15 Juni 2009
Arti Sebuah Blog
Apa bedanya FS, FB, dan jejaring sosial yang lain kalau dibandingkan dengan blog?
Menurut saya sih gak banyak bedanya. kita sama-sama berhubungan dengan orang lain, sama-sama terobsesi dengannya. kalo FB / FS mungkin banyak-banyakan cari temen-cari jodoh (mungkin).
sedikit beda dengan blog, mungkin blog memerlukan skill yang lebih, dan darinya ada kemungkinan untuk mendapatkan income darinya . . .
Untuk menjadi seorang blogger yang memiliki blog berkualitas, tentunya itu sangat bergantung pada apa misi ia membuat blog, apa pemikiran-pemikiran yang ada didalam otak blogger itu.
Kalau ia murni berniat mencari penghasilan, maka akan kita dapati blognya berisi hal-hal yang sangat digemari orang, di hiasi oleh iklan berderet-deret . . . walaupun mungkin isi postingannya bukan original.
Ya ... semua tergantung apa misinya
saya pribadi hanya ingin memanfaatkan blog ini untuk menuangkan pemikiran-pemikiran saya tentang hidup, tentang apapun yang terpikirkan ketika saya menjalani samudra hidup yang penuh tantangan ini . . .
dan saya juga sangat ingin berbagi dengan semua orang, sebanyak-banyaknya tentang apa yang saya pikirkan, yang itu membuat hidup ini begitu berwarna . . .
tidak hanya sekedar chatting, sekedar komen, sekedar utak-atik template, berusaha menaikkan pagerank . .. atau yang lain . . .
INILAH BLOGKU
yang kugunakan sebagai sarana perang JIHAD!! ku . . .
sebagai sarana yang kugunakan sebagai bentuk pengabdianku kepada Allah azza wajalla . . .
yang Ia menginginkan kebahagiaan sebesar-besarnya kepada KITA semua . ..
yang karena ulah syaitan-lah sebagian besar dari kita berpaling dari seruan kebahagiaan ini .. .
Allah ingin mengangkat derajat kita, menuju manusia yang sempurna,
tidak hanya sekedar menjadi manusia yang terpuruk,
terpuruk dalam lubang kehinaan, karena kita telah mengijinkan syaitan dan keinginan diri kita mengalahkan kekuatan kita untuk mengontrol hidup .. .
yang telah membuat kita rela untuk hidup sebagai budak nafsu, budak dari suatu pemahaman sesat, budak dari kehidupan materi . . .
padahal maut senantiasa mengintai kita, dan perlu di pahami, maut hanya seorang pesuruh, yang akan mengantarkan kita kepada kehidupan setelah kematian (percayakah anda?? percaya atau tidak terserah anda, karena ITU memang nyata)
dan kondisi kehidupan setelah kematian kita itu akan sangat tergantung pada prestasi hidup kita, apa yang kita lakukan pada hidup ini, dan seberapa besar kita memanfaatkan hidup ini sebagai bekal hidup kita untuk kematian . . .
inilah pertaruhannya, hidup inilah modal kita untuk pertaruhan setelah kematian...
masihkan anda cuek?
tapi tidak hanya itu, hidup juga merupakan tugas,
tugas mulia dari sang Pencipta yang Maha MULIA, yang Maha Kuasa
yang memerintahkan kita menjadi penegak keadilan, penegak kebenaran di alam raya yang tak bertepi ini . . .
Ia meminta kita untuk menegakkan kekuasaanNya
bukan sekedar kekuasaan, namun kekuasaan yang membawa pejuangNya menuju kehidupan hakiki, kehidupan yang mulia . . .
Maukah anda menjadi pejuang??
berpikirlah... karena otak kita diciptakan untuk berpikir
resapilah . . . karena hati nurani anda adalah kompas kebenaran yang ampuh
Allahu ta'ala a'lam
07 Juni 2009
Fiksi - Ketika Mas Aktivis pergi . . .
