04 Januari 2013

5 menit lebih



Berapa menit jam tangan atau hapemu dipercepat?

5 menit, mungkin ada yang lebih, rata-rata 5 menit lebih. Lebihnya macam-macam, HP saya sendiri 5 menit (saya tidak punya jam tangan). Temen saya yang keren malah 1jam 45 menit lebihnya. Kakak disamping kanan saya 10 menit. hmmm... masih dalam kategori 5 menit lebih.

sumber : http://www.indonesiarayanews.com/sites/default/files/styles/caption/public/072012/jam_new.jpg

Saya iseng-iseng survey orang-orang tentang penunjuk waktu mereka. Lebih tepatnya liat di kaskus, kebetulan ada survey yang membahas itu. Mohon maaf surveynya baru sedikit sampelnya. Dari 58 orang berikut datanya :

Yang diperlambat dari jam sebenarnya = 3 orang atau 5,17 %
Pas, tidak lebih dan tidak dikurangi = 14 orang atau 24,13 %
Dipercepat kurang dari 5 menit = 1 orang 1,72 %
Dipercepat 5 menit = 12 orang atau 20,69 %
Dipercepat 10 menit = 11 orang atau 18,96 %
Dipercepat 15 menit = 10 orang atau 17,24 %
Dipercepat 20 menit = 2 orang atau 3,45 %
Dipercepat 25 - 30 menit = 9 orang atau 15,51 %
dipercepat lebih dari 30 menit = 1 orang atau 1,72 %, diitambah temen saya yang keren jadi 2 orang

sumber : http://archive.kaskus.co.id/thread/14947640/

Well, saya tidak tahu alasanpasti penyebab orang-orang melakukan penambahan pada penunjuk waktu mereka. Kalau saya sendiri karena agar saya tidak terlambat, karena menggunakan penunjuk waktu yang dipercepat lima menit itu. Sepertinya orang lain juga sama. Beberapa responden di kaskus mengatakan agar lebih disiplin, agar lebih santai. Namun banyak juga yang mengatakan, percuma saja dipercepat, kalau ternyata sudah tahu bahwa penunjuk waktu tersebut sudah dipercepat. Nggak ngefek

Kenyataannya saya pernah terlambat. biasanya 5 menit lebih terlambatnya. Baik ketika kuliah, halaqah, atau janjian lain. Alasannya, karena baru berangkat mendekati waktu janjian. Dan juga kurang memperkirakan waktu untuk perjalanan dan persiapan. Para responden kaskus juga beberapa tetap saja terlambat, meskipun tidak semua.

Ini semacam paradoks, banyak orang yang mempercepat jam tangan atau penunjuk waktu, namun tetap saja banyak orang yang terlambat. Sama paradoksnya seperti, banyak orang yang mengebut di jalan raya, namun banyak orang yang terlambat.

Sampai disini tidak ada masalah. Kalau hanya terkait dengan urusan pribadi masing-masing. Terkait dengan jam-tangan masing-masing.

Namun tidak berhenti sampai disitu. Hanya satu dari lima orang yang memilih menyetel jamnya dengan tepat. Empat dari lima orang yang lain, dan itu berarti 750ribu orang dari 1000 orang penduduk, atau 150juta orang di Indonesia dari 200juta penduduknya yang mempercepat jamnya. Dan lazimnya masyarakat, pemikiran yang mayoritas akan mempengaruhi kehidupan secara umum.

Tak usah jauh-jauh, 75% itu termasuk juga para pengurus masjid, atau takmirnya, atau sekedar orang yang suka adzan dimasjid. Jadi, silahkan anda periksa, kebanyakan masjid adzan 5 menit lebih cepat dari jadwal seharusnya. Tentu saja jika jam tangan anda tidak dipercepat. :)

Ini menjengkelkan sekali, saat saya (jadi takmir masjid) berusaha tepat waktu untuk adzan, mesjid lain mendahului, dan jama'ah masjid akan dengan segera menyuruh adzan, padahal belum waktunya. Dibilang pemalas, itu biasa...

