allah. Walaupun sebatalion kader dakwah kita kerahkan untuk membuat satu orang menjadi beriman, ya belum tentu bisa, kalau Allah belum berkehendak. (adanya malah takut ya? dikira maling diuber-uber)

Jadi, sepakat kalau seruan dakwah itu seruan cinta?



Bagaikan mengambil cinta dari langit
lalu 
menyebarkannya ke bumi


Bedanya ada sedikit, dakwah kita itu tidak seratus persen sama seperti kata "mengambil", yang kesannya, kalau nggak kita ambil, nggak bakal tuh, cinta itu bakal tersebar. Nah, Allah itu, PERCAYA DEH, jauuuhhh lebih tahu, dan lebih berkuasa dari kita (MAHA TAHU dan MAHA KUASA gitu...).


mau kita ikut-ikutan ngambil kek, atau cuek kek, CINTA Allah akan terus tersebar... dakwah lillaahi ini akan terus berjalan.


Nah, oleh sebab ini, maka ndak ada lagi istilah gede hati, merasa benar sendiri, angkuh dan sejenisnya ketika mengajak dan memberi tahu orang-orang untuk berislam dan beriman dengan benar. mestinya kita menyeru dengan rasa CINTA... dan membuat orang lain merasakannya...


(ditulis dalam keadaan bingung untuk menyampaikan, maaf kalau repot bacanya, semoga jadi banyak merenung)

18 Maret 2012

Malam pertama seorang munafik




Ini malam pertamaku, di tempat selebar 1 lengan dan sepanjang badan. Sesak sekali, bahkan untuk sekedar bergelung memeluk lutut karena dinginnya alas tidur yang murni terbuat dari tanah...

Sore tadi, seluruh sanak keluarga, rekan-rekanku dan orang-orang kampung ramai mengantarku ke tempat ini. Jumlah mereka banyak, namun sepi. Mereka sedang berkabung kawan...

ya ... berkabung ...
aku lah yang mereka antar ke kuburan...

Rasanya baru beberapa detik lalu, rasa sakit itu terasa di sekujur tubuhku. Dimulai dari ujung kuku kakiku yang serasa dipukul palu dengan keras, lalu merambat ke atas betis, dipukuli oleh ribuan tongkat besi tumpul, disusul cabikan pedang berkarat yang mencabik setiap mili daging dikakiku, hingga habis bersisa hingga tulang.

Merambat terus naik ke bagian paha, keatas paha, perut, lalu dada
siksaan itu tidak berkurang sedikitpun sakitya. sabetan pedang berkarat itu bertambah cepat, tak memberiku kesempatan untuk pingsan sekalipun. Semestinya syaraf tubuhku menghentikan penjalaran rasa sakit itu, dan hanya menyisakan informasi sakit yang sedikit, diawal saja. Seharusnya, yang kurasakan sama seperti orang yang pingsan karena merasakan sakit yang luar biasa.

Tapi aku bukan sedang kecelakaan, atau sedang dipukuli oleh berandalan kampung.

ribuan pedang berkarat itu tidak tampak oleh orang-orang disekitarku, namun aku merasakan sakitnya. AKU BENAR-BENAR MERASAKANNYA... sakit, perih, berlipat-lipat. Pernah merasakan kuku ibu jarimu harus dicabut? hingga nampak kulit lembut dibawah kuku? lalu tusuk-tusuklah dengan jarum jahit. setelah selesai, siramlah dengan air garam. kalau itu disebut sakit, maka yang kurasakan SERIBU kali lebih sakit dari itu...

Nyawaku sedang dicabut keluar... tanpa permisi, tanpa pemberitahuan sedikitpun, dan tanpa perlu berhati-hati mencabutnya dari jasadku. Malaikat tahu, yang sedang ia cabut nyawanya, bukanlah orang yang istimewa, sehingga ia tidak perlu repot-repot memelankan prosesnya...

Keluargaku yang menyaksikannya mengira prosesnya hanya 5 menit saja. Bagiku seperti seratus tahun, untuk sekedar menunggu gerakkan malaikat mencabut nyawaku dari dada keluar dari mulutku. RASA SAKITNYA, TAK BERUBAH SEDIKITPUN.

Sudah 10 jam kejadian itu berlangsung, waktu yang cukup bagi keluargaku untuk menyelenggarakan pengurusan jenazahku, mengurus hutang-hutangku. Menyolatkanku, dan menguburkanku di tempat sempit ini. Mestinya pekuburan ini ramai. Karena banyak kuburan-kuburan lain di sekitarku. Namun bagiku sangat sepi...