Di copy-paste dari : http://ghaziahazmiizzati.multiply.com/journal/item/157/cerpen_ketika_mas2_pergi
Aku hanya menulis apa yang ingin aku tulis, tentang sebuah perasaan yang terpendam sejak dulu. Tentang cinta tapi bukan cinta yang sering diceritakan dalam novel-novel atau sinetron picisan, ini tentang cintaku pada seseorang yang telah membuat aku jadi seperti ini. Ya kepada ia yang telah mengenalkanku tentang sebuah dunia yang sangat indah, menjebloskanku pada sebuah jalan yang berliku, penuh onak dan duri namun ada pemandangan indah di ujungnya, syurga. Inilah jalan dakwah itu. Jalan yang kulalui bersama-sama dengan mereka yang merindukan pertemuan dengan Sang Penciptan di Jannahnya.
Entah sikap apa yang harus aku ambil untuk mengekspresikan perasaan, emosi dan pikiran yang ku rasakan saat ini, sebuah perasaan, emosi dan pikiran yang sudah kupendam lama sekali. Tentu tentang seseorang yang kucintai itu. Dia seorang ikhwan,-mengertikan maksudku ? saat ku menyebut ia ikhwan, maka bayangkanlah seorang pria berjenggot, selalu memakai celana kain atau celana gunung, mengenakan sandal gunung, memakai kaca mata, memakai jaket palestine, dan ia sering menghabiskan waktunya untuk rapat di masjid atau dimanapun, dan orang-orang menyebutnya sebagai aktivis dakwah kampus-. Tanpa bermaksud mendikotomikan makna dibalik ikhwan dan pria. Dan sekali lagi ini bukanlah kisah picisan seperti yang ada di novel-novel itu, karena ikhwan ini adalah kakakku. Ya, ia lah yang secara tidak langsung menggiringku mengenal jalan ini, jalan yang hari ini berusaha ku lalui. Jalan dakwah.
Tepatnya 9 tahun lalu ia mengenalkan aku pada Islam. Tapi tunggu, mari kita samakan persepsi, aku dilahirkan dalam keluarga Islam, lahir pun dalam keadaan Islam, dan mungkin –karena aku memang tidak pernah merasakannya- saat aku meneriakkan tangis pertamaku di dunia yang fana ini ayahku membacakan adzan tepat di telingaku. Masa kecilku pun aku lalui dengan belajar mengaji, belajar shalat, namun tetap tanpa aku memahami esensi mengapa aku harus melakukan itu semua. Bayangkan, untuk seukuran aku yang masih kelas 1 sekolah dasar, jam 4 sore seharusnya ku lalui dengan bermain, menghabiskan masa-masa kecilku bersama dengan teman-teman sepermainan. Namun, setiap jam 4 sore itu aku harus rela bermain dengan guru ngaji-ku yang luar biasa galak, maka tak jarang aku pun belajar mengaji sambil menitikkan air mata. Dan sekali lagi, aku melakukan itu semua tanpa aku paham esensinya apa. Hingga kegiatan rutin yang amat membosankan itu aku lakukan sampai aku kelas 5 SD. Saat itu, kakakku yang aku cintai ini, sudah berganti status, tidak lagi menjadi siswa tapi sudah menjadi mahasiswa, ah bangganya diriku memiliki kakak yang berstatus mahasiswa. Dan hebatnya lagi, ia menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri yang bergengsi di Indonesia. Para mahasiswa di sana selalu mengenakan jas almamater berwarna kuning dalam setiap kesempatan demonstrasinya, ya mungkin kalian bisa menebak kampus apa itu. Orang menyebutnya kampus biru, walau sampai hari ini aku tak habis pikir, mengapa mendapat julukan kampus biru, sedangkan jas almamaternya saja kuning begitu. Aku bangga, namun orang tuaku lebih bangga lagi, terlihat senyum kebanggaan menghiasi wajah mereka, bahkan mereka sampai melakukan acara syukuran atas lolosnya kakakku menjadi mahasiswa PTN bergengsi ini. Ah, berlebihan memang.