Kalau anda berbaik hati, cobalah cek jam dinding masjid. Jika anda dapati jam tersebut dipercepat 5 menit lebih, tolong betulkan ya . . . 

03 Januari 2013

Penjara bernama negara



Ini pendapat saya lho, silahkan ndak setuju, silahkan mau dibantah, silahkan pula kalau mau memberi informasi lain, biar pemahaman saya berubah. Silahkan. Tapi tolong, silahkan baca dulu, tanpa rasa sebel, dan rasa gerah yang menyebabkan tumpukan cucian baju anda cepat bertambah karena keringat berlebih.
source : http://www.kabobfest.com/wp-content/uploads/2011/08/nationalism.jpg

Pernyataan saya begini :
Diantara sekian banyak hal-hal baru dalam peradaban manusia sekarang, yang sekarang paling menjengkelkan adalah NEGARA, dengan NASIONALISMEnya. Telinga saya agak gatel kalau dengar orang gembar-gembor perjuangan untuk negara, kemajuan untuk negara, atau demi kesejahteraan bangsa. Saya risih...

Janin baru lahir beberapa detik, kemudian esoknya seorang bayi, dimanapun berada, selama tata administasi formal (perangkat desa lah, minimal) sudah ada ditempat kelahiran bayi, maka bayi tersebut akan segera mendapat status pertama bernama warga NEGARA. Saya sebut status ini sebagai KANDANG, tadinya akan saya sebut penjara, tapi kandang sepertinya lebih pas. Kenapa kandang? karena ada batasan, ada kekang, bagi seorang berstatus warga negara tertentu yang ingin keluar kandang, atau masuk ke kandang lain. Wilayah negara. Batas negaralah yang saya sebut sebagai pagar kandang itu.

Orang-orang dengan nasionalismenya, orang-orang sedunia yang saya bahas, telah membuat batas dan sekat menyebalkan bernama negara. Lihat saja, kalau ingin keluar negeri, perbatasan dijaga ketat, keluar harus dengan passport, visa, dan diluar negri, orang dibedakan menurut tempat lahir (kewarganegaraannya). Ingin masuk berkunjung ke negara lain, harus ada visa, atau ijin dari negara yang akan dikunjungi. Ingin melintas, bahkan sekedar melintas dilangit negara lain, harus ada ijin.

Baiklah, memang ada banyak manfaat dari pendataan warga negara itu. Tapi yang sekarang terjadi terlalu berlebihan.

Parahnya, nasionalisme ini, dan batas negara ini, juga membatasi nilai-nilai universal yang harusnya tak mengenal batas dan wilayah. Nilai-nilai universal itu misalnya, nilai kemanusiaan, nilai persaudaraan karena aqidah / kepercayaan dan moral. Rasa kemanusiaan, terhalang karena batas negara. Banyak negara kemiskinan, dan lebih banyak warga negara lain yang tidak peduli dan tidak tahu. Bahkan persaudaraan karena iman ikut pula terhalang tembok nasionalisme ini.

Para pegiat masjid berteriak-teriak "Free Palestine!!", eh ada yang cuek, "Urusan negara sendiri aja belum beres, kok mikir negara lain".

Ajakan penegakan syariah dan khilafah datang, dijawab : "NKRI harga mati".

Lain lagi kalau urusan sepakbola Indonesia VS Malaysia. Semangat sekali mendukung tim Indonesia. Oke, ini baik. Namun menjadi tidak baik jika dibarengkan dengan rasa permusuhan dengan Malaysia.

Susah untuk mengubah mereka yang overdosis menggunakan nasionalisme. dan meskipun nasionalisme membawa mereka terjun bebas ke jurang, atau ke got sekalipun. tetap saja "NKRI harga mati". Tak peduli mati konyol untuk hal konyol macam ini...