Pelan-pelan terdengar suara gemuruh. Suara itu mendekat, seiring dengan goncangan pada alas tidurku dan papan kayu diatasku. Goncangan itu membuat punggungku tergencet papan, kakiku tertekuk dengan posisi aneh. Lututku seharusnya maju ke depan, aku malah merasakannya melengkung kebelakang. Krek, suara tulang patah.

Aku berteriak, keras sekerasnya,... Burung gagak hitam di atas kuburanku terbang melesat bersama dengan burung-burung lain yang bersarang di sekitarnya.

Adzabku dimulai malam ini kawan...

sebagaimana dijanjikan oleh dua sosok raksasa berwarna hitam, yang menemuiku selepas acara pekuburan selesai...

Mereka tak berkata banyak, sedikit bertanya, bahkan tanpa sempat kujawab... dan mereka berkata, "siksaanmu akan dimulai malam ini, rasakanlah wahai orang munafik..."

munafik? apa salah ku?

seekor ular berbadan sebesar batang pohon kelapa datang membelitku. Sesak, dadaku serasa mau pecah...

"Kamu memang telah shalat lima waktu, bahkan berjama'ah dan diawal waktu..." kepala ular mendekat ditelingaku, berbisik
"Namun kamu tidak ikhlash, kamu melakukannya dengan malas. Kamu melakukannya agar dipuji oleh orang-orang disekitarmu. Oleh anak-anak santri yang kau ajari... Rasakanlah ini..."

"Kamu selalu mengajarkan kebaikan kepada orang-orang disekitarmu, tapi kamu sendiri melupakanya."

"kamu baca qur'an, banyak ayat yang kau baca tiap harinya, namun hanya lewat tenggorokanmu saja, tidak pernah kamu amalkan dan kamu renungkan..."

"Kamu berdakwah, tapi malas untuk belajar berdakwah. Hingga omonganmu terasa manis oleh murid-muridmu, tapi kering dari ilmu. tanpa makna..."

"Kamu pandu mereka, teman-temanmu tiap pekan, tapi kamu sendiri tidak serius membina dirimu sendiri..."

"Ucapanmu tidak konsisten."

"Waktumu banyak tersia-sia"

"Malammu kau habiskan dengan tidur"

"Siangmu kau lalui dengan malas"

"DAN KAMU SELALU MERASA KAMU AKAN MASUK SURGA DENGAN MUDAH??!!!!"


"Yang paling parah... kau tampakkan ibadahmu, namun kamu tidak bertambah takut kepada Allah. Begitu kamu sendirian, mulailah kamu bermaksiat kepadaNya, tanpa peduli bahwa Ia melihatmu, bahwa malaikatNya mencatat seluruh maksiatmu..."

"Lalu kamu bertobat, ya, kamu memang bertobat..."

"Lalu kamu lakukan lagi maksiat yang sama, bahkan lebih buruk lagi..."

"Bahkan tanpa rasa malu kepadaNYA kamu lakukan ritual MAKSIAT dan TOBAT SAMBALmu berulang kali, tanpa pernah berubah..."

"TOBATMU yang kau jadikan mainan itu tidak akan diterima olehNYA, karenanya rasakanlah adzab kuburmu ini"

"Sungguh, kiamat itu sudah dekat, tapi akan terasa lama olehmu karena adzab-kubur yang akan kau terima..."

"Pintu neraka akan ditampakkan padamu, sebagaimana pintu surga akan ditampakkan pula oleh orang-orang yang beriman"

"Namun, kau hanyalah orang MUNAFIK"...

"Tahukah kamu, dimana orang MUNAFIK tinggal?"

"Tentu kau tahu bukan?" "Kau telah membacanya di Al-Qur'an, kalam Allah ta'ala"


"Innal munafiqiina fi darqil asfali minannaar..."

"Sesungguhnya orang munafik itu, berada di dasar neraka"



jariku tak mampu melanjutkan tulisan ini....

01 Maret 2012

Mitos Gua




berhentilah menatap bayangan-bayangan kabur
tentang kehidupan maya
berbaliklah dan tataplah kehidupan nyata, 
yang amat terang, indah lagi menentramkan


SADARLAH!!!


berhentilah meringkuk 
dalam selimut kenyamanan dunia


Qum, fa andzir...




Keluar dari Gua yang Gelap

Ini adalah sebuah ilustrasi, yang dibuat oleh seorang pemikir besar beberapa abad

yang lalu...

Bayangkan ...

Terdapat beberapa orang yang tinggal di dalam gua bawah tanah. Tangan, dan kaki

mereka terikat, bahkan begitu rupa ikatannya, sehingga untuk menggerakkan leher

dan mengalihkan pandangan pun tak bisa. Semenjak lahir mereka tersiksa dengan

kondisi itu. Hingga hanya kepasrahan yang dapat dilakukan...