Aku tidak paham apa saja yang kakakku lakukan di kampus barunya. Yang pasti ia berubah begitu drastis, dari mulai sikap sampai penampilannya. Ia lebih sholeh akhir-akhir ini. Dan saat ia pulang, terkadang dalam setiap pembicaraannya sering terselip kata-kata ”ikhwan, akhwat, ana, antum, ummahat, dan lain-lain”, kata-kata yang cukup asing di telingaku.
”Dik, itu loh yang namanya akhwat” kata kakakku suatu hari. Dan akhirnya aku memahami bahwa seseorang yang disebut akhwat itu adalah mereka yang berbaju kebesaran, berkerudung sangat lebar, memakai kaos kaki, dan wajahnya tampak teduh. Ah, senangnya memandang wajah teduh wanita yang kakaku sebut akhwat itu. Dan untuk pertama kalinya, aku paham mengapa mereka harus memakai kain di atas kepalanya itu, dan kaos kaki dikakinya. Aku pun bertekad dalam hati untuk bisa seperti mereka suatu saat nanti.
Perilaku kakakku semakin lama semakin aneh saja, kemana-mana ia selalu membawa mushaf dan majalah-majalah aneh yang didepannya terdapat tulisan Sabili. Puncaknya adalah, saat ia mendengarkan sebuah lagu, yang sama sekali tidak ada unsur alat-alat musik di dalamnya, liriknya pun aneh, karena selalu berbicara tentang Palestina dan dakwah. Dan kemudian aku tahu itu namanya nasyid. Dan tim nasyid pertama yang ia kenalkan padaku adalah Izzatul Islam, Al-Quds, dan Raihan. Kakakku memang berubah, padahal dulu ia sangat menggandrungi Linkin Park, Scorpion dan group band rock aneh lainnya. Aneh memang, saat teman-temanku yang lain asyik mendengarkan lagu-lagu band dengan lirik-lirik picisan, aku seorang anak kelas 5 SD sudah mulai mendengarkan nasyid sekaliber Izzatul Islam dan Al-Quds. Bacaanku yang awalnya majalah Bobo, beralih menjadi Annida.
Saat aku kelas 6 SD, kakakku sering meneleponku, ia selalu bertanya seputar sudah tilawah belum, sudah berapa juz tilawahnya, bagaimana dengan hapalan juz 30nya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ah, kakakku memang aneh, ngaji saja aku baru tamat iqro 6.
Waktu pun terus berlalu, saat aku resmi menjadi siswa SMP kelas 1, aku yang notabenenya baru saja memasuki gerbang remaja awalku, mengambil sebuah keputusan yang cukup ekstrim. Aku ingin berjilbab, aku ingin seperti akhwat-akhwat itu. Ya walau terkadang aku masih belum istiqomah untuk mengenakannya. Memang aneh kelakuanku saat itu, di sekolah aku memakai jilbab, namun saat ada kegiatan-kegiatan di luar kegiatan sekolah aku melepaskan jilbabku, tapi saat ada kegiatan yang ada kakakku di dalamnya aku pun menjelma menjadi seorang akhwat. Memakai jilbab lebar walau menerawang, memakai kaos kaki, walau masih memakai celana.
Aku pun semakin mencintai kehidupanku yang seperti itu. Aku sudah mengetahui hukum pacaran semenjak aku duduk dibangku SMP. Dan secara otomatis, aku pun belum pernah merasakan pacaran sampai saat ini, ya walau terkadang aku pun sempat tergoda untuk memiliki pacar. Saat teman-teman ABG ku membaca majalah-majalah HAI, Kawanku, sampai majalah Misteri. Aku malah menyibukkan diri membaca majalah Annida, dan novel-novel Islami. Saat teman-teman ku mengisi biodata di binder temannya (sedang musim saat itu bertukar biodata dengan teman-teman sekelas), mereka menuliskan Sheila On7, F4, dan segudang penyanyi lain di point musik favorit, aku menuliskan Izzatul Islam, Raihan, Snada di point tersebut. Perubahan yang memang tidak wajar sebenarnya.