Negara dan nasionalisme . . .  menyebalkan

29 Desember 2012

Bapak, nyuwun ngapuro . . .



Sudah hampir dua minggu, sejak dia berangkat dari kampung halamannya. Beberapa hari berlalu, hari-hari biasa sesuai kesibukannya. Sepuluh hari yang lalu, ia pulang kerumah. Tidak lama, total waktu di rumah hanya sekitar 4jam saja. Padahal perjalanan pulangnya membutuhkan waktu 14 jam. Singkat sekali waktunya dirumah.
Sumber : http://sofie05.files.wordpress.com/2010/07/keluarga-sakinah.jpg

Ia berbicara agak banyak dengan orangtuanya, bapak dan ibunya. Bapaknya sudah berumur, waktu pensiunnya hanya dalam hitungan pekan. Ibunya, berbeda 3 tahun dari Bapaknya, meski tentusaja, tetap tidak bisa dibilang muda. Bukankah wanita mengalami proses penuaan yang lebih cepat? Begitu kata pembicara-pembicara di kajian pra,tengah,dan pasca-nikah. 

Mereka membicarakan, tentang rencananya. Rencana masa depannya. Kuliahnya, pekerjaannya, berkeluarganya. Dan lain-lain. Orangtuanya baaik sekali, meskipun demikian tetaplah pendidik yang baik. Ia tidak perlu memikirkan biaya kuliah lanjutnya, meskipun ia sudah berkeluarga. Orangtuanya bahkan siap mendanai persiapan berkeluarganya. Namun, orangtuanya tetap mampu membuatnya menjadi pribadi yang mandiri, meskipun sebenarnya, orangtuanya cukup kaya untuk memberikan apa-apa yang diminta olehnya. 

Ia terharu, bahagia tentunya. Orangtuanya mungkin bukan orangtua favorit sedunia. Tapi, mereka berdua adalah orangtua terbaik baginya.

Namun, sayangnya, beberapa hari ini ia membuat kecewa orangtuanya. Salah satu, diantara sekian banyak hal yang mengecewakan. Ia melakukan hal yang sepele saja, kelihatannya. Setidaknya menurut apa yang kita lihat. Namun, tetap saja ini perkara yang besar. Karena yang dikecewakan adalah orangtua, bukan orang lain. Orangtua yang tidak akan pernah bisa dibalas budinya, dengan cara apapun. Sungguh, dengan cara apapun. Meskipun ia memberikan kekayaan yang setara dengan gaji presiden satu periode plus tunjangan dan sampingannya. Kenapa? karena orangtua tidak butuh uang anaknya.

Ia sadar itu. Dan ia pun tahu, cara terbaik untuk berbakti kepada keduanya adalah dengan membawa mereka berdua ke surga kelak.

Namun 3 hari lalu, ayahnya jengkel. Kata adiknya, Bapak marah, soalnya kakak tidak segera melaksanakan permintaan bapak, disuruh mengirim pasfoto dan fotokopi ka-te-pe, dan urusan administrasi saja lama. Klelad-kleled. Jangan diremehkan donk kak. Toh itu kepentingan kakak juga.

Dheg... Astaghfirullaaah...

Ia tiba-tiba cemas. Kuliah pagi harinya tidak konsentrasi. Justru ditengah kuliah ia sibuk dengan hp, dengan notebooknya. mencari cara tercepat untuk mengirimkan barang-barang itu. KTP, ia punya scannya, pasfoto, sebenarnya sudah lama diurusnya. Namun terkendala di sana dan disitu sehingga lama. Siang itu juga, ia kirim ke tukang cetak, lalu dicetak. Dan sorenya, ia segera ke jasa paket tercepat. Meskipun harganya mahal.