Mereka diatur agar hanya dapat memandang ke arah dinding gua. Diseberang dinding

yang mereka tatap, terdapat api unggun. di dekat api unggun ini, di belakang

punggung orang-orang tersebut lewat bermacam-macam makhluk yang menyerupai

manusia, memegang berbagai benda bersama mereka. Karena gerakan api yang bergoyang

tak teratur, maka timbullah bayangan berkejap-kejap di dinding gua, yang mereka

tatap...

Mereka mengira, haya bayang-bayang itulah yang ada. Itulah kehidupan yang menurut

mereka nyata. Mereka mulai merasa nyaman dengan "kehidupan" itu.

Suatu ketika, seorang penghuni gua, merasa ia berada dalam keadaan yang salah. Ia

merasakan ikatan-ikatan pada tubuhnya. Maka ia berusaha keras untuk melepaskan

diri dari ikatan-ikatannya. Ia sangat ingin tahu, apa yang sebenarnya asal-mula

dari semua bayang-bayang yang ia lihat dari lahir...

ikatannya pun lepas, karena kegigihannya berusaha...

Ia berbalik,

21 Januari 2012

Cerita Motivasi : Peta harta karun


Ingin bercerita kembali, ini tentang cerita yang sempat saya baca di blog orang ketika sedang mencari artikel motivasi, sayang sekali link asalnya sudah lenyap. Semoga tidak termasuk pembajakan HKI ya, atau melanggar SOPA atau PIPA (gak ngeh dengan istilah dan maksud yang bener), pokoknya penginspirasi insya Allah mendapatkan ganjaran atas kebaikannya. Amin

Cerita ini mungkin tidak pernah terjadi, namun akan saya pakai sebagai analogi, semoga mampu membangkitkan kembali motivasi kita.

Seorang pemuda sedang berjalan-jalan di pantai, kebetulan ia sedang sendiri. Ketika sedang menyusuri pantai dan merasakan sentuhan air laut di kakinya, ia merasakan sebuah benda menyentuh kakinya karena terdorong ombak. Ia melihatnya, ternyata botol bening, yang mengapung karena udara yang terperangkap didalamnya. Di dalam botol tersebut terselip kertas. Ia pun membuka sumbatnya. Ternyata peta harta karun. Isinya coret-coretan sederhana yang menggambarkan di dekat pantai tersebut, sekitar 100 meter dari bibir pantai, terdapat peti berisi emas dan berlian.

Namun ia hanya melihatnya sepintas lalu, kemudian memasukkan kembali kedalam botol, menyumbatnya dan melempar jauh ke laut. Botol itu, kembali menari bersama ombak.

"Biar orang lain saja yang tertipu dengan cerita konyol harta karun itu, aku tidak percaya."


Beberapa hari kemudian, orang lain menemukan botol tersebut. Kali ini, si penemu membacanya dengan sungguh-sungguh. Ia pun penasaran, kemudian ia mencoba menuruti arah peta itu. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan menuju laut, terjun ke air yang semakin lama semakin dalam, 50 meter dari bibir pantai, air masih dangkal, masih sebatas pinggangnya, namun lima meter kemudian, kedalaman pantai naik drastis, sampai-sampai sulit untuk melihat dasar air, meskipun air cukup jernih. Kecewa dengan kondisi yang ia dapatkan, ia memutuskan untuk membatalkan rencananya.

Peta ia masukkan kembali ke dalam botol, menyumbatnya dengan jengkel dan melemparnya jauh-jauh ketengah laut.

Terhempas keras keair, botol tersebut kembali mengembara di ombang-ambing ombak...

berkali-kali botol ini mampir ke pantai, sering kali hanya dilihat sepintas, lebih sering dilemparkan kembali kepantai, dan tidak jarang ada orang yang mencoba menyusuri hingga air menjadi sedemikian dalam, membuat orang enggan untuk melanjutkan pencarian tak pasti itu.

Hingga suatu ketika, seseorang dengan penuh tekad menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh peta tersebut. Mendapati air yang sedemikian dalam, ia tersenyum

"Rupanya memang tidak mudah, tapi tidak semudah itu aku menyerah. Meskipun harus menyewa kapal selam pun, akan kucoba."
Bagaimana kalau nihil hasilnya, dan peta tersebut ternyata palsu?
"Berarti aku telah sukses membuktikan kepalsuannya. Dan aku akan bangga dengan usaha keras yang telah kulakukan."

Ia semakin yakin

Kembali ia menyusuri air kembali ke pantai, ia meminjam perahu milik nelayan dan mendayung ke air yang dalam. Ia lepas pakaian dan segera menyelam,...

5 meter...

10 meter...

20 meter...

Followers!!