Hingga suatu saat, kakakku membelikan aku 2 lembar jilbab berukuran 150 cm. Ah senangnya, tapi ada yang ia lupakan, ia tidak juga membelikan aku rok, karena aku tidak memilikinya selain rok biru SMPku, bukankah akhwat itu harus memakai rok?
Aku, seorang siswi SMP, memohon-mohon pada guru agamaku untuk mendirikan ROHIS di sekolahku. Saat teman-teman ku yang lain tidak tahu apa itu ROHIS. Kehidupan yang aneh, namun sungguh aku menikmatinya.
Saat aku kelas 3 SMP, kakakku akhirnya resmi menanggalkan status mahasiswanya. Ia lulus dan menyandang gelar Sarjana Tekhnik. Ia pun meninggalkan dunia kampusnya yang serba idealis itu menuju sebuah dunia yang kejam. Sebuah dunia yang sangat sulit untuk menemukan sebuah idealisme, dunia yang terlalu pragmatis.
Aku, lulus SMP. Saat aku mencari-cari SMA yang tepat untukku meneruskan pendidikan, aku malah lebih mementingkan mencari SMA yang di dalamnya ada ekstrakulikuler bernama ROHIS. Ah memang anak yang aneh.
Aku pun resmi menjadi siswa SMA dan juga anggota Rohani Islam (Rohis). Senangnya, sebuah kehidupan yang aku idam-idamkan selama ini. Aku senang bergabung dalam komunitas yang di dalamnya selalu menyerukan kebaikan dan kebenaran. Aku pun dikenalkan lebih jauh tentang dunia dakwah itu. Terkadang aku bingung dengan kehidupanku sendiri, aku selalu melewati fase-fase perkembangan psikologisku sendiri, tanpa ada yang membimbing bahkan orang tuaku sekalipun, aku selalu meraba-rabanya. Namun, ada sebuah kondisi yang amat aku syukuri, kakakku mengenalkan Islam lebih dulu, hingga aku tumbuh menjadi seseorang yang memiliki prinsip. Tak kan tergoyahkan oleh kejamnya dunia remaja yang sedang mencari jati diri.
Namun, sebenarnya bukan proses hijrahku yang ingin aku ceritakan disini. Aku ingin menceritakan tentang kakakku. Aku baru menyadarinya, setelah ia lulus, ia tidak hanya meninggalkan dunia kampus dan dunia dakwah kampusnya. Tapi ia meninggalkan juga dunia dakwahnya secara total. Mengapa harus ada yang berguguran di jalan dakwah. Dan mengapa harus kakakku salah satu di dalamnya. Mengapa idealismenya kini mulai tumpul tertelan realita kehidupan yang begitu kejam. Ya ia benar-benar meninggalkan dunia dakwah. Ia sudah meninggalkan halaqahnya. Mushaf yang selalu ia bawa, kini hanya tersimpan di lemarinya, dan terkadang saja ia buka kembali. Buku-buku karangan Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi, dan lain-lainnya ia biarkan berdebu di lemari rumahku. Dan aku pun serta merta memungutnya kembali. Alunan lagu dari Izzatul Islam, Al-Quds dan Shoutul Haraqah tak lagi terdengar di kamarnya. Dan murottal pun aku tak pernah lagi mendengarnya. Al-Ma’suratnya ia endapkan begitu saja di tumpukan-tumpukan bukunya, dan lagi-lagi aku memungutnya. Terkadang aku menitikkan air mata saat kardus-kardus yang berisi kertas-kertas peninggalan kuliahnya itu aku buka. Seringkali kulihat ada kertas-kertas catatan rapatnya, rapat untuk merapatkan barisan dakwahnya. Aku melihat foto-fotonya semasa ia menjadi seorang aktivis dakwah beserta teman-teman ikhwannya tertawa sambil mengepalkan tangannya, dan ku yakin di hati mereka, mereka meneriakkan Allahu Akbar, kemudian mereka berazzam, ini-lah satu-satunya jalan yang bisa membawaku menemui kekasihku, Allah di jannahNya.