Sepele kelihatannya, tapi ia sungguh merasa, perbuatannya sangat buruk. Permintaan sederhana, namun tidak segera dilakukan. Baginya, ini hal yang besar. Membuat bapaknya kecewa, setelah tak-terhitung kebaikan orangtuanya yang telah dilakukan untuknya.

Bapak, nyuwun ngapuro..
mohon maaf, anakmu ini tak berbakti...

10 tahun kedepan anakmu akan selesai menghafal Al-Qur'an dan mulai mengjaganya. Semoga dengan itu, aku akan mampu mengantarkan kalian berdua masuk ke Surga. Bersama....



Orangtua anda mungkin hanya orang-orang biasa. Hidup sebagaimana orang lain hidup. Bekerja sebagaimana orang lain bekerja. Mereka pun mungkin saja memperlakukan anda sebagaimana orangtua lain memperlakukan anaknya. Atau bisa jadi, orang tua anda terlihat pelit sekali memenuhi kebutuhan anaknya. Tidak mau memfasilitasi anaknya dengan barang-barang mewah. Henpon android terbaru, pc kapsul terbaru dengan fitur canggih. Meskipun sebenarnya kaya. tidak. mungkin saja tidak. atau memang benar-benar tidak.

Atau bisa jadi, orangtua anda, terlihat kejam sekali. Anaknya disuruh bekerja membantu diladang, atau membersihkan rumah, tiap hari. Malamnya disuruh belajar, tiap malam. Bahkan mungkin sampai tidak boleh menonton televisi, bermain game, dan semacamnya. 

Tapi ketahuilah, dibalik setiap perlakuan, dibalik pelajaran kesederhanaan yang mereka berikan, mereka sangat mencintai anda. Tidak menginginkan apapun dari anda, kecuali kebaikan. Mereka ingin, anda mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan hakiki. Bukan yang kasat mata, namun yang kekal. Kebahagiaan dalam hati....

Maka, balasan terbaik untuk mereka, adalah kebahagiaan yang kekal selamanya. Bawalah mereka ke Surga Allaah, karena andalah yang paling mungkin melakukannya. Jadilah anda anak yang sholeh, yang mendoakan orangtuanya. Sehingga pahala kebaikan mengalir deras, tiada henti. 

Lakukan kebaikan, dan katakan, ya Allaah, pahala kebaikan ini, berikanlah kepada Ibu Bapak-ku, karena kasih sayang merekalah, aku mampu melakukannya...


08 Desember 2012

Malam ahad di bulan desember 2012

Bismillaah

Tulisan ini hanyalah tulisan dadakan, yang tak terencana. Sekedar ingin berlatih menulis, sekaligus mengisi blog yang sering diacuhkan. 

Malam ahad, atau malam minggu, beberapa orang menyingkatnya dengan malming. Malam ini biasanya terasa lebih panjang dari malam-malam lain, setidaknya menurut beberapa orang. Banyak tempat fotokopian tutup lebih cepat. Saya tidak tahu persis apa alasannya. Bisa jadi karena ini hak karyawan. Akhir pekan, saatnya berlibur bukan? 

Malam ahad, ini berarti hari pertama dalam satu pekan, bukan penutup. Ahad berarti satu. Bagi nashrani, ini hari beribadah, khusus. Lalu apa manka hari ahad bagi seorang muslim? Saya juga tidak tahu, sepertinya sang panutan tidak pernah mengistimewakan hari ahad, tidak melebihi hari Jum'at yang berkah. Bukankah setiap saat adalah waktu yang sama-sama SANGAT berharga untuk beribadah?

Saya, malam ahad, biasanya saya habiskan bersama anak-anak santri, di masjid. Tadarus, bercanda, ngobrol, atau sekedar mendengar cerita dan candaan mereka.
Inline image 1

Malam ini berbeda. Acara rutin itu libur, karena, alasan yang tidak keren sama sekali. Apa tadi? konser cherrybelee, atau apa lah... Jadinya anak2 tidak berangkat. Tidak semua yang tidak berangkat beralasan semacam ini. Ada juga yang beralasan ingin refreshing pasca UAS sekolahnya.