Kini, saat aku menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri. Aku melanjutkan cita-cita dan perjuangannya. Aku menobatkan diri menjadi seorang Aktivis Dakwah Kampus. Aku bersyukur, aku senang namun aku menangis. Menangis, mengapa kakakku meninggalkan jalan ini. Saat aku kebingungan memikul beban amanah yang begitu berat, mimpiku adalah aku bisa bercerita dan bertukar pengalaman dengannya dan bisa saling menguatkan. Namun, aku hanya memendamnya sendirian. Sebenarnya aku berharap kakakku berkata ”Dik, tahukah mengapa para pejuang itu jumlahnya sedikit?, karena memang hanya sedikit orang yang memilih untuk menjadi pejuang. Bukankah kau sudah merasakan berjuang di jalan dakwah ini, jalan yang sungguh berat untuk dilalui bukan?. Bukan pujian yang akan kau dapatkan, cacian dan fitnahan justru akan sering kau dapatkan. Tapi, bukankah kau menikmatinya?. Maka istiqomahlah, lihatlah Syurga Allah menanti di ujungnya. Dan, saat kau merasa teramat berat menjalaninya, bangunlah pada sepertiga malam terakhir, menangislah dalam sujud-sujud rendahmu kepada Allah, aku jamin kau akan berenergi kembali esok harinya. Dan jika kau lelah, istirahatlah karena para sahabat Rasul pun saat lelah mereka beristirahat, namun dalam shalatnya. Satu lagi, jika kau benar-benar lelah memikul amanah langit ini, maka berdoalah pada Allah, bukan untuk diringankan bebannya, tapi berdoalah agar Allah menguatkan punggungmu untuk memikul beban dakwah ini. satu lagi adikku, hentikanlah langkah perjuanganmu bila kau benar-benar menginjakkan kaki di Syurga”, namun itu hanya mimpiku saja, karena kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut kakakku yang dulu aku bangga-banggakan sebagai seorang aktivis dakwah. Aku miris, saat berkata kepada teman-teman seperjuanganku. Kakakku dulu juga seorang aktivis dakwah. Mengapa harus ada kata dahulu.
Kak, sungguh aku rindu saat kau bercerita dengan semangatnya tentang kegiatan-kegiatan dakwahmu dikampus. Tentang syuro-syuro malammu untuk menyusun strategi dakwah bersama teman-teman ikhwanmu. Sungguh aku rindu saat kau meneleponku dan berkata ”Dik, bagaimana tilawahnya?sudah 1 juz?, bagaimana dengan hapalannya? Ayo kita murojaah bersama”.
01 Juni 2009
Islam dalam pandanganku . . .
baanyak hal . . .
dari islamlah kutemukan arti hidup
kutemukan tujuan hidup ku . . .
kenapa aku hidup
kenapa aku ada didunia yang indah ini
siapa penciptaku?
siapa pencipta alam raya yang tak terhingga luasnya?
dahulu . . .
dalam kejahiliahanku . . .
islamku hanyalah ritual . . .
pacaran pun kuanggap syar'i . . .
waktu hidupku yang berharga pun kubuang sia - sia . . .
sombong, besar diri, tinggi hati, ghibah, rofats, dan semacamnya . . .
itulah keseharianku . . .
saudaraku pernahkan berpikir . . . kemana setelah hidup? bagaimana nasib orang-orang terdahulu kita yang telah mati, telah terlebih dahulu menjalani hidupnya?
ada yang bilang kehidupan adalah siklus, akan ada reinkarnasi, akan ada kehidupan-kehidupan selanjutnya setelah kematian kita . . . apakah ini yang membuat begitu banyak orang menjalani hidupnya dengan kesia-siaan dan kesenangan-kesenangan, namun dalam kondisi yang hina??
kalau memang kehidupan itu bagai siklus reinkarnasi, kenapa pula ada orang yang begitu rakus dengan harta, kekuasaan dan berbagai atribut kematerian yang ada di dunia seolah-olah kehidupan baginya adalah sekali dan ia adalah sesuatu yang harus dinikmati . . .
BAGAIMANA KALAU KITA KALAH BERTARUH?
Islam mengajariku cara terbaik untuk menjalani hidup
menjalani kehidupan dengan penuh kemuliaan
Islam memperkenalkanku pada Allah subhanahu wata'ala
yang setiap perintahNya
yang setiap ucapanNya
setiap ilmuNya
adalah kenikmatan tiada tara
Islam memperkenalkanku pada
Sang Penguasa Sejati
Penguasa dan Pemelihara Semesta Alam yang tak bertepi ini
Islam tidak menginginkan kita, manusia yang lemah ini
untuk menghinakan diri, mengabdikan diri pada sesuatu yang rendah
apakah itu kepada syahwat kita
harta
pangkat
jabatan
kekuatan
kekuasaan
wanita
penghormatan
atau pun menjadi budak dari orang lain
ataupun budak dari patung berhala yang tidak berdaya
tidak pula untuk paham-paham bodoh tak bermakna
liberalisme
komunisme
dan berbagai macam isme-isme yang aneh itu
Allah Sang Pencipta kita menghendaki agar
kita terbebas dari penghambaan terhadap sesama makhluk menuju penghambaan hakiki
kepada sang Penguasa Waktu, Penguasa seluruh Kejadian
Sang Maha Pencipta, yang Amat menyayangi kita . . .
Melalui Islam ini, Allah menghindarkan kita dari kedzoliman agama-agama lain
menuju keadilan Islam
menuju kemuliaan yang hakiki
Ya Allah, betapa Engkau menyayangi kami . . .
namun betapa durhakanya kami untuk mengingkari Mu ya Robb . . .
Berikan kami petunjukmu
berikan kami Hidayahmu
satukan kami untuk berjuang di jalan Mu
untuk Menegakkan KEMBALI KEKUASAANMU di BUMI dan di ALAM RAYA INI
beri kami ke istiqomahan
beri kami ketabahan
beri kami kelapangan hati
kelapangan pikiran
untuk melaksanakan tugas muliaMu
menerima ilmuMu
Berikan hamba kematian yang indah
Syahid
menjadi mujahid dijalan juang Mu
...
...
.
28 Mei 2009
Wisata SEO Sadau
Terhitung belum ada 3 bulan saya membuat blog dan ini baru pertama kalinya mencoba mengikuti kontes SEO, yang diadakan oleh KOMUNITAS BLOGGER TARAKAN, hadiahnya lumayan juga sih . . .
Sesuai persyaratan dari lomba SEO, maka saya mulai pembahasan tentang daerah wisata di Tarakan . . . (sepertinya bapak saya pernah ke sana deh) ...
Kontes ini disponsori oleh :
1. Web Bisnis OnLine, informasi bermacam-macam bisnis internet online
2. Web Info Kerja Kaltim, informasi lowongan kerja di Kalimantan Timur
Peta Kota Tarakan
Klik untuk melihat gambar dalam ukuran sebenarnya
Geografis Tarakan
Luas Pulau Tarakan adalah 241,5 kilometer persegi dengan jumlah penduduk berdasarkan data yang ada pada Dinas Pendaftaran Penduduk Kota Tarakan per - Juni 2005, jumlah penduduk Kota Tarakan mencapai 161.100 jiwa, terdiri dari laki-laki = 87.411 jiwa dan wanita = 73.689 jiwa. Sedangkan letaknya terbentang antara 19-20o Lintang Utara dan 34-38o Bujur Timur dan luas daratan = 250,80 km
luas laut = 406,53 km, dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara = Pesisir Pantai Kec. P. Bunyu
Sebelah Timur = Kec. P. Bunyu dan Laut Sulawesi
Sebelah Selatan = Pesisir Pantai Kec. Tanjung Palas
Sebelah Barat = Pesisir Pantai Kec. Sesayap
Mari mengenal lebih dekat dengan obyek-obyek wisata di Tarakan . . .