Alhamdulillaah, berarti ada yang lain yang bisa dilakukan. Seperti misalnya, saya dan ryo baru saja beres2 kamar. dan bersama yunan, kami baru saja membuat daftar "do and don't" yang akan kami lakukan dan tidak kami lakukan. Daftar ini isinya pantangan yang harus dihindari dan target yang harus dicapai. Beberapa isi pantangannya diantaranya tidak terlalu banyak tidur, khususnya setelah sholat shubuh dan ashar, tidak jorok, dan tidak rapi, dan semacamnya. Lalu, isi daftar targetnya misalnya, banyak membaca,  tidur hanya 4-6 jam sehari, tadarus 5 lembar tiap harinya, bersih2 dan lain2. Semoga dilancarkan oleh Allaah. Sayang sekali kalau kesempatan kami untuk tinggal dan memakmurkan masjid tidak bermanfaat bagi kami sendiri.

Setelah itu, masing masing berkutat dengan urusannya. Yunan di arah jam 9 saya sedang menonton spiderman 4, tanpa subtitle, semoga bahasa inggrisnya meningkat. Ryo (sepertinya) sedang menulis di buku hariannya. Irfan, sudah terkapar dikasur sejak 2 jam lalu. 

Kalau saya, sedang menulis di blog ini. Meskipun beberapa saat lalu, hidung ini tiba-tiba mimisan, dan darah mengalir cukup deras. Merah gelap. Berarti saya tidak mengalami anemia. Darahku juga cepat kering, ini berarti darah putihku normal. Dan benar, saya tunggu dua menit, alirannya berhenti sendiri. Tanpa harus menyumpalnya dengan kertas atau kapas. Mimisan ini tidak menghalangi saya untuk tetap menulis diblog ini. Saya baru saja akan mencoba fitur blogger yang mampu memposting artikel blog lewat email. Kalau berhasil maka, tulisan ini akan langsung muncul di artikel begitu saya mengirim email ini.

Setelah ini mungkin saya tutup hari ini dengan membaca buku "Negeri Para Bedebah" karya bang darwis tere-liye, baru beberapa hari lalu pinjam ke dipta, si jenggot tak-simetris. 

Itu malam ahad saya. Cerita anda mungkin berbeda.

Hanya saja, pastikan waktu anda tidak sia-sia. 

Waktu itu sangat berharga, karena ia tidak akan kembali lagi, dan anda tidak tahu, apalagi saya, tentang berapa banyak sisa waktu yang anda miliki. Maka, gunakanlah untuk memikirkan sesuatu yang penting, dan SANGAT penting. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, macam mengkhawatirkan rejeki, jodoh, nilai ujian, atau semacamnya. Itu sudah ada yang mengurus dan menjaminnya. Pikirkan saja, tugas anda dan tugas saya. Yaitu pengabdian untuk Allaah.

Karena berharganya waktu, gunakanlah bersama orang lain, jangan anda habiskan sendiri. Gunakanlah, untuk membahagiakan orang lain, untuk membawa mereka menuju kebaikan.

Atau, jangan-jangan kita menemui orang lain, hanya ketika kita membutuhkan mereka?

Itu orang lain, tak begitu prioritas. 

Eh, anda tidak melakukan hal yang sama untuk Allaah kan?
Jangan! Jangan sampai, anda menemui Allaah, hanya ketika anda membutuhkanNya. Sebaliknya, kita SANGAT membutuhkanNya, sampai-sampai anda mengerjakan segala hal, segala aktivitas, hanya untukNya. Untuk menaatiNya, untuk mendapatkan ridhoNya.

meskipun itu sekedar makan, tidur, menulis blog, membaca artikel ini, atau sekedar menulis komen di blog ini untuk mengharapkan backlink... pastikan semua hanya karena Allaah yaa....


Followers!!