Yang pertama dan yang paling terkenal dari kota Tarakan adalah Bekantannya yang berada di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove. Hutan Mangrove tersebut sebagian terletak di tengah kota yang disebut Kawasan Wisata Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Kawasan konservasi ini berlokasi di Jalan Gajah Mada. Dan sebagian KKMB terletak di pinggir pantai, namun KKMB yang berada di pinggir pantai ini tidak bisa dimasuki secara langsung karena pantainya berlumpur dan berair. Namun pengelola KKMB membuat semacam jembatan kayu sepanjang 2400 meter yang meliuk-liuk melintasi hutan Mangrove ini. Pengunjung yang datang ke KKMB dapat berjalan di atas jembatan kayu selebar 1 meter untuk mengitari areal seluas 21 hektare. Untuk masuk pengunjung dikenai tariff murah meriah, cuma Rp 1.500 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak (harga pada maret 2007, mungkin udah naik kali ya. . ).
KKMB ini tidak hanya melulu pohon-pohon mangrove yang cukup lebat dan tinggi, tapi juga banyak pohon-pohon lain yang tumbuh disana. Setiap pohon ditempeli papan yang bertuliskan jenis pohon tersebut baik nama Indonesia maupun lain. Beberapa siswa sekolah sering datang ke lokasi ini untuk wisata ilmiah dengan mencatat dan mengenali nama-nama pohon beserta nama latinnya.
Dan tentu saja di dalam KKMB ini terdapat bekantan, atau disebut "monyet Belanda" oleh penduduk setempat, karena mempunyai hidung yang mancung. Jumlah bekantan yang ada pada 2007 ada 45 ekor, dan masing-masing mempunyai nama sendiri.
Selain bekantan di KKMB juga punya koleksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), sedikitnya 13 spesies kepiting, koloni ikan gelodok atau tempakul (Mudskipper periopthalmus sp), elang bondol (Heliastur indus), dan raja udang. Bahkan pada saat air pasang, suka ada buaya muara yang tersasar masuk ke lokasi KKMB. Namun karena jarak antara jembatan kayu dengan air lumpur cukup tinggi, keberadaan buaya tidak membahayakan pengunjung. Karena ia tetap berada dilumpur.
sumber : http://www.koranbekasi.com/2008/07/21/melihat-hutan-mangrove-kota-tarakan/
Info lengkap silahkan anda mengakses web kota Tarakan, DISINI
Ada juga penangkaran buaya di Juata (lihat di Peta) . . .
Obyek wisata yang lain, kebetulan masih ada di Juata adalah Bunker Peninggalan Jepang di Bandara Juata. Selain Bunker ini ada juga Meriam dan Benteng Pertahanan Belanda. Foto-foto sebagai berikut :
Benteng Meriam Ex-Perang Dunia II dan Tangsi
Menurut sejarah, Pulau Tarakan merupakan salah satu pulau yang pertama kali didarati pasukan Jepang pada tanggal 2 Februari 1942 bersama Balikpapan. Namun sebelum Jepang masuk, Tarakan sudah dikuasai Belanda. Tarakan merupakan tempat yang sangat strategis dan posisinya sangat menguntungkan bagi tujuan pertahanan sekaligus berbahaya karena dekat dengan perbatasan (negara luar). Dari Perang Dunia II itu Tarakan banyak menyimpan peninggalan-peninggalan seperti meriam dan tangsi yang tersebar di segenap penjuru pulau. Namun yang paling banyak dijumpai adalah di daerah Tanjung Pasir. Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikannya, benda-benda tersebut masih terpelihara dengan baik. (gambar tidak tersedia)
Pantai Wisata Amal
Pantai dengan hamparan pasir putih (kekuningan) yang luas ini terletak di sisi Timur pulau. Pada hari Minggu atau hari libur lainnya pantai ini dipadati pengunjung untuk sekedar mengagumi panorama pantai dan perahu layar sambil menikmati ubi goring dan kelapa muda yang banyak dijajakan di sana. Ada pula event yang sering digelar seperti motocross dan pesta laut tahunan Erau.


Dan yang paling menarik, dan yang membuat KONTES SEO SADU ini muncul adalah . . . tentu saja Pulau Sadau (lihat Peta),
dari berbagai sumber :
http://watioffset.blogspot.com/2005/12/tarakan-antara-pesona-dan-sejarah.html
http://www.tarakankota.go.id